alexametrics

Covid-19 Terus Pecah Rekor, Menkes: Lihat Apa Adanya daripada Ditutupi Nanti Meledak

Agung Sandy Lesmana | Novian Ardiansyah
Covid-19 Terus Pecah Rekor, Menkes: Lihat Apa Adanya daripada Ditutupi Nanti Meledak
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin / [Sekretariat Presiden]

Menurutnya saat ini sudah saatnya harus melihat kondisi secara real apa adanya tanpa harus ada yang ditutupi berkaitan lonjakan kasus positif.

Suara.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan beberapa hari ke depan lonjakan kasus positif Covid-19 di Tanah Air masih akan terjadi. Namun ia neminta masyarakat tidak usah panik, karena itu merupakan hasil dari testing yang ditingkatkan.

Budi berujar target testing saat PPKM Darurat ditetapkan menjadi 400 ribu per hari.

Menurutnya saat ini sudah saatnya harus melihat kondisi secara real apa adanya tanpa harus ada yang ditutupi berkaitan lonjakan kasus positif.

"Toh dengan lihat apa adanya kita bisa respons lebih baik identifikasi orangnya mana kita lacak dan kita masukan. Daripada kita nutup-nutupin supaya kelihatan baik tapi nanti meledak," kata Budi dalam rapat di Komisi IX DPR, Selasa (13/7/2021).

Baca Juga: Dokter Berlian Unggah Grafik Covid-19 Terbalik, Sindir Menteri Luhut?

Budi mengatakan kasus di mana tiba-tiba jumlah positif meledak itu terjadi seperti saat sekarang. Di mana tidak ada peningkatan kasus positif, namun di sisi lain orang masuk rumah sakit semakin bertambah.

"Itu yang kejadian sekarang kan tiba-tiba gak ada kasus konfirmasi tapi masuk ke rumah sakitnya banyak.Orang sbelum masuk ke rumah sakit kan terkonfirnasi dulu. Ini yang akan kita bereskan," kata Budi.

"Mungkin bapak ibu mungkin beberapa hari ini akan ada lonjakan tapi itu bukan baru, tapi karena memang sebelumnya gak terlaporkan saja tapi sekarang jadi terlaporkan," sambungnya.

Budi mengakui bahwa hal itu tidak terlepas karena adanya kelemahan pada sistem tenting di Indonesia yang memang perlu disempurnakan. Di mana pelaporan konfirmasi kasus positif tidakselalu terjadi di hari yang sama. Sebagai contoh ada laporan yang mana kejadian konfirmasi positif hasil testing terjadi dua hari lalu, namun dilaporkannya empat hari kemudian.

RSUD Adjidarmo Rangkasbitung melayani pasien COVID-19 dengan mendirikan tenda untuk perawatan medis. (Antara)
Ilustrasi--pasien COVID-19 yang dirawat di dalam tenda karena rumah sakit sudah penuh. (Antara)

Kelemahan sistem itu, kata Budi memang terjadi di seluruh dunia tidak hanya di Indonesia.

Baca Juga: Terus Memburuk! Kasus Covid-19 Indonesia Selasa 13 Juli 2021, Tambah 47.899 Orang

"Jadi kalau ada lonjakan pertanyaan kenapa ini 40 ribu padahal tes lebih kecil. Bapak ibu mohon maaf memang tidak sempurna dan bukan hanya di Indonesia saja tapi di seluruh dunia. WHO pakainya every second day, jadi saya juga mau ngomong coba ke teman-teman media, jangan data harian karena yang masuk hari ini bisa masuknya 3-5 hari lalu," tutur Budi.

Komentar