Bukti Baru Evolusi Ditemukan! Kera Prasejarah yang Jalan Tegak Pakai 2 Kaki

Reza Gunadha

Jum'at, 08 November 2019 | 14:54 WIB
Bukti Baru Evolusi Ditemukan! Kera Prasejarah yang Jalan Tegak Pakai 2 Kaki
Sejumlah fosil kera yang ditemukan di selatan Jerman yang diperkirakan hidup 11,6 juta tahun lalu, dapat secara dramatis mengubah pemahaman tentang evolusi manusia, yaitu berjalan tegak dengan kedua kaki atau bipedal. [picture alliance/dpa/Nature/C.Jackle/DW Indonesia]

Suara.com - Sejumlah fosil kera yang ditemukan di selatan Jerman yang diperkirakan hidup 11,6 juta tahun lalu, dapat secara dramatis mengubah pemahaman tentang evolusi manusia, yaitu berjalan tegak dengan kedua kaki atau bipedal.

Para ilmuwan pada hari Rabu (06/11/2019), mengatakan bahwa kera yang disebut Danuvius guggenmosi ini memiliki gabungan anggota tubuh manusia dan kera.

Anggota tubuh Danuvius guggenmosi pada bagian bawah berbentuk lurus yang membuatnya dapat berjalan dengan kedua kaki.

Sementara di bagian atas, ia memiliki lengan panjang seperti kera yang dapat direntangkan untuk meraih cabang-cabang pohon.

Temuan ini menunjukkan bahwa Danuvius mampu berjalan tegak dengan dua kaki, serta menggunakan keempat anggota badannya saat memanjat pepohonan.

Para peneliti mengatakan, temuan ini menunjukkan bahwa bipedalisme berasal dari nenek moyang manusia dan kera besar yang mendiami Eropa, alih-alih berasal dari leluhur di Afrika, benua tempat spesies Homo sapiens pertama kali muncul sekitar 300.000 tahun lalu. Yang termasuk kera besar adalah simpanse, bonobo, gorila dan orangutan.

Sebelum penemuan ini, para peneliti percaya bukti fosil tertua bipedalisme dalam evolusi manusia berasal dari sekitar 6 juta tahun lalu di daerah yang kini masuk wilayah Kenya, dan jejak kaki manusia di Pulau Kreta, Yunani.

Ungkap perkembangan berjalan di atas dua kaki

Fosil-fosil dari Kenya ini adalah anggota garis keturunan manusia yang telah punah yang disebut Orrorin tugenensis.

baca juga

Jika Danuvius ternyata adalah leluhur manusia, ini berarti beberapa keturunannya pada suatu saat di masa lampau telah melakukan perjalanan menuju Afrika.

"Danuvius secara dramatis mengubah pandangan tentang mengapa, kapan dan di mana evolusi bipedalitas terjadi," kata ahli paleoantropologi Madelaine Böhme dari Universitas Tübingen di Jerman, yang memimpin penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature ini.

Penemuan Danuvius menghancurkan ide yang berlaku tentang evolusi bipedalisme. Selama ini para peneliti percaya bahwa sekitar 6 juta tahun yang lalu di Afrika Timur, leluhur manusia yang berbentuk seperti simpanse mulai berjalan dengan dua kaki setelah perubahan lingkungan menciptakan bentangan terbuka dan sabana di wilayah-wilayah yang sebelumnya didominasi rimba belantara.

"Paradigma ini sekarang menurun - atau, dengan kata lain, kita telah keliru," ujar Böhme seperti diberitakan DW Indonesia.

Danuvius menunjukkan, bahwa berjalan tegak dimulai dari atas pohon, bukannya di atas tanah. Selain itu, leluhur terakhir manusia dan kera tidak melalui tahap berjalan dengan membungkuk-bungkuk seperti yang diperkirakan sebelumnya, Böhme menambahkan.

Tengkorak lengkap belum ditemukan

Ukuran Danuvius lebih kecil dari kera besar masa kini. Danuvius jantan berukuran hampir sama dengan simpanse jantan dan bonobo, berat mereka diperkirakan sekitar 30 kg.

Sedangkan yang betina lebih kecil, dengan berat diperkirakan sekitar 20 kg. Para Danuvius ini tingginya hanya sekitar 1 meter. Mereka tinggal di tempat yang pada waktu itu beriklim panas dengan bentangan alam yang datar ditutupi hutan dan sungai berkelok-kelok.

Danuvius berjalan dengan dua kaki sambil menggunakan lengannya yang panjang untuk menopang dan menyeimbangkan berat. Lengan ini tidak digunakan untuk menarik tubuh seperti yang lazimnya dilakukan kera.

"Danuvius menawarkan cara baru dalam memandang evolusi bipedalisme," kata David Begun, paleoantropolog dan rekan penulis studi dari Universitas Toronto. "Sebelum (temuan) Danuvius, kami tidak memiliki model evolusi bipedalisme yang mencakup unsur-unsur kunci baik dalam postur dan cara bergerak kera dan manusia."

Fosil dari setidaknya empat individu Danuvius ditemukan di wilayah Allgäu, negara bagian Bayern, Jerman ini menunjukkan banyak elemen kunci meski belum ditemukan tengkorak lengkapnya.

Tulang tungkai, tulang belakang, jari, dan jari kaki yang terawetkan dengan baik secara alami memungkinkan para peneliti untuk merekonstruksi cara makhluk itu bergerak di lingkungannya. Para peneliti juga dapat mempelajari sendi-sendi yang secara fungsional penting seperti siku, pergelangan tangan, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nyaris Dipaksa Main Tiga Game, Kevin / Marcus Angkat Topi Buat Wakil Jerman

Nyaris Dipaksa Main Tiga Game, Kevin / Marcus Angkat Topi Buat Wakil Jerman

Sport | Jum'at, 08 November 2019 | 14:15 WIB

Salip Tim-tim Besar Eropa, Ini Ranking Terbaru Timnas Futsal Indonesia

Salip Tim-tim Besar Eropa, Ini Ranking Terbaru Timnas Futsal Indonesia

Bola | Sabtu, 26 Oktober 2019 | 17:48 WIB

Puluhan Tahun Tenggelam, Restorasi Truk Perang Dunia 2 Ini Bikin Terpukau

Puluhan Tahun Tenggelam, Restorasi Truk Perang Dunia 2 Ini Bikin Terpukau

Otomotif | Sabtu, 26 Oktober 2019 | 14:02 WIB

Dari Karbida hingga LED, Begini Evolusi Teknologi Lampu Mobil

Dari Karbida hingga LED, Begini Evolusi Teknologi Lampu Mobil

Otomotif | Jum'at, 25 Oktober 2019 | 22:10 WIB

Awas, Jangan Lakukan 4 Hal Ini saat Sedang Liburan di Jerman

Awas, Jangan Lakukan 4 Hal Ini saat Sedang Liburan di Jerman

Lifestyle | Rabu, 23 Oktober 2019 | 17:00 WIB

Terkini

APMF 2026 Dorong Industri Bangun Blueprint Baru saat Teknologi dan Perilaku Konsumen Kian Dinamis

APMF 2026 Dorong Industri Bangun Blueprint Baru saat Teknologi dan Perilaku Konsumen Kian Dinamis

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:55 WIB

Laga Hidup Mati Piala AFF 2026: 3 Senjata Singapura yang Bisa Kubur Mimpi Timnas Indonesia

Laga Hidup Mati Piala AFF 2026: 3 Senjata Singapura yang Bisa Kubur Mimpi Timnas Indonesia

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:54 WIB

Penempatan Dana SAL Perkuat Kapasitas Kredit Produktif BRI

Penempatan Dana SAL Perkuat Kapasitas Kredit Produktif BRI

Jatim | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:49 WIB

Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?

Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?

Your Say | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:45 WIB

LRT Manggarai dan RS Internasional Jakarta Bakal Dibangun Lewat Obligasi Rp5,2 Triliun

LRT Manggarai dan RS Internasional Jakarta Bakal Dibangun Lewat Obligasi Rp5,2 Triliun

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:43 WIB

Aksi Brutal Tengah Malam, Pria Bersenjata Golok Rusak Fasilitas SPPG di Sukabumi

Aksi Brutal Tengah Malam, Pria Bersenjata Golok Rusak Fasilitas SPPG di Sukabumi

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:43 WIB

Ada Orang Dalam Bandara, Petugas KLIA Teridentifikasi Bantu Kopilot Selundupkan Ekstasi ke Indonesia

Ada Orang Dalam Bandara, Petugas KLIA Teridentifikasi Bantu Kopilot Selundupkan Ekstasi ke Indonesia

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:42 WIB

Bukan Sekali! Menhut Raja Juli Sering Ketemu Bupati Kuansing Sebelum Kena OTT

Bukan Sekali! Menhut Raja Juli Sering Ketemu Bupati Kuansing Sebelum Kena OTT

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:42 WIB

PGS Resmi Tutup Permanen Gara-gara Pailit, Pedagang Mulai Kosongkan Kios dan Pindah

PGS Resmi Tutup Permanen Gara-gara Pailit, Pedagang Mulai Kosongkan Kios dan Pindah

Surakarta | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:41 WIB

Buru Talenta dari Timur Indonesia, PB Djarum Kembali ke Makassar Setelah Satu Dekade

Buru Talenta dari Timur Indonesia, PB Djarum Kembali ke Makassar Setelah Satu Dekade

Sport | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:40 WIB

×