alexametrics

Merawat Toleransi, Kala Pengungsi Banjir Kudus Salat di Gereja

Erick Tanjung
Merawat Toleransi, Kala Pengungsi Banjir Kudus Salat di Gereja
Pengungsi korban banjir berdoa usai melakukan shalat di aula Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Tanjung Karang, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (11/2/2021). Gereja itu menjadi tempat mengungsi korban banjir sejak 31 Januari 2021. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/hp)

Korban banjir yang masih bertahan di GKMI Tanjung Karang dan aula Kelenteng Tanjung Karang, masing-masing 48 orang dan 36 orang.

Suara.com - Sebagian korban banjir mengungsi di gereja dan kelenteng di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Camat Jati Andreas Wahyu di Kudus, Minggu (14/2/2021) mengatakan bahwa di Desa Tanjung Karang korban banjir mengungsi di kompleks Gereja Kristen Muria Indonesia atau GKMI, balai desa, dan aula kelenteng.

Menurut dia, warga yang mengungsi di Balai Desa Tanjung Karang sudah pulang karena genangan di permukiman mereka sudah surut.

Korban banjir yang masih bertahan di GKMI Tanjung Karang dan aula Kelenteng Tanjung Karang, masing-masing 48 orang dan 36 orang.

Baca Juga: Tampil dengan Nada Tinggi, Angel Malah Bikin Juri Bintang Suara Khawatir

Menanggapi foto yang beredar di media sosial yang menunjukkan seorang pengungsi muslim shalat di gereja, kata Andreas, pemandangan itu hal biasa di sana.

"Toleransi umat beragama di desa setempat memang cukup bagus, sudah banyak kegiatan yang dilaksanakan bersama dari berbagai umat beragama. Tentunya menjadi hal biasa bagi warga desa sekitar melihat pemandangan seperti itu," kata Andreas.

GKMI Tanjung Karang menjadi salah satu posko pengungsian di Desa Tanjung Karang sejak 31 Januari 2021.

Andreas menambahkan, warga Desa Tanjung Karang antara lain meliputi Suku Jawa, Suku Batak, dan keturunan Tionghoa dan mereka biasa bahu-membahu melaksanakan berbagai kegiatan di kampung. (Antara)

Baca Juga: Banjir Bandang di Brebes, Sejumlah Motor Terbawa Arus

Komentar