Terancam Penjara di Iran, Akademisi Inggris Larikan Diri Lewat Pegunungan

Siswanto, BBC

Kamis, 04 Februari 2021 | 11:44 WIB
Terancam Penjara di Iran, Akademisi Inggris Larikan Diri Lewat Pegunungan
BBC

Suara.com - Seorang akademisi berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran, Kameel Ahmady, yang dijatuhi hukuman penjara selama lebih dari sembilan tahun berhasil melarikan diri dari Iran untuk memulai kehidupan baru di Inggris.

Dua bulan lalu Ahmady dinyatakan bersalah bekerja sama dengan negara yang memusuhi Iran, tapi ia menolak dakwaan tersebut.

Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama lebih dari sembilan tahun dan denda sebesar US$683.000 atau sekitar Rp9,5 miliar.

Namun ketika ia menjalani penangguhan hukuman dengan uang jaminan seraya mengajukan banding, ia melarikan diri melewati kawasan pegunungan dengan berjalan kaki.

"Banding ditolak, dibatalkan. Saat itulah saya memutuskan untuk melarikan diri karena saya tidak bisa membayangkan mendekam di penjara selama 10 tahun dan melihat putra saya tumbuh dewasa dari jarak jauh.

"Ketika masa pembebasan saya tiba -jika benar saya dibebaskan - putra saya akan berusia 15 tahun," tutur Ahmady.

Kameel Ahmady dilahirkan dari keluarga suku Kurdi di Iran barat. Namun orang tuanya mengirimkannya ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan di saat usianya 18 tahun.

Ia tinggal di Inggris selama bertahun-tahun, kuliah di Universitas Kent dan London School of Economics. Kecintaannya pada Inggris membuatnya mengajukan permohonan kewarganegaraan sebelum pulang ke Iran sebagai seorang antropolog.

Penelitiannya di Iran dipusatkan pada masalah pernikahan anak dan sunat perempuan. Inilah yang membuat namanya masuk radar pihak berwenang karena ia menyuarakan perlunya usia pernikahan perempuan dinaikkan dari umur 13 tahun yang berlaku saat ini.

baca juga

Pada suatu pagi di bulan Agustus 2019, seorang lelaki muncul di pintu rumahnya di Teheran dan mengaku sebagai petugas pos. Ahmady lantas membuka pintu dan seketika itu, 16 Pasukan Garda Revolusi menyerbu kediamannya. Ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara Evin yang terkenal di negara itu.

Ahmady mengatakan ia menjadi sasaran tidak hanya karena ia memegang kewarganegaraan ganda, tetapi juga karena Iran hendak melakukan balas dendam setelah Inggris menyita kapal minyak Iran di lepas pantai Gibraltar. Kapal bermuatan minyak tersebut dicurigai melanggar sanksi Uni Eropa.

"Sebagai pemegang kewarganegaraan ganda, kita selalu berpotensi menjadi sasaran," ungkapnya kepada BBC.

"Kepala petugas yang menginterogasi , saya mengatakan, "Anda sasaran sangat empuk,' a) karena saya orang Kurdi; b) saya berasal dari keluarga Muslim Sunni, bukan Syiah yang menjadi mayoritas di Iran; dan c) saya peneliti yang menggali masalah-masalah peka. Dan saya bukanlah seorang peneliti semata, saya sebenarnya menindaklanjuti hasil penelitian dan menggunakannya untuk meningkatkan kesadaran."

Penyiksaan psikologis

Ia mendekam di penjara Evin selama tiga bulan. Selama masa itu, lanjutnya, petugas mempermainkan pikirannya.

"Di tataran kemanusiaan, mereka memberikan perlakuan baik kepada saya. Tetapi jangan sampai meremehkan konsep dan keseriusan dari apa yang disebut 'white torture' - teknik penyiksaan psikologis. Dan semua permainan ini dilakukan selangkah demi selangkah, dan mereka benar-benar sangat terlatih, tahu betul kapan perlu memberikan tekanan tambahan ketika diperlukan," kata Ahmady.

"Terdapat beragam permainan pikiran, mirip dengan berdagang. Anda berikan ini kepada saya, maka saya akan berikan imbalan - satu menit percakapan telepon saja memerlukan segala bentuk perundingan dengan petugas," imbuhnya.

Setelah berada di penjara Evin selama tiga bulan, Kameel Ahmady dibebaskan menjelang sidang tetapi tetap diawasi secara ketat.

Dalam sidang Desember lalu, Ahmady dinyatakan bersalah bekerja sama dengan pemerintah yang berseteru, walaupun ia membantahnya.

Jaksa penuntut mengatakan badan amal yang sebelumnya mempekerjakan Kameel Ahmady telah menerima dana dari Amerika Serikat. Ia juga menghadapi berbagai tuduhan lain, termasuk mempromosikan homoseksualitas dalam risetnya.

Ketika ia memutuskan melarikan diri, ia tidak memberitahu siapapun kecuali keluarga dekatnya.

"Saya pergi begitu saja. Saya siapkan tas berisi peralatan cukur, beberapa buku saya, dan laptop."

"Dan juga baju hangat, karena saya tahu saya harus menyelundup diri dari kereta di kawasan pegunungan itu. Sangat dingin, perjalanan sangat panjang, sangat gelap dan sangat menakutkan."

"Saya mesti meninggalkan semuanya yang saya cintai, yang saya capai, semua kelekatan manusia. Sangat menyedihkan dan menakutkan. Jika tertangkap, saya akan disidang lagi, dan hanya Tuhan yang tahu skenario apa lagi yang disiapkan.

Kini setelah tiba di Inggris, Kameel Ahmady menghadapi masa depan yang tidak pasti.

"Saya harus melakukan apa yang diperlukan. Saya tidak bisa tinggal diam dan menghabiskan waktu 10 tahun di penjara. Saya bisa lebih berguna di luar dan saya punya tanggungjawab terhadap keluarga saya."

Pertanyaannya sekarang bagaimana kira-kira pemerintah Iran akan menanggapi kasus lolosnya Ahmady dan bagaimana dampaknya terhadap warga lain yang memegang kewarganegaraan ganda Inggris-Iran.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Saat Stadion Tak Lagi Ramai, DPRD Usul Lahan Kamal Muara Disulap Jadi SMA Negeri

Saat Stadion Tak Lagi Ramai, DPRD Usul Lahan Kamal Muara Disulap Jadi SMA Negeri

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:53 WIB

Kasus TPA Jatiwaringin: Mengapa Kebakaran TPA Terus Berulang, Apa Sebenarnya Akarnya?

Kasus TPA Jatiwaringin: Mengapa Kebakaran TPA Terus Berulang, Apa Sebenarnya Akarnya?

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:50 WIB

Viral Perempuan Disabilitas Melahirkan, Polisi Buru Terduga Pelaku Rudapaksa di Jagakarsa

Viral Perempuan Disabilitas Melahirkan, Polisi Buru Terduga Pelaku Rudapaksa di Jagakarsa

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:34 WIB

Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!

Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:17 WIB

Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang

Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:15 WIB

Melawan Vonis 10 Tahun, Nadiem Makarim Resmi Serahkan Memori Banding

Melawan Vonis 10 Tahun, Nadiem Makarim Resmi Serahkan Memori Banding

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:01 WIB

Dilema Anak Muda RI: Tetap Ingin Menikah tapi Tercekik Beban Ekonomi dan Rumah Mahal

Dilema Anak Muda RI: Tetap Ingin Menikah tapi Tercekik Beban Ekonomi dan Rumah Mahal

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 15:55 WIB

Kejagung Bongkar Akal-Akalan Ekspor Logam Tanah Jarang, Dua Pengiriman Diduga Sudah Lolos

Kejagung Bongkar Akal-Akalan Ekspor Logam Tanah Jarang, Dua Pengiriman Diduga Sudah Lolos

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 15:46 WIB

Pantas Suka Joget, Prabowo Blak-blakan Ungkap Punya DNA India di Hadapan PM Modi: Ini Benar!

Pantas Suka Joget, Prabowo Blak-blakan Ungkap Punya DNA India di Hadapan PM Modi: Ini Benar!

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 15:45 WIB

Wujudkan Tata Kelola yang Bersih dan Transparan, BPJS Kesehatan Bersinergi dengan KPK

Wujudkan Tata Kelola yang Bersih dan Transparan, BPJS Kesehatan Bersinergi dengan KPK

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 15:42 WIB

×