Koteka Diusulkan Masuk Muatan Lokal Sekolah di Kawasan Pegunungan Tengah

Chandra Iswinarno

Senin, 29 Juli 2019 | 04:30 WIB
Koteka Diusulkan Masuk Muatan Lokal Sekolah di Kawasan Pegunungan Tengah
Ilustrasi Koteka. [Antara]

Suara.com - Warga di wilayah Pegunungan Tengah Papua diminta melestarikan koteka dengan memasukannya dalam ajaran muatan lokal di sekolah yang ada di wilayah tersebut. Hal tersebut disampaikan Peneliti Balai Arkeologi Papua Hari Suroto pada Minggu (28/7/2019.

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air, Lagenaria siceraria. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata ini bermakna "pakaian" berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai

Untuk diketahui luasan Pegunungan Tengah tersebut meliputi sepuluh kabupaten yaitu Jayawijaya, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Tolikara, Yahukimo, Nduga, Yalimo, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, dan Puncak.

"Salah satu cara untuk melestarikan koteka adalah dengan mengajarkannya di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah di daerah Pegunungan Tengah Papua," katanya seperti diberitakan Antara.

Hari menyebut untuk memasukan koteka sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di daerah Pegunungan Tengah Papua, perlu dibuat buku muatan lokal koteka serta perlu disusun kurikulum muatan lokal koteka.

"Dengan mengajarkannya pada generasi muda, diharapkan agar budaya koteka tidak hilang karena jumlah pemakai koteka di Papua semakin menurun," ujarnya.

Walaupun, kata dia, penggunaan koteka sebagai pakaian tradisional semakin berkurang, tetapi saat ini suku-suku di pegunungan tengah Papua masih banyak yang menanam labu air sebagai bahan koteka.

"Labu ini masih ditanam oleh suku Dani, suku Mee, suku Amungme, Suku Lani, Suku Yali dan Suku Mek," katanya.

Generasi muda di pegunungan tengah Papua saat ini, menurut dia, sebagian tidak berkoteka dari usia balita hingga dewasa. Bahkan, sebagian dari mereka tidak mengetahui tentang budaya berkoteka yang merupakan warisan nenek moyang.

baca juga

Hari menambahkan, pada masa mendatang dikhawatirkan labu pembuat koteka hanya akan menjadi sayur untuk dikonsumsi, sebagai obat tipes atau obat sakit tenggorokan, serta koteka dijual sebagai souvenir.

Untuk itu, menurutnya, diperlukan langkah konkrit guna melestarikan koteka yakni dengan diajarkannya di sekolah-sekolah. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Arkeolog Risau Orang Papua Mulai Tinggalkan Koteka

Arkeolog Risau Orang Papua Mulai Tinggalkan Koteka

Tekno | Minggu, 14 Juli 2019 | 07:35 WIB

Stafsus Jokowi: Anak Koteka Masuk Istana, Jangan Minder

Stafsus Jokowi: Anak Koteka Masuk Istana, Jangan Minder

News | Sabtu, 19 November 2016 | 19:07 WIB

Terkini

Dari Adu Teknik Memasak hingga Meracik Kopi, Chef Dunia Bersaing di Jakarta

Dari Adu Teknik Memasak hingga Meracik Kopi, Chef Dunia Bersaing di Jakarta

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 01:49 WIB

LPPOM Tak Ingin Sertifikasi Halal Berhenti Jadi Label, UMKM Didorong Naik Kelas

LPPOM Tak Ingin Sertifikasi Halal Berhenti Jadi Label, UMKM Didorong Naik Kelas

News | Sabtu, 07 November 2026 | 01:37 WIB

Camat Diminta Kerja Super Keras dan kolaboratif, Ini Pesan Kemendagri

Camat Diminta Kerja Super Keras dan kolaboratif, Ini Pesan Kemendagri

Jabar | Jum'at, 06 November 2026 | 23:30 WIB

Lolos Semifinal Porprov XV Jabar, Tim Basket Putri Kabupaten Bogor Siap Tantang Juara Bertahan

Lolos Semifinal Porprov XV Jabar, Tim Basket Putri Kabupaten Bogor Siap Tantang Juara Bertahan

Jabar | Jum'at, 06 November 2026 | 23:23 WIB

Dukung Swasembada Pangan, Tim Patriot UB Bangun Rumah Bibit Tangguh Iklim di Sorong

Dukung Swasembada Pangan, Tim Patriot UB Bangun Rumah Bibit Tangguh Iklim di Sorong

News | Jum'at, 06 November 2026 | 23:18 WIB

Profil PT Andalan Artha Primanusa Tbk (ANDA), Kontraktor Tambang Incar IPO Rp316 Miliar

Profil PT Andalan Artha Primanusa Tbk (ANDA), Kontraktor Tambang Incar IPO Rp316 Miliar

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 23:09 WIB

Komplotan Begal Bersajam yang Rampok Motor Wanita di Deli Serdang Ditangkap

Komplotan Begal Bersajam yang Rampok Motor Wanita di Deli Serdang Ditangkap

Sumut | Jum'at, 06 November 2026 | 23:06 WIB

Perempuan Sulawesi Bersuara Desak Moratorium Izin Tambang dan Perlindungan Hutan Hujan

Perempuan Sulawesi Bersuara Desak Moratorium Izin Tambang dan Perlindungan Hutan Hujan

Sulsel | Jum'at, 06 November 2026 | 22:59 WIB

Sebelum Memilih Asuransi Kendaraan, Perhatikan 3 Hal Ini agar Tak Repot Saat Klaim

Sebelum Memilih Asuransi Kendaraan, Perhatikan 3 Hal Ini agar Tak Repot Saat Klaim

Lifestyle | Jum'at, 06 November 2026 | 22:50 WIB

Erdin Werdrayana Gugup Lakoni Intimate Scene Bareng Alexandra Gottardo di Series Asmara Penuh Dendam

Erdin Werdrayana Gugup Lakoni Intimate Scene Bareng Alexandra Gottardo di Series Asmara Penuh Dendam

Entertainment | Jum'at, 06 November 2026 | 22:49 WIB

×