Kisah di Belakang Meja Pengujian Sampel Virus Corona di Indonesia

Kamis, 30 Juli 2020 | 00:05 WIB
Kisah di Belakang Meja Pengujian Sampel Virus Corona di Indonesia
Pasien corona. (BBC)

Suara.com - Dua orang petugas laboratorium menceritakan tantangan yang mereka hadapi dalam bertugas menguji ratusan sampel Covid-19.

Selain khawatir terinfeksi, mereka terpaksa mengesampingkan penelitian masing-masing karena sebagian besar waktu mereka dicurahkan untuk penanganan virus corona baru itu.

Apalagi, kini Presiden Joko Widodo tengah menargetkan agar Indonesia bisa melakukan 30.000 tes per hari.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ditunjuk pemerintah sebagai salah satu laboratorium pertama yang menguji sampel Covid-19 sejak Maret, beberapa saat setelah kasus pertama terkonfirmasi di Jakarta.

Covid-19 Indonesia lampaui 100.000 orang, 'penambahan tertinggi di DKI Jakarta dan Jatim' 'Kami jadi pahlawan tapi mereka sudah melupakan kami', curhat tenaga medis Italia usai pandemi mereda: Lemon madu, kue, hingga kartu ucapan, kisah dokter penyintas Covid-19 semangati para pasien lain

Di antara puluhan anggota yang terlibat dalam penanganan Covid-19 di lembaga itu adalah dua asisten peneliti, Edison Johar and Yora Permata Dewi.

"Awalnya kewalahan, tapi pelan-pelan bisa,"kata Edison Johar.

Edison Johar adalah seorang ilmuwan muda yang memulai kariernya sebagai peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta sejak dua tahun silam.

Sebelum virus corona baru mewabah di Indonesia, sejak awal Maret lalu, pria berusia 28 tahun itu mengatakan ia melakukan penelitian di bidang arbovirus, atau virus yang menular lewat nyamuk.

Baca Juga: Disnaker DKI: Biaya Tes Massal COVID-19 Dibebankan ke Perusahaan Swasta

Namun, Edison harus mengesampingkan penelitiannya ketika lembaganya diberi mandat oleh pemerintah Indonesia sebagai pusat untuk mengetes sampel dari pasien Covid-19.

Ia mengaku pendidikan yang ia tempuh tidak mempersiapkannya untuk menghadapi pandemi seperti ini. Walaupun materi yang ia dapat berfokus pada teori, Edison mengaku tetap merasakan manfaatnya sekarang, setidaknya keterampilan untuk mengolah dan menganalisis sampel.

"Jadi kan, nature kita kan riset, jadi terima spesimen itu nggak sebanyak yang biasanya ini, tiba-tiba banyak banget yah, nggak seperti yang biasa kita riset. Jadi dari manajemen sampel sampai data itu kita perlu upgrade. Nggak bisa pake metode biasa kita buat riset," kata Edison.

"Kita testing kan nggak cuma tes doang, ada data juga, biar nggak salah, sampel A yang punya pasien A, biar nggak ke mana-mana. Pertama-tama agak kewalahan sih bagian itu. Dari data, kemudian bagian lab, kita lab juga nggak biasa ngerjain segitu banyak, kita harus pelan-pelan improve juga," tambahnyaKini, Edison lebih banyak bertugas di bagian sequencing, atau pemetaan genom virus Sars-Cov-2. Hal itu, ia sebut, membantu dalam aspek merancang vaksin untuk Covid-19.

Proses yang kompleks ini dilakukan untuk memahami virus corona, melihat sampel mulai dari saat pertama Covid-19 terdeteksi di Indonesia serta menganalisis jika virus itu berubah.

Salah satu tujuannya, jelas Edison, adalah untuk memastikan vaksin yang disiapkan tepat sasaran."Kalau dengan sequencing hanya untuk lihat berubah tidak yang di Indonesia, karena kan tidak ada gunanya kita cek sesuatu [vaksin] yang nggak ada hubungannya atau kurang reaktif karena ada perubahan sedikit. Kan virus ini virus RNA, virus yang bisa dengan cepatnya berubah. Jadi hubungannya disitu, lebih ke arah design vaksinnya," tutur Edison.

Alumni Ilmu Biomedik dari Australian National University (ANU) ini mengatakan apapun perannya di dalam laboratorium, ia merasa termotivasi bisa ikut serta dalam proses pengetesan dan sekaligus menambah pengetahuan.

Begitu pula yang dialami Yora Permata Dewi, seorang peneliti yang bertugas menguji reaksi rantai polimerase, atau yang dikenal sebagai PCR, di laboratorium yang sama.

Awalnya, Yora sempat khawatir terinfeksi Covid-19. Apalagi ia juga baru pertama kali masuk level keselamatan laboratorium tiga (BSL-3), yakni satu tingkat di bawah level teratas dari segi bahaya.

"Sejak ada pandemi ini, jadi baru ikut BSL-3. Kan ini patogennya Covid, jadi kita di BSL-3. Biasanya nggak semua orang Eijkman bisa masuk situ, karena emang ada trainingnya segala macam itu. Jadi belajar hal baru juga pas pandemi ini," ujar Yora.

Asisten peneliti yang juga berusia 28 tahun itu, mengungkap sampel yang diterima laboratorium lembaganya terus bertambah seiring waktu.

Saat awal wabah merebak, lembaga itu menerima sekitar 30 hingga 250 sampel per hari. Angka itu terus meningkat, hingga pada bulan Juli, jumlah tertinggi yang diterima dalam sehari mencapai sekitar 800 sampel per hari.

Jelas ia harus menghabiskan waktu lebih lama meneliti sampel-sampel tersebut, tetapi faktor itu tidak menurunkan semangatnya.

"Pikirannya sih membantu orang. Juga kepikiran, misalnya seorang individu menunggu hasil apakah dia positif atau negatif, itu kan kadang-kadang mereka kayak anxious, cemas, kira-kira positif atau negatif.

"Terus juga pasien yang udah di-ventilator (alat bantu napas) atau yang juga gawat, mesti dapat hasil yang cepat. Jadi kita juga berpikir, kasihan juga pasiennya nunggu lama, misalnya, dia kan butuh pengobatan yang tepat dan cepat," kata Yora.

Lulusan Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu mengaku tidak menyangka bakal berhadapan dengan penanganan wabah begitu cepat di jenjang kariernya, dimana ia baru dua tahun bertugas sebagai peneliti.

Namun, ia merasa beruntung bisa bekerja sama dengan para senior yang sudah memiliki pengalaman sebelumnya, termasuk diantaranya dalam penanganan flu burung.

"Yang pastinya kita harus belajar dari sekarang ini untuk prepare untuk yah pasti ada pandemi lagi yang akan datang. Jadi kita harus punya suatu prosedur atau regulasi yang benar-benar bisa menangani pandemi, termasuk mencegah juga," ujar Yora.

'Tolong dong patuhi protokol'

Kepala bagian Hubungan Masyarakat, Kolaborasi dan Protokol Eijkman, Wuryantari Setiadi, mengatakan seluruh peneliti dari berbagai laboratorium lembaga itu sejak awal memang sudah disatukan untuk bekerja dalam penanganan pandemi sebagai prioritas.

Wuryantari kini mengkoordinasi sekitar 90 orang lebih yang terlibat dalam ruang lingkup yang berbeda-beda, mulai dari pengetesan sampel hingga riset vaksin Covid-19.

Sebagai koordinator, ia pun berusaha menangani agar alur kerja terus terjaga.

"Jadi, ya makanya kita kemudian membuat roster, jadi dalam seminggu, satu kali WFH (bekerja dari rumah). Bagaimanapun kita harus menjaga kesehatan sendiri juga kan, karena tenaga kita dibutuhkan untuk pemeriksaan ini yang kita tidak tahu sampai kapan," kata Wuryantari via telepon.

Sejauh ini, ia mengaku belum tahu kapan pemeriksaan itu akan berakhir. Bagaimanapun juga, Wuryantari sebut hal itu terkadang menggerus semangat tim di kala lelah.

"Kita ada waktu-waktu lelah juga dengan kondisi ini, makanya juga suka kadang [berpikir] 'wow, masyarakat yang ada di luar, tolong dong untuk mematuhi protokol kesehatan, soalnya kan sampai kapan?' Kita kan juga nggak akan mungkin terus menerus untuk melakukan pemeriksaan Covid-19 ini, gitu kan?" ujarnya.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI