Panggung Oscar 2020 Jadi Riuh karena Pidato Manifesto Komunis

Reza Gunadha | Husna Rahmayunita
Panggung Oscar 2020 Jadi Riuh karena Pidato Manifesto Komunis
Ilustrasi patung oscar 2020 (Pixabay)

Ia berkata, "Orang-orang yang bekerja semakin dilanda kesulitan akhir-akhir ini. Kami percaya segala sesuatu akan menjadi lebih baik bila para pekerja di dunia bersatu".

Suara.com - Lengser dari jabatan sebagai Presiden Amerika Serikat, nama Barack Obama belum lama ini harum di panggung Academy Awards 2020, yang digelar di Dolby Theatre, Los Angeles, Minggu (9/12/2020).

Obama dan istrinya, Michelle dibuat tersenyum bangga setelah rumah produksi milik mereka, Higher Ground untuk pertama kalinya menyabet Piala Oscar.

Ya, film American Factory keluaran tahun 2019, yang mereka produseri menjuarai kategori Best Documentary Feature dalam ajang perfilman bergengsi tersebut.

Sayangnya, mantan kepala dan ibu negara AS itu tak bisa langsung menerima Piala Oscar karena berhalangan hadir.

Kemenangan American Factory lantas diterima oleh Steven Bognar dan Julia Reichert, yang tak lain sutradara film tersebut.

Momen menarik perhatian muncul ketika Julia Reichert menyampaikan pidato kemenangan. Tanpa diduga, secara terang-terangan, ia menyelipkan kutipan bernuansa politik.

Dikutip dari laman Iatimes.com, Rabu (12/2/2020), Reichert berkata, "Orang-orang yang bekerja semakin dilanda kesulitan akhir-akhir ini. Kami percaya segala sesuatu akan menjadi lebih baik bila para buruh sedunia bersatu".

Reichert rupanya menyuarakan itu karena berkaca pada karyanya, American Factory, yang juga menjadisalah satu film jagoan Netflix.

Serupa dengan konsep Marx dan Engels

Namun ungkapan Reichert itu, seketika membangkitkan memori khalayak akan Manifesto Komunis, karya monumental Karl Marx dan Friedrich Engels pada 1848.

Marx dan Engels dalam bukunya menyinggung bentrokan kelas sosial antara kaum pekerja "proletar" dan kelas majikan "borjuis". Kelompok borjuis yang memegang kendali dengan mudah menindas kaum di bawahnya.

Tapi, kesengsaraan kaum proletar justru bisa menjadi bumerang bagi kaum borjuis. Mereka menghimpun kekuatan dengan membentuk serikat, bertujuan menghapus strata sosial seperti tujuan komunisme.

Kisah tersebut senada dengan cerita film American Factory karya Reichert. Film ini mengisahkan tantangan besar yang dihadapi sebuah perusahaan pabrik kaca otomotif asal China, Fuyao Glass America, merintis kejayaan di Amerika Serikat.

Fuyao Glass America mengambil alih kuasa General Motors (GM) di Moraine, Ohio, yang meninggalkan penderitaan bagi sejumlah orang, sejak bangkrut pada 2008.

Ribuan karyawan yang diberhentikan GM pada saat itu. Hingga pada akhirnya, setelah menanti enam tahun, beberapa dari mereka dipekerjakan kembali oleh Fuyao Glass America.

Upaya 'penyelamatan' ini mulanya mendapat sambutan ramah, tapi nyatanya seiring berjalannya waktu malah memicu beragam gejolak.

Perbedaan budaya yang bertolak belakang antara China dan AS menjadi faktor terbesar penyebab konflik di lingkungan perusahaan.

Kebebasan yang semula dijanjikan 'perusahaan baru' seketika berubah menjadi aturan yang membelenggu. China disebut tak menyukai upaya pekerja AS untuk membentuk serikat.

Kondisi ini, mengakibatkan adanya gesekan di antara para pekerja sehingga secara langsung menciptakan kubu atau secara halus disebut kelas sosial.

Tak mengherankan, ketika Reichert secara terbuka mengatakan,"Dunia akan lebih baik, kalau para pekerja bersatu" membuat riuh Academy Awards 2020.

Dia menyuarakan kutipan Manifesto Komunis di tengah acara yang biasanya lunak, jauh dari unsur politik.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS