Suara.com - Bidang Perlindungan Tenaga Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19, Mariya Mubarika mengungkapkan bahwa peredaran masker medis palsu menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan banyak tenaga kesehatan di Indonesia terpapar COVID-19.
Mariya Mubarika mengatakan bahwa dalam pemantauan Satgas, ada beberapa kasus penularan di kalangan tenaga kesehatan yang diakibatkan oleh pemakaian masker yang tidak sesuai standar.
"Sekarang banyak ditemukan masker tanpa lapisan antivirus, jadi masker palsu yang sulit sekali tenaga medis untuk membuktikannya ini asli atau tidak," kata dr Mariya dalam jumpa pers virtual dari Gedung BNPB, Jakarta, Selasa (2/2/2021).
Selain masker palsu, faktor lain yang menyebabkan nakes terpapar antara lain; kelelahan atau burnout, tertular di rumah atau lingkungan sosial, dan imunitas yang rendah.
"25 persen data global tenaga medis banyak tertular dari lingkungan sosial dan keluarganya, jadi banyak faktor," ucapnya.
Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan itu juga menyebut kebanyakan tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 justru berasal klinik atau poli, bukan dari ICU atau ruang Isolasi Covid-19 yang memiliki aturan Alat Pelindung Diri yang ketat.
"Sekarang baik di Indonesia maupun di berbagai negara yang melaporkan itu memang lebih banyak di UGD kemudian di poli, jadi bukan di kasus yang terjadi ICU atau Isolasi itu malah sedikit, jadi diduga pasien asymptomatic (OTG) yang menularkan dokternya," jelasnya.
Untuk diketahui, dari Maret 2020 hingga pertengahan Januari 2021, terdapat total 647 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid, yang terdiri dari 289 dokter (16 guru besar) dan 27 dokter gigi (3 guru besar), 221 perawat, 84 bidan, 11 apoteker, 15 tenaga lab medik.
Para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 161 dokter umum (4 guru besar), dan 123 dokter spesialis (12 guru besar), serta 5 residen, yang keseluruhannya berasal dari 26 IDI Wilayah (provinsi) dan 116 IDI Cabang (Kota/Kabupaten).