AS Jatuhkan Sanksi ke Rusia terkait Peracunan Alexei Navalny

Siswanto, BBC

Rabu, 03 Maret 2021 | 16:30 WIB
AS Jatuhkan Sanksi ke Rusia terkait Peracunan Alexei Navalny
BBC

Suara.com - Amerika Serikat (AS) telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat senior Rusia terkait kasus peracunan pemimpin oposisi Alexei Navalny.

Pemberian sanksi ini, yang menargetkan pejabat tinggi intelijen Rusia dan enam orang lainnya, dikoordinasikan dengan langkah serupa oleh Uni Eropa.

Para pejabat AS mengatakan laporan intelijen menyimpulkan bahwa pemerintah Moskow berada di balik serangan agen saraf yang nyaris mematikan Navalny pada tahun lalu.

Navalny adalah pengkritik paling terkenal terhadap Presiden Vladimir Putin.

Moskow membantah terlibat dalam peracunannya dan mempertanyakan kesimpulan yang, menurut kalangan ahli senjata dari Barat, bahwa Navalny diracun oleh agen Novichok dalam sebuah penerbangan di Siberia.

Istilah Novichok - "pendatang baru" dalam bahasa Rusia - berlaku untuk sebuah kelompok agen saraf yang dikembangkan di laboratorium oleh Uni Soviet selama Perang Dingin. Mereka melumpuhkan otot dan dapat menyebabkan kematian karena sesak napas.

Apa tindakan apa sudah dilakukan AS?

Sanksi diberlakukan terhadap tujuh pejabat senior Rusia dan 14 entitas yang terlibat dalam produksi kimia dan biologi, kata pejabat pemerintah.

"Upaya Rusia untuk membunuh Navalny mengikuti pola penggunaan senjata kimia yang mengkhawatirkan," kata seorang pejabat.

Novichok digunakan dalam sebuah serangan pada 2018 di kota Salisbury, Inggris, terhadap seorang agen ganda Rusia yang diasingkan serta putrinya.

baca juga

Di bawah sanksi tersebut, aset mereka di AS dibekukan.

Mereka yang menjadi sasaran sanksi, di antaranya Alexander Bortnikov, yang memimpin FSB, badan intelijen utama Rusia, serta Wakil Menteri Pertahanan Alexei Krivoruchko dan Pavel Popov.

Sanksi tersebut adalah yang pertama dijatuhkan terhadap Rusia oleh pemerintahan Presiden Joe Biden.

Dia mengambil sikap lebih keras dari pendahulunya, Donald Trump, terhadap Presiden Putin.

Setelah menelepon mitranya dari Rusia pada bulan lalu, Biden mengatakan dia telah memperjelas sikap AS pada hari-hari ketika mereka "menggelimpang dalam menghadapi tindakan agresif Rusia, mencampuri pemilu kami, serangan dunia maya, meracuni warga negaranya".

Bagaimana dengan Uni Eropa?

Dalam langkah terkoordinasi, Uni Eropa mengumumkan pada Selasa bahwa mereka telah menargetkan empat pejabat pemerintah Rusia.

Mereka adalah Alexandr Kalashnikov, Kepala sistem penjara Rusia, Alexandr Bastrykin, Ketua Komite Investigasi, Kepala Kejaksaan Igor Krasnov, dan Viktor Zolotov, yang mengepalai Garda Nasional.

Sanksi tersebut termasuk larangan perjalanan dan pembekuan aset.

Wartawan BBC Kevin Connolly di Brussel mengatakan Uni Eropa melakukan kompromi dengan negara-negara Baltik, yang melihat Rusia sebagai tetangga yang berbahaya, dan negara-negara - terutama Jerman - yang bergantung pada impor gas dari Rusia.

Langkah tersebut mengikuti serangkaian sanksi Uni Eropa sebelumnya. Pada Oktober, negara-negara yang terhimpun dalam Uni Eropa memberlakukan larangan perjalanan dan pembekuan aset pada enam pejabat Rusia, termasuk Bortnikov, yang dituduh terlibat dalam peracunan tersebut.

Pusat penelitian senjata kimia juga menjadi sasaran target.

Bagaimana reaksi Moskow?

Pemerintah Rusia bahkan telah merespons sebelum tindakan AS dan Uni Eropa dikonfirmasi.

Pada Selasa pagi, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menegaskan kembali klaimnya bahwa Barat "menyembunyikan fakta-fakta yang dapat membantu memahami apa yang telah terjadi" pada Navalny dan menghukum Rusia secara tidak adil.

"Kami telah berulang kali menyatakan sikap kami sehubungan dengan sanksi sepihak yang tidak sah yang ... digunakan oleh kolega dari AS dan mereka yang mengambil contoh dari mereka, Uni Eropa," katanya.

Pemerintahnya akan menanggapi sanksi apa pun dalam bentuk apa pun, tambahnya.

Siapakah Alexei Navalny?

Navalny dikenal karena aksi kampanye antikorupsi. Dia telah lama menjadi wajah oposisi Rusia yang paling menonjol terhadap pemerintahan Putin.

Blogger berusia 44 tahun ini memiliki jutaan pengikut di media sosial. Dia melakukan berbagai langkah yang membuat sejumlah pendukungnya terpilih menjadi anggota dewan di Siberia pada 2020.

Navalny diracuni dan mengalami koma selama penerbangan ke Siberia pada Agustus lalu. Dia kemudian diterbangkan ke Jerman, di mana dia dinyatakan pulih.

Pada Januari dia memutuskan untuk kembali ke Rusia dan ditangkap saat tiba di negara itu.

Pengadilan bulan lalu menyatakan Navalny melanggar ketentuan hukuman sebelumnya terkait kasus penggelapan.

Dikatakan, Novolny tidak datang ke instansi terkait saat dirinya sedang mengikuti masa hukuman percobaan. Ketika itu Novolny sedang dirawat di Jerman.

Hukumannya yang semula ditangguhkan kemudian diubah menjadi hukuman penjara dua setengah tahun.

Navalny dan pendukungnya mengatakan semua tuduhan terhadapnya bermotif politik. Presiden Biden dan para pemimpin Uni Eropa telah menyerukan agar dia dibebaskan segera.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Eropa di Ambang Perang? Negara-negara NATO Siaga Satu Hadapi Ancaman Rusia

Eropa di Ambang Perang? Negara-negara NATO Siaga Satu Hadapi Ancaman Rusia

News | Minggu, 20 September 2026 | 09:11 WIB

WNI Tentara Bayaran Rusia WhatsApp Jubir Kemlu RI, Apa Katanya?

WNI Tentara Bayaran Rusia WhatsApp Jubir Kemlu RI, Apa Katanya?

News | Jum'at, 18 September 2026 | 10:20 WIB

Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?

Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 12:34 WIB

Minyak Rusia Kembali Masuk, Bahlil Pastikan Stok Energi Tetap Aman

Minyak Rusia Kembali Masuk, Bahlil Pastikan Stok Energi Tetap Aman

Video | Minggu, 13 September 2026 | 14:30 WIB

Bahlil Konfirmasi Impor Minyak Rusia Tahap 2 Sudah Jalan, Demi Amankan Energi Nasional!

Bahlil Konfirmasi Impor Minyak Rusia Tahap 2 Sudah Jalan, Demi Amankan Energi Nasional!

Video | Sabtu, 12 September 2026 | 11:30 WIB

Raksasa Alumunium Rusia, Rusal Segera Garap Hilirisasi Bauksit di Kalimantan

Raksasa Alumunium Rusia, Rusal Segera Garap Hilirisasi Bauksit di Kalimantan

Bisnis | Jum'at, 11 September 2026 | 16:03 WIB

Impor Minyak Rusia Tahap 2 Mulai Jalan, Bahlil: Demi Ketahanan Energi RI

Impor Minyak Rusia Tahap 2 Mulai Jalan, Bahlil: Demi Ketahanan Energi RI

Bisnis | Jum'at, 11 September 2026 | 15:15 WIB

Seskab Teddy Disorot Usai Main Pulpen di Depan Putin, Dino Patti Djalal Beri Dukungan

Seskab Teddy Disorot Usai Main Pulpen di Depan Putin, Dino Patti Djalal Beri Dukungan

Video | Kamis, 10 September 2026 | 16:26 WIB

WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia: Modus, Jalur Rekrutmen hingga Risikonya

WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia: Modus, Jalur Rekrutmen hingga Risikonya

News | Selasa, 08 September 2026 | 15:14 WIB

Prabowo "Kantongi" Nuklir Sepulang dari Rusia, Putin: Indonesia Partner Penting

Prabowo "Kantongi" Nuklir Sepulang dari Rusia, Putin: Indonesia Partner Penting

News | Minggu, 06 September 2026 | 19:50 WIB

Terkini

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 00:09 WIB

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Bogor | Selasa, 22 September 2026 | 23:29 WIB

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:19 WIB

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:15 WIB

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:02 WIB

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Jabar | Selasa, 22 September 2026 | 23:01 WIB

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:00 WIB

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 22:45 WIB

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 22:40 WIB

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

Video | Selasa, 22 September 2026 | 22:10 WIB

×