Kisah Perawat Mayat di Tengah Corona: Batal Pensiun hingga Kehilangan Kawan

Reza Gunadha | Farah Nabilla
Kisah Perawat Mayat di Tengah Corona: Batal Pensiun hingga Kehilangan Kawan
ILUSTRASI - Petugas menurunkan peti jenazah pasien suspect Corona dengan menggunakan tali tambang di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Kamis (26/3). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Jika dokter membutuhkanku, aku akan membantu mereka. Jika aku mati, aku akan mati. Tuhan akan memutuskan. Mengapa harus takut?" kisah Sormin.

Suara.com - Kekhawatiran sedang membayangi benak Rajiman Sormin. Ia khawatir akan dipanggil bekerja lagi.

Saat orang-orang khawatir akan kehilangan pekerjaannya, Sormin justru sebaliknya. Dia bukannya takut, dia hanya khawatir.

Virus corona mungkin akan membuatnya kembali bekerja sebagai perawat mayat di Rumah Sakit Umum Adam Malik, Medan.

Padahal, Sormin telah resmi pensiun pada 1 April lalu setelah 12 tahun bekerja sebagai perawat mayat di RSU tersebut.

Dua belas tahun sudah dia mendedikasikan hidupnya untuk mencuci, membalsem, dan mendandani orang mati.

Mulanya, Sormin berencana untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarganya. Tapi mungkin rencana itu akan berantakan.

"Jika saya diminta untuk kembali, saya akan kembali," kata Sormin kepada Al Jazeera.

Dia memperkirakan akan dipanggil bekerja lagi mengingat jumlah korban virus corona di Indonesia terus meningkat.

"Jika dokter membutuhkanku, aku akan membantu mereka. Jika aku mati, aku akan mati. Tuhan akan memutuskan. Mengapa harus takut?" kisah Sormin.

Tentu saja, tugasnya kini tak seperti biasanya. Ada cara khusus untuk merawat jenazah corona yang mungkin sangat berisiko baginya.

"Proses untuk mempersiapkan mayat berbeda sekarang," ujar Sormin.

Mayat harus dibungkus dengan tiga lapis terpal plastik, lalu dimasukkan ke dalam kantong mayat.

Selain itu, jenazah harus dimakamkan dalam waktu empat jam setelah kematian mereka.

Sormin sadar, virus corona telah menewaskan banyak orang, termasuk dokter yang juga temannya, Ucok Martin.

"Dia sangat ramah, dan dia selalu membantu pasien dan keluarga mereka jika mereka tidak mampu membayar pengobatan," kenang Sormin.

Ia mengingat pernah dibantu oleh dokter asal Medan itu.

"Beberapa kali, dia selalu menawariku membelikan makan siang, dia akan menyuruhku agar memesan lebih banyak makanan untuk dibawa pulang. Doa tahu aku tidak menghasilkan banyak uang sebagai seorag tukang mayat," kisah Sormin kepada Al Jazeera.

Martin adalah seorang dokter paru. Tidak diketahui kapan dan dimana dia terinfeksi covid-19. Martin baru saja pulang dari Yerusalem, dengan rute melalui Malaysia, lalu kembali bekerja di Rumah Saki Umum Adam Malik sebelum jatuh sakit.

"Awalnya dia melakukan rontgen," kata Sormin. "Ketika dilakukan pemeriksaan rontgen lagi beberapa hari kemudian, seluruhnya berwarna putih. Paru-parunya sudah penuh virus. Itu tidak adil. Dia menyelamatkan begitu banyak orang dengan penyakit paru-paru, dan itu pula yang membunuhnya".

Indonesia memang tengah mengalami kekurangan alat pelindung diri (APD). Beberapa staf medis bahkan mengakalinya dnegan menggunakan plastik dan jas hujan.

"Indonesia tdak serius mengambil langkah-langkah transparan dan efektif untuk menangani pandemi ini," kata Usman Hamid yang merupakan kepala Amnesty Indonesia.

Kepada Al Jazeera dia mengatakan, "Jika ini berlanjut, jumlah kematian pasien dan staf medis akan terus meningkat. Ini bisa menjadi krisis kemanusiaan, terutama untuk sektor kesehatan."

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS