- Arief Kamarudin (34), fotografer lepas dari Lenteng Agung, menjadi sorotan karena konten menangkap ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung.
- Arief memiliki misi memulihkan kondisi Kali Ciliwung yang kini didominasi ikan sapu-sapu invasif sejak Oktober 2025.
- Tujuan utama Arief membuat konten adalah edukasi publik mengenai ikan sapu-sapu dan meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan sungai.
Suara.com - Di tangan kanannya, sebuah kamera mungkin sedang membidik momen indah. Namun di tangan kirinya, sebuah jala siap dilemparkan ke keruhnya air Kali Ciliwung. Itulah dua sisi kehidupan pria asal Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Arief Kamarudin (34), yang kini dikenal sebagai sosok “pemburu” ikan sapu-sapu di jagat media sosial.
Sudah sekitar empat hingga lima tahun terakhir, Arief menjalani hidup sebagai fotografer lepas (freelance), sebuah profesi yang menuntut ketelitian mata dan rasa seni.
Namun, saat jadwal pemotretan sedang kosong, ia kembali ke tempat yang mengenalkannya dengan alam, yakni bantaran Sungai Ciliwung, lokasi ia tumbuh sejak kecil.
Bukan sekadar mencari sensasi lewat angka penonton di media sosial, Arief membawa misi besar, memulihkan napas sungai yang telah menghidupinya sejak kecil.
Pemandangan Arief yang turun ke kali mungkin sudah biasa bagi tetangga yang melihatnya. Namun di jagat maya, sosoknya kini tengah menjadi sorotan.
Lewat konten menangkap ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung, pria yang berprofesi sebagai fotografer lepas ini berhasil menarik perhatian puluhan ribu pengikut dan kerap wara-wiri di For Your Page (FYP) berbagai pengguna media sosial.
Berawal dari Memori Masa Kecil
Arief bukan pendatang baru di bantaran Ciliwung. Ia telah menghabiskan seluruh usianya, 34 tahun, di kawasan tersebut.
Kemampuannya mendeteksi lubang persembunyian ikan sapu-sapu atau menangkap biawak bukan didapat dari kursus, melainkan dari petualangan yang ia jalani sejak kecil bersama sang ayah.
"Anak Kali, baik saya, ataupun orang-orang yang di sini, itu kan mainnya di Kali tuh setiap hari, jadi belajar di alam, jadi tau, kalau ini lubang sapu-sapu, cara nangkepnya begini, awal sih itu, kenapa bisa, nangkep ikan, bisa nangkep biawak, gitu," kenang Arief saat ditemui Suara.com, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Waspada Siomay Campuran Ikan Sapu-Sapu, Dinas KPKP DKI Ingatkan Bahaya Logam Berat yang Mengintai
Namun, Ciliwung yang ia kenal sekarang telah banyak berubah. Arief menceritakan betapa kontrasnya kondisi sungai dulu dan kini.
Jika dahulu ia masih bisa dengan mudah mendapatkan ikan baung, keting, atau mujair hanya dengan beberapa kali tebaran jala, kini ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif telah mendominasi aliran air Ciliwung.
"Dulu kalau misalnya ngejala 5 kali, nebar 5 kali, mungkin kita bisa dapet ikan kayak baung, keting, apa, mujair, kayak 5 atau 6. Sekarang, kalau kita ngejala, kita dapet 1 aja udah syukur, selain sapu-sapu," ungkapnya miris.
Konsistensi di Tengah Gatal dan Risiko
Arief sebenarnya sudah mulai membuat konten sejak 2019. Namun, fokus pada ikan sapu-sapu baru benar-benar ia tekuni sejak Oktober 2025.
Kini, ia mendedikasikan waktu hampir setiap hari untuk turun ke kali.
"Seminggu bisa 5 sampai 6 kali saya ke kali. Kalau unggah konten, saya usahakan sehari satu," kata Arief.