facebook

Menaker: Pelatihan Vokasi Punya Kualitas Sendiri

Fabiola Febrinastri
Menaker: Pelatihan Vokasi Punya Kualitas Sendiri
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri, saat menjadi pembicara dalam "Kompas100 CEO Forum 2018", di JCC, Jakarta, Selasa (27/11/2018). (Dok: Kemnaker)

Pelatihan vokasi menjadi jalan cepat untuk meningkatkan kompetensi.

Suara.com - Pelatihan vokasi menjadi salah satu terobosan pemerintah untuk mendorong peningkatan kompetensi SDM Indonesia. Dengan berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan pendidikan formal, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri menyebut, pelatihan vokasi itu keren.

"Tantangannya, satu soal image. (Pelatihan) Vokasi dianggap kelas dua, sehingga kita perlu bersama-sama memastikan bahwa vokasi ini punya kualitas sendiri," katanya, saat menjadi pembicara dalam "Kompas100 CEO Forum 2018", di JCC, Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Menurut Hanif, beberapa keunggulan pelatihan vokasi dibandingkan pendidikan formal di antaranya, pertama, pelatihan vokasi memiliki durasi waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan pendidikan formal. Kedua, pelatihan vokasi berbasis demand driven (sesuai dengan kebutuhan industri).

Keunggulan tersebut yang dianggap Hanif dapat menjadi solusi bagi angkatan kerja Indonesia yang masih didominasi lulusan SD-SMP.

Baca Juga: Angkat Potensi Kopi Lampung, Kemnaker Gelar Pelatihan Barista

"Pelatihan vokasi menjadi jalan cepat untuk meningkatkan kompetensi yang berkualitas dari SDM kita," kata Hanif.

Berdasarkan data BPS, dari 131 juta angkatan kerja Indonesia, 58 persennya adalah lulusan SD-SMP. Kondisi tersebut menyebabkan angkatan kerja Indonesia terjebak pada pekerjaan low-midle trap, dimana mereka tidak bisa lagi up grade ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, karena terbatas oleh syarat minimal pendidikan dan batas maksimal usia.

Untuk mengatasi persoalan angkatan kerja tersebut, pemerintah menggenjot pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK). Salah satunya dengan penguatan akses pelatihan, yaitu dihapusnya syarat minimal pendidikan dan syarat maksimal usia, sehingga siapapun dapat mengikuti pelatihan di BLK.

"Kalau tidak kita lakukan, tentu ini (peningkatan kompetensi) akan membutuhkan waktu lebih lama," ujar Hanif.

Selain memperkuat akses, Kemnaker juga memperkuat mutu pelatihan vokasi, yakni dengan menerapkan program 3R (Reorientasi, Revitalisasi, dan Rebranding) BLK.

Baca Juga: Kemnaker Ajak Semua Pihak Antisipasi Revolusi Industri 4.0

Hanif mencontohkan BLK yang telah menerapkak program ini. Pertama, BBPLK Semarang yang dulu menyelenggarakan program pelatihan menjahit, kini telah di-up grade menjadi fashion technology.