Usman Hamid Anggap Revisi UU ITE Bisa Perketat Kepolisian Seleksi Laporan

Jum'at, 19 Februari 2021 | 20:49 WIB
Usman Hamid Anggap Revisi UU ITE Bisa Perketat Kepolisian Seleksi Laporan
Pegiat HAM Usman Hamid di Jakarta. [Suara.com/Lily Handayani]

Suara.com - Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai revisi Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) bakal memberikan keadilan bagi masyarakat meskipun tidak sampai 100 persen.

Dengan adanya Revisi UU tersebut, ia menilai ke depannya kepolisian akan lebih seksama dalam melanjutkan laporan dengan dasar hukum UU ITE.

"Dalam arti jaminan itu bisa dalam bentuk tidak mudahnya pihak kepolisian ke depan, melanjutkan pelaporan-pelaporan pengaduan yang disampaikan oleh pejabat baik tingkat lokal maupun pusat atau oleh anggota masyarakat," kata Usman dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (19/2/2021).

Bukan hanya kasus yang tengah diproses, tetapi bagi orang-orang sudah ditahan akibat kasus penghinaan kepada kepala negara atau pejabat tertentu bisa dibebaskan tanpa syarat.

"Melalui pemberian amnesti sama halnya seperti saat presiden membebaskan Baiq Nuril dari UU ITE setelah kasusnya memperoleh kekuatan hukum tetap," tuturnya.

"Jadi ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah khsusnya kepolisian, kejaksaan dan juga presiden menindaklanjuti apa yang disampaikan beberapa waktu lalu."

Sementara itu, Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, menyebut revisi UU ITE diupayakan bisa menampung segala masukan dari masyarakat. Sehingga ketika sudah direvisi nanti, UU ITE dapat memberikan keadilan bagi masyarakat.

Fadjroel mengatakan pemerintah lebih memilih merevisi ketimbang mencabut pasal karet dalam UU ITE karena menurutnya perlu ada audit ilegal terhadap keseluruhan pasal-pasalnya dan perbaikan pada naskah akademiknya.

Selain itu, ia juga menyebut kalau revisi tersebut diupayakan agar masyarakat bisa memberikan masukan.

Baca Juga: Wacana Jokowi Revisi UU ITE Dicurigai Hanya Pencitraan

"Sehingga yang terbaru nanti kalau terjadi perubahan itu betul-betul menampung semua kritik dan masukan sehingga sesuai dengan prinsip hukum, keadilan kepastian hukum dan kemanfaatan dan sesuai dengan prinsip konstitusi kita," kata Fadjroel dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (19/2/2021).

Hal tersebut dikatakannya lantaran pemerintah mesti menjaga hak konstitusi yang tertuang di dalam Pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan, dan sebagainya.

"Demokrasi tanpa kritik itu seperti kuburan, sepi dan tidak ada kemajuan," tuturnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI