Curhat Emak-emak Kampung Akuarium: Enakan Zaman SBY, Jokowi Menyakitkan

Agung Sandy Lesmana | Stephanus Aranditio
Curhat Emak-emak Kampung Akuarium: Enakan Zaman SBY, Jokowi Menyakitkan
Supiati, warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara. (Suara.com/Tio)

"Saya kemarin di tenda, tikus aja sampai gigit tiap malem, dibanding di bedeng kayak gini, ya lebih layaknya sekarang," tutupnya

Suara.com - Supiati (37), warga gusuran Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara menyebut Presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden yang paling baik. Sementara, Presiden Jokowi menjadi yang paling menyusahkan.

Supiati yang sudah tinggal di Kampung Akuarium sejak 1999 merasa SBY menjadi presiden yang paling memahami kesejahteraan warga Kampung Akuarium.

"Pak Harto sempat ngerasain juga enak, Bambang (SBY) saya masih ngerasain juga enak, Mega mah parah tapi enggak segitu-gitunya juga, kalau Gus Dur juga enak sih, yang enggak enak yang Jokowi doang, bener lho," kata Supiati kepada Suara.com, Selasa (16/4/2019).

Perantau asal Makassar, Sulawesi itu mengatakan sejak era Jokowi banyak kehidupannya yang berubah, mulai dari harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi hingga puncaknya penggusuran Kampung Akuarium pada 2016. Bahkan, Supiati mengaku hingga kini suaminya tak memilik pekerjaan tetap alias menganggur.

Supiati, warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara. (Suara.com/Tio)
Supiati, warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara. (Suara.com/Tio)

"Sama saja, tidak ada perubahan malah menyakitkan, malah hancur, kalau masih SBY kerjaan laki saya masih tetap, ke Jokowi ini, (kehidupan saya) waduh, ancur, sampai sekarang suami saya noh enggak kerja, sejak digusur kemarin zamannya Ahok," jelasnya.

Dia mengaku sebenarnya sempat mendukung Jokowi pada Pilkada DKI 2012 dan Pilpres 2014, namun saat penggusuran tahun 2016 ia sempat juga ditawarkan Pemprov DKI Jakarta yang saat itu dipimpin gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk pindah ke rumah susun Cakung Barat, Jakarta Timur.

Namun, ia memilih tetap bertahan di tenda pengungsian Kampung Akuarium dengan alasan anaknya tidak mau pindah sekolah dan susah mencari mata pencaharian baru di rusun.

"Saya kemarin di tenda, tikus aja sampai gigit tiap malem, dibanding di bedeng kayak gini, ya lebih layaknya sekarang," tutupnya.

Sampai akhirnya kini Supiati sudah tinggal di rumah deret dengan dinding yang terbuat dari triplek dan kayu serta beratapkan seng yang dibangun kembali pada Februari 2018 oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS