Suara.com - Mesir mengadakan parade khusus termasuk orkestra lengkap dan pertunjukan cahaya saat memindahkan 22 mumi kerajaan kuno ke museum baru di Kairo.
Menyadur Sky News, Minggu (4/4/2021) dalam parade tersebut para pria berbaris dengan genderang dan wanita membawa parsel yang diterangi cahaya khusus.
Mumi yang terdiri dari 18 raja dan empat ratu tersebut diangkut melalui jalan darat dengan kapsul mereka sendiri yang diisi dengan nitrogen sebagai perlindungan.
Kapsul tersebut dibawa dengan sebuah gerobak yang sudah didesain khusus untuk membawanya dan memberikan stabilitas, kata arkeolog Mesir Zahi Hawass.
Sebagian besar mumi tersebut berasal dari Kerajaan Baru, juga disebut sebagai Kekaisaran Mesir, yang berlangsung antara abad ke-16 SM dan abad ke-11 SM.
Diharapkan dengan pemindahan tersebut dapat memicu minat wisatawan baru terhadap koleksi barang antik Mesir, setelah periode perjalanan terhenti oleh Covid-19.
Jalan di sepanjang Sungai Nil ditutup karena artefak diangkut dari Museum Mesir di Tahrir Square ke Museum Nasional Peradaban Mesir di Fustat.
"Dengan melakukan seperti ini, dengan kemegahan dan keadaan yang luar biasa, para mumi mendapatkan haknya," kata Salima Ikram, seorang Ahli Mesir Kuno di Universitas Amerika di Kairo.
"Ini adalah raja-raja Mesir, ini adalah para fir'aun. Dan begitulah cara untuk menunjukkan rasa hormat." imbuhnya.
Hawass mengatakan museum baru dipilih "karena kami ingin, untuk pertama kalinya, menampilkan (mumi) dengan cara yang beradab, dengan cara yang terpelajar, dan bukan untuk hiburan seperti di Museum Mesir".
Artefak tersebut ditemukan dalam dua kelompok di kompleks kuil kamar mayat Deir Al Bahari di Luxor dan di Lembah Para Raja dari tahun 1871.
Mumi tertua adalah Seqenenre Tao, raja terakhir dari Dinasti ke-17, yang memerintah pada abad ke-16 SM dan diperkirakan mengalami kematian yang kejam.
Dalam parade tersebut juga menampilkan mumi Ramses II, Seti I, dan Ahmose-Nefertari.