Orasi Budaya Garin Nugroho: 5 Paradoks Revolusi Industri Digital

RR Ukirsari Manggalani | Ummi Hadyah Saleh | Suara.com

Kamis, 08 Agustus 2019 | 08:18 WIB
Orasi Budaya Garin Nugroho: 5 Paradoks Revolusi Industri Digital
Garin Nugroho membacakan orasi budaya dalam ulang tahun AJI ke-25 [Suara.com/Ummi Hadyah Saleh].

Suara.com - Sutradara Garin Nugroho menghadiri Malam Resepsi Ulang Tahun ke 25 Tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Hotel JS Luwansa Jakarta, Rabu (7/8/2019) malam.

Di acara ini, Garin membacakan orasi budaya dengan tema "Hilangnya Kemampuan Menarasikan Realitas Bangsa dan Tantangan di Era Milenial".

Ketua Umum AJI Abdul Manan di malam resepsi ulang tahun ke-25 AJI di Hotel JS Luwansa, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019). (Suara.com/Umay Saleh)
Ketua Umum AJI Abdul Manan di malam resepsi ulang tahun ke-25 AJI di Hotel JS Luwansa, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019). (Suara.com/Umay Saleh)

Garin menuturkan salah satu cara membaca masa depan adalah menengok ke belakang untuk membaca bagaimana daya hidup bangsa Indonesia mengelola momentum perubahan di setiap periode sejarah, khususnya dalam hubungannya dengan revolusi Industri berbasis teknologi.

Kata Garin, membaca Indonesia di era revolusi industri 1.0 juga ditandai dengan mesin uap serta pergantian tenaga manusia dengan mesin.

Membaca Indonesia yang dahulu disebut Hindia Timur di era VOC yang dinarasikan lewat beragam media dari sketsa dan lukisan Raden Saleh tentang beragam jenis flora hingga fauna, lukisan Mooi Indie, novel Conrad tentang gambaran manusia Melayu, catatan perjalanan, sketsa perang sebutlah perang Jawa, catatan riset, iklan turisme, seni pertunjukan, koran–koran maupun fotografi dan film. Bahkan penyebutan nama Indonesia di mulai di jurnal ilmiah ilmuwan Berlin.

Dengan kata lain, Garin mengatakan keindonesiaan di era 1.0 dinarasikan oleh beragam bentuk media, layaknya perspektif jurnalisme era 4.0 yang menuntut jurnalisme dalam perspektif multimedia, menggabungkan teks, suara hingga visual.

"Sejarah juga mencatat, revolusi teknologi senantiasa melahirkan paradoks, sebutlah antara lompatan versus ketertinggalan, harapan versus tragedi, penemuan versus kehilangan hingga penguasaan teknologi versus ketimpangan akses," ujar Garin Nugroho dalam orasinya.

Karenanya muncul pertanyaan sederhana, apakah bentuk–bentuk narasi di era 1.0 ini mampu menarasikan realitas sosial ekonomi dan politik periode awal liberalisme ekonomi terbesar itu.

Garin mengatakan sejarah mencatat, liberalitas ekonomi berbasis revolusi indusri 1.0 menunjuk hilangnya narasi perihal realitas ketimpangan hingga ketidakpuasan sosial ekonomi beserta tragedi kemanusiaannya.

Kenyataan ini, kata Garin mulai terungkap lewat munculnya desakan politik etis awal abad 20 yakni ditandai lahirnya beragam narasi, meski sangat minoritas, lewat novel hingga koran–koran.

"Sebutlah novel Multatuli maupun tulisan–tulisan generasi awal jurnalis seperti Tirto Adhi Soeryo. Haruslah dicatat, peran jurnalis 1.0 adalah pemberi narasi humanisme di tengah perubahan sosial ekonomi dalam revolusi industri yang penuh paradoks," tutur Garin.

Laman berikut membincangkan soal kaum Bumi Putera dalam bertahan terhadap VOC, hingga Microsoft.

Garin mengatakan sejarah menunjukkan, sejak revolusi Industri 1.0 menjadikan banyak negara Eropa bertumbuh pesat kesejahteraan ekonominya untuk membangun serta menata dasar struktur serta superstruktur peradaban baru.

Misalnya kata Garin, kekayaan VOC sebagai korporasi ekonomi liberal terbesar dalam sejarah, kekuasaan VOC melebihi kekuasaan ekonomi Microsoft sekarang ini ataupun Petro China hingga Arab.

Logo Microsoft (Shutterstock)
Logo Microsoft (Shutterstock)

Selain itu, Garin menyebut peradaban menunjukkan bahwa realitas ekonomi dan sosial di Hindia Timur saat itu menunjukkan sebaliknya, banyak aspek hilang dalam narasi abad itu.

Pertama kata dia, kaum Bumi Putera kehilangan tanahnya dan bekerja sebagi buruh di perkebunan untuk tanaman eksport, namun upah tidak cukup memadai untuk batas minimum kehidupan.

Kemudian kedua, akses terhadap modal, teknologi baru dan produktivitas dikuasai elit ekonomi dan politik, yakni China dan Barat.

Ketiga, beragam jenis pajak ditumbuhkan untuk menarik modal ekonomi lewat kerja sama dengan elit penguasa lokal, rakyat menjadi sapi perahan. Keempat, sebagian para pejabat pribumi bukan pemberdaya dan melayani rakyat, namun dilayani rakyat untuk kekayaan pribadi serta kesejahteraan korporasi global. Kelima, menjamurnya korupsi baik pejabat lokal ataupun VOC dalam pola kerjasama yang sistemik.

"Keenam, liberalisme ekonomi dan kapitalisme dengan daya pegas revolusi teknologi baru tenyata tidak cukup memberi kesejahteraan umum masyarakat pribumi. Mesin uap lewat kereta api dan kapal serta infrstruktur jalan justru menjadi kepanjangan global mengambil kekayaan dan memeras tenaga rakyat yang semakin tidak sejahtera," ucap Garin.

Warisan itu, kata Garin Nugroho layak diberi garis bawah sendiri di tengah awal revolusi 4.0.

"Inilah sebuah warisan sangat kompleks revolusi Industri 1.0 yang jejaknya pasti terus hidup hingga sekarang. Meski, harus diakui, revolusi indusri 1.0 melahirkan, manusia genuine, meski sedikit, mampu melahirkan negara ini beserta kelengkapan pertumbuhan sebagai sebuah bangsa, termasuk para jurnalis humanis yang kemudian banyak masuk di politik. Dengan kata lain, jurnalisme ditumbuhkan oleh, untuk dan dari humanisme," tuturnya.

Hilangnya Keseriusan Membangun Dasar Perubahan

Garin menyebut salah satu dasar pertumbuhan peradaban bangsa adalah kemampuan mengolah kebangkitan di setiap momentum perubahan untuk meletakkan dasar struktur dan superstruktur bagi peta baru peradaban.

Dengan bangunan dasar di setiap perubahan, kata dia, sebuah bangsa mampu mendobrak secara struktural ketidakadilan serta ketimpagan sosial ekonomi.

"Jika kerja serius dan struktural ini tidak terjadi, teknologi baru atau revolusi industri 4.0 sekedar menjadi euforia penuh jargon, kemudian menjadi iming–iming serta narasi semu menutupi ketidaksiapan dan ketidakmampuan menghadapi jaman baru atau hanya menjadi topeng alias hiasan permukaan," kata Garin Nugroho.

Tak hanya itu, Garin mengatakan lewat kekayaan yang bertumbuh exponensial era liberalisme ekonomi 1.0, sebagian besar bangsa Eropa mampu memanfaatkan momentum tadi untuk menumbuhkan masyarakat sipil yang produktif dan kritis sekaligus membangun manajemen talenta manusia beragam profesi.

Garin mengatakan salah satu bangunan menjaga masyarakat sipil kritis dan produktif adalah membangun institusi publik, guna warga bangsa mampu mengolah, mengkontruksi dan dekonstruksi narasi bangsanya, baik lewat sumber foto, film, lukisan hingga beragam bentuk data dan informasi.

"Sebutlah lewat tersedianya beragam museum dan galeri hingga institusi kajian data. Dengan demikian mampu secara produktif mengelola perubahan jaman," ucap Garin Nugroho.

Sementara di Indonesia, kata Garin ketidakmampuan serta ketidakseriusan membangun masyarakat sipil beserta institusinya di setiap periode pertumbuhan ekonomi, menjadikan revolusi industri berbasis teknologi tidak bertumbuh linear, namun campur aduk, paradoks serta penuh goncangan dengan dampak tak terkendali.

Sebutlah, meski abad 21 ini disebut sebagai revolusi industri 4.0, ditandai dengan internet thinking dan online, namun realitas sehari-hari didominasi campur aduk karakter industri 2.0 dan 3.0.

"Perlu dicatat, era 2.0 ditandai dengan listrik dan industri masal, sementara era 3.0 ditandai dengan komputerisasi dan otomatisasi," ucapnya.

Ia menduga situasi campur aduk penuh paradoks ini, melahirkan kehilangan panduan serta dasar pertumbuhan berbagai sendi kehidupan berbangsa yang kompleks, ditambah lagi warisan revolusi industri 1.0 yang belum terpecahkan.

Menurutnya, catatan khusus perihal kehilangan dan ketimpangan bisa dilihat di era Presiden Soeharto.

Menjadi kenyataan, bahwa institusi–institusi data, informasi dan narasi berbangsa dikuasi oleh pemerintah bukan oleh masyarakat sipil. Narasi menjadi tunggal dan seragam sesuai dengan keinginan kekuasaan, menutupi berbagai ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik.

Laman berikut berbincang soal televisi swasta dan globalisme lewat satelit.

"Sebutlah pada aspek daya hidup budaya popular era 1990-1998, ketika lahir televisi swasta, internet dan globalisme lewat satelit, menjadikan informasi global tidak bisa dikontrol untuk masuk Indonesia. Krisis dan kematian beragam budaya popular terjadi, sebutlah kematian komik–komik seperti "Si Buta dari Gua Hantu", dan sejenisnya oleh masuknya komik Jepang. Demikian juga novel lokal hingga film. Persoalannya, Indonesia membutuhkan waktu untuk mambangkitkan kembali layaknya dari nol mata rantai produsen dan konsumen yang telah rusak," kata Garin Nugroho.

Lebih lanjut, kenyataannya, bahwa revolusi Industri berbasis teknologi selalu berkait erat dengan korporasi ekonomi serta demokrasi.

Ilustrasi demokrasi. (Shutterstock)
Ilustrasi demokrasi. (Shutterstock)

"Kenyataan ini melahirkan pertanyaan: Apakah proses demokrasi yang terjadi adalah untuk rakyat, oleh rakyat dan dari rakyat? Atau oleh elit kekuasaan, untuk kekuasaan dan dari kekusaan? Atau dari korporasi, untuk dan oleh kepentingan korporasi?," ucapnya.

Garin Nugroho menuturkan, sejarah Indonesia senantiasa mencatat, di setiap momentum perubahan zaman, impian demokratisasi untuk dan dari rakyat, selalu tertekan dan kalah oleh kekuasaan militer dan politik atau juga oleh kekuasaan korporasi, ataupun penggabungan ketiga kekuatan itu.

Terkait hal ini, catatan penting adalah aspek kebanalan media televisi pasca 1998, di tengah euforia demokrasi pasca lengsernya Presiden Soeharto. Kata dia, era televisi menjadi primadona, melahirkan era masyarakat televisi serta era masyarakat hiburan.

Garin menyebut pada periode pasca 1998, dirinya menjabat sebagai ketua televisi publik Indonesia dan ditunjuk USAID menjadi Koordinator NGO media untuk demokrasi Indonesia.

Lingkup kerjanya kata Garin adalah mengkoordinasi pemilu damai, lewat civic education hingga mendorong lahirnya institusi demokrasi berkait media demokrasi, sebutlah penghitungan cepat langsung pada pemilu, berdirinya KPI, hingga mendorong terbentuknya platform demokrasi media, yakni bangunan televisi publik, swasta dan komunitas.

Namun realitas berbangsa menunjukkan hal lain, periode pasca 1998 kata Garin televisi swasta menjadi primadona, sementara televisi publik dan komunitas yang berperan menumbuhkan nilai-nilai publik kehilangan peran.

"Televisi seakan menjadi medium satu-satunya cermin demokrasi. Muncul adegan salah kaprah, bahwa sekiranya tampilan televisi tidak seru, maka demokrasi juga tidak seru. Hal ini menunjukkan, bahwa setiap kali muncul teknologi informasi dan komunikasi baru berbasis kemampuan mengelola massa, maka menjadi euforia ketergantungan tunggal yang banal," kata Garin.

Kemudian, penetrasi korporasi lewat sponsor di televisi perlahan mematikan etika publik dan etika profesi sebagai dasar masyarakt sipil yang kritis dan produktif.

Ia mencontohhkan adanya pembiaran cara-cara bersponsor yang melanggar etika beriklan, dari jumlah hingga peletakkan maupun penyajian. Kemudian cara peliputan yang melanggar hak pribadi dan hilangnya etika politik dalam debat Presiden.

"Di negara beradab, debat Presiden dilakukan di televisi publik tanpa sponsor. Akibat lebih jauh, warga bangsa sering kehilangan panduan komunikasi berbangsa di berbagai situasi krisis dan bencana, karena hilangnya peran komunikasi publik terganti lomba kompetisi pameran perhatian atas berbagai peristiwa oleh televisi swasta," tutur Garin.

Lanjut Garin Nugroho, era televisi yang banal dengan etika rendah menjadikan warga bukan warga negara tetapi warga penonton sekaligus warga penggemar dan warga konsumen. Selain itu, melahirkan juga panggung politik di televisi sebagai tontonan.

"Akibatnya, pemimpin diimpikan layaknya diva hiburan oleh penggemarnya. Lebih jauh lagi, kepemimpinan politik tidak lagi bisa dinilai atas nilai keutamaan kepemimpinan berbangsa, namun dinilai dalam rumusan Diva, yakni satu unsur popular yang dicintai dengan posesif, mengabaikan persyaratan keutamaan yang lain," tutur Garin Nugroho.

Kultur Diva kata Garin juga menjadikan hilangnya kultur dialog dan mendiskripsikan kelemahan dan kekuatan tokoh politik.

Pada sisi lain, kultur rating dalam era televisi banal, melahirkan pengumpulan massa yang semakin pragmatis tanpa disertai kuatnya ekosistem etika profesi dan media.

"Artinya sistem ilmu pengetahuan membaca massa, bertumbuh dalam kerja demokrasi banal. Pada gilirannya, televisi menjadi cermin kabanalan demokratisasi negeri ini. Catatan di atas sesungguhnya menjadi dasar pertumbuhan revolusi industri 4.0," kata dia.

Narasi Maya, Politikus Medsos

Garin Nugroho mengatakan periode setahun ini, banyak kajian dan tulisan perihal revolusi industri 4.0.

Revolusi industri itu mengisyaratkan akan membawa perubahan cara hidup dan menghidupi beragam aspek kehidupan dengan beragam paradoksnya.

Tercatat kata dia, begitu banyak perspektif kehilangan, sebutlah semakin hilangnya alamat rumah diganti dengan alamat email, mundurnya peran merk diganti influencer, menurunnya ritel berganti dengan belanja online.

Selanjutnya Garin Nugroho mengatakan dalam jurnalisme, menjamurnya jurnalisme warga di media sosial.

"Demikian juga dalam jurnalisme, jurnalisme warga lewat medsos menjamur, mendorong relasi tersendiri antara jurnalis profesional dengan warga," ucapnya.

Ia mengatakan, di sisi lain, terjadi lompatan lompatan baru yang luar biasa.

Bahkan kata milenial menjadi jargon politik yang seakan membawa bangsa menjadi negara besar dunia berbasis berbagai kenyataan yang lebih pada kuantitas, sebutlah jumlah pengguna internet lebih dari 140 juta hingga bertumbuhnya usia milenial (18-38) mencapai 35 persen, bahkan tahun 2020 mencapai porsi 70 persen tenaga kerja Indonesia.

Namun yang patut mendapat catatan tersendiri, era milenial mendapatkan medium terbesar politik, yakni di pemilu langsung dan serentak 2019. Sebuah pemilu di tengah politik identitas, post truth dan semua serba hybrid.

Laman berikutnya, adalah tentang "Negara Melodrama" yang ditulis Garin Nugroho menjelang Pemilu 2019.

"Dalam komentar saya pada ANTARA di awal proses pemilu, saya katakan bahwa pemilu ini akan menjadi pemilu banal menyisakan konflik horizontal yang besar, politik uang masif dan penggunaan media sosial tanpa etika. Paling menyedihkan, pemilu kehilangan peran civic education. Catatan ini pun saya tulis dalam buku "Negara Melodrama" yang saya terbitkan di awal Pemilu," ujar Garin Nugroho.

Garin Nugroho menuturkan membaca pemilu 2019 adalah membaca ketika teknologi kapitalis baru serba online yang dipegang di tangan warga, justru mengembangbiakkan warisan revolusi industri 1.0, 2.0 dan 3.0 serta menjadi ruang subur politik identitas dan post truth.

Ilustrasi Pemiliu 2019. [Antara]
Ilustrasi Pemilu 2019 [Antara]

Contohnya kata Garin, warga melihat pemimpin layaknya kultur penggemar, pemimpin sebagai diva, akibatnya tidak akan mungkin mendialogkan kelemahannya.

"Pada gilirannya, melahirkan dukung-mendukung yang banal serba radikal. Contoh lain adalah menjamurnya pola kampanye politik sebagai hiburan penuh kemasan. Pemilu juga menunjukkan era terbesar gabungan korporasi dengan politik dan militer, di sisi lain langkanya peran kepemimpinan humaniora di berbagai masalah berbangsa," kata Garin.

Pemilu kata dia juga mengisyaratkan, warisan melek huruf namun bukan melek baca dan melek fungsional, menjadikan media sosial sebagai ruang terbesar hoaks. Pada akhirnya, pemilu melahirkan beragam jenis pemimpin media sosial, dihidupi oleh dunia penggemar yang fanatik. Pemilu kehilangan pemimpin kebangsaan alias negarawan.

Lebih lanjut, Garin menyebut uraian kecil inimenunjukkan berbagai paradoks revolusi industri 4.0.

Pertama, kata dia, revolusi industri 4.0 di Indonesia tumbuh tidak dalam masyarakat sipil yang mempunyai kelengkapan institusi nilai-nilai publik, guna mampu mengolah, menjaga, menyesuaikan dan menganalisa setiap perubahan jaman dalam kaitannya dengan realitas berbangsa di beragam sendi kehidupan.

Kemudian kedua, revolusi industri 4.0 tidak berjalan linear, namun campur aduk dengan warisan revolusi industri 1.0, 2.0, 3.0.

Percampuran menurutnya melahirkan paradoks luar biasa. Oleh karena itu, kata Garin, membangun masyarakat adab lewat revolusi industri 4.0 selayaknya dibangun atas pembongkaran sungguh-sungguh warisan revolusi sebelumnya, sekaligus menuntut beragam managemen manusia milenial genial yang fasih teknologi baru sebagai daya hidup masa depan bangsa.

Selanjutnya ketiga, warisan rendahnya melek fungsi dan rendahnya etika profesi serta etika publik di tengah arus deras kultur masa sebagai pasar ekonomi, ataupun kultur serba masa akibat Pemilu langsung, mendorong lahirnya demokrasi massa yang sulit bertumbuh berkualitas. Demikian juga mendorong lahirnya elit politik baru, yakni politikus media sosial yang tidak cukup berkualitas serta teruji sebelumnya dalam kerja pemberdayaan langsung di masyarakat, namun terampil tampil di media sosial dan mengelola followers. Kekhawatiran ini muncul, mengingat kaderisasi partai tidak berjalan kuat dan poitik uang sangat masif dalam Pemilu.

Ia khawatir revolusi industri 4.0 hanya menjadi penyuburan mengelola massa serta ruang penyuburan demokratisasi serba maya sekaligus ruang sosialisasi kerja pemerintahan yang kehilangan narasi realitas.

"Keempat, jika kerja menuju revolusi 4.0 tidak disertai membangun dasar-dasar masyarakat sipil yang sehat, kritis dan produktif, maka jalan digital hanyalah menjadi infrastuktur layaknya infrastruktur jalan era revolusi 1.0, menjadi jalan bagi korporasi global menguras kekayaan alam dan menumbuhkan konsumerisme. Jalan digital hanya menjadi jargon keberhasilan dan kerja politik semu di media sosial, sebuah dunia maya yang berbeda dengan realitas sosial berbangsa.

Kelima, kerja membangun revolusi 4.0 kata Garin haruslah disertai strategi budaya, yakni cara pikir, bertindak dan bereakasi dalam dunia baru digital guna mewujudkan kerja serius membangun manajemen talenta baru manusia milenial Indonesia, khususnya menumbuhkan kelas menengah profesional milenial baru yang kuat dan mandiri agar tidak menjadi kelas menengah penuh ketergantungan sehingga tidak mampu mandiri ekonomi, politik dan keadilan.

Laman berikut adalah tentang warga berkewajiban mengelola momentum era milenial.

"Harus dicatat, revolusi 4.0 bertumbuh di tengah ketimpangan dan ketergantugan luar biasa, yakni 20 persen elit ekonomi menguasai seputar 70-80 persen kekayaan negara, bisa diduga elit ekonomi mampu mendikte kelas menengah profesional, terlebih juga belum terwujudnya masyarakat sipil yang kuat," tuturnya.

Garin mengatakan catatan tersebut belum menjawab beragam paradoks, namun menjadi semacam gugatan untuk semua warga bangsa berkewajiban serius mengelola momentum era milenial baru ini bagi kesehatan dan produktivitas warga bangsa.

Ilustrasi generasi milenial di sekolah. [Shutterstock]
Ilustrasi generasi milenial di sekolah. [Shutterstock]

"Untuk itu diperlukan managemen generasi milenial yang genuine, kritis dan produktif dengan bekal peta kebangsaan yang lengkap," ucap Garin.

Tak hanya itu, Garin menuturkan sejarah menunjukkan, perubahan adalah peradaban itu sendiri, namun kemanusiaan sebagai kodrat ketuhanan akan bekerja dengan caranya sendiri untuk melawan ketidakadilan yang tak pernah mati.

Sejarah juga mencatat, para jurnalis serta para penarasi bangsa lewat berbagai bentuk ekpresi dan media, meski minoritas, selalu menjadi oasis di tengah padang pasir untuk menarasikan realitas kemanusiaan dengan caranya sendiri dalam setiap periode revolusi teknologi.

"Saya tetap percaya pada kemunculan generasi milenial dengan kodrat kemanusiaan pada dirinya, sebab hanya dengan cara itu warga bangsa bisa melihat masa depan revolusi 4.0, layaknya memilah keindahan ombak yang mampu meluncurkan peradaban baru yang manusiawi atau justru keindahan ombak yang membawa tsunami," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

AJI Berikan Penghargaan ke Baiq Nuril

AJI Berikan Penghargaan ke Baiq Nuril

News | Kamis, 08 Agustus 2019 | 06:30 WIB

Garin Nugroho Jawab Petisi Boikot Film Kucumbu Tubuh Indahku

Garin Nugroho Jawab Petisi Boikot Film Kucumbu Tubuh Indahku

Entertainment | Kamis, 25 April 2019 | 19:03 WIB

Pro Kontra Garin Nugroho Maju Jadi Walikota Jogja

Pro Kontra Garin Nugroho Maju Jadi Walikota Jogja

Entertainment | Senin, 18 April 2016 | 19:54 WIB

Terkini

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:41 WIB

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:38 WIB

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:33 WIB

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:34 WIB

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:00 WIB

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:50 WIB

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:38 WIB

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:31 WIB

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:20 WIB

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:01 WIB