Kematian Covid-19 RI Dihapus dari Indikator: "Pemerintah Tipu Diri Sendiri"

Bangun Santoso | BBC | Suara.com

Kamis, 12 Agustus 2021 | 10:39 WIB
Kematian Covid-19 RI Dihapus dari Indikator: "Pemerintah Tipu Diri Sendiri"
Angka kematian Covid-19 di Indonesia dihapus dari indikator evaluasi (BBC Indonesia)

Suara.com - Keputusan pemerintah pusat menghapus data kematian akibat Covid-19 sebagai indikator mengevaluasi pembatasan sosial dianggap tidak sesuai kaidah pengendalian pandemi dan bisa berakibat fatal.

Padahal setidaknya dalam tujuh hari terakhir, jumlah kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, mencapai 12.054 kematian atau selisih 5.363 kematian dari Brasil yang ada di peringkat kedua.

Lembaga pemantau independen bahkan menyebut selama ini terdapat selisih 19.000 kematian antara data pemerintah daerah dan pusat.

Namun pemerintah menyebut penghapusan data kematian sebagai indikator evaluasi ini hanya bersifat sementara, sampai proses perbaikan data selesai dilakukan.

Pangkal dari penghapusan data kematian ini adalah pola pikir keliru para pejabat negara, kata epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo.

Keputusan yang tidak sesuai kaidah akademis itu menurutnya bisa membuat pandemi di Indonesia tidak kunjung selesai karena kebijakan pengendalian Covid-19 didasarkan pada data yang salah.

"Pola pikir pejabat kita keliru, kasus yang tampak tinggi dianggap aib," ujarnya via telepon, Rabu (11/08).

"Kalau dilaporkan dengan benar, kasus kematian memang tinggi di awal. Kalau data itu dibuat apa adanya, kita bisa membuat kebijakan yang tepat.

"Kalau datanya tidak benar, kita menipu diri sendiri. Datanya terlihat kecil, kita dianggap sudah aman dari Covid-19. Kebijakan yang diambil akhirnya tidak tepat, 'sudah kita longgarkan saja'.

"Masyarakat bisa lengah dan abai. 'Oh sudah aman kok, kita tidak usah perketat prokes'. Larinya bisa ke sana. Pandemi tidak bisa selesai kalau responsnya salah," ujar Windhu.

Pemerintah setidaknya dalam dua pekan ke depan tidak akan mempertimbangkan data kematian dalam mengevaluasi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4 dan level 3 di sejumlah daerah.

Hal ini dikatakan Juru Bicara Menko Maritim dan Investasi, Jodi Mahardi. Bos Jodi, Luhut Panjaitan, adalah koordinator penanggulangan Covid-19.

Dalam keterangan tertulis kepada BBC Indonesia, Jodi menyebut pemerintah akan terlebih dulu memastikan keakuratan data kematian.

Artinya, kelanjutan PPKM usai 16 Agustus mendatang tidak akan didasarkan pada data kematian ini.

Jodi berkata, pihaknya menemukan data kematian harian yang ternyata merupakan akumulasi beberapa minggu. Akibatnya, kata dia, data kematian itu tidak valid dan kebijakan pembatasan sosial terhadap suatu daerah pun tidak tepat.

"Banyak angka kematian yang ditumpuk atau dicicil pelaporannya sehingga dilaporkan terlambat. Jadi terjadi distorsi atau bias pada analisis sehingga sulit menilai perkembangan situasi satu daerah," kata Jodi.

"Hal serupa terjadi dengan kasus aktif, banyak kasus sembuh yang belum terlaporkan. "Sedang dilakukan clean up data, diturunkan tim khusus untuk ini. Nanti indikator kematian ini akan dimasukkan lagi jika datanya sudah rapi," ujarnya.

Jodi mengatakan indikator kebijakan PPKM yang digunakan adalah tingkat okupansi tempat tidur di rumah sakit, jumlah kasus positif, jumlah tes, rasio pelacakan, serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Walau perbaikan data Covid-19 vital dilakukan, Windhu Purnomo menilai jumlah kematian semestinya tetap menjadi pertimbangan.

Dalam pengendalian pandemi, kata dia, seluruh data saling melengkapi untuk melihat efektivitas kebijakan.

"Mengendalikan pandemi itu harus melihat hulu, yaitu rasio kepositifan, angka konfirmasi positif, indeks reproduksi penularan.

"Di hilir yang dilihat adalah okupansi tempat tidur, tingkat hospitasilasi, mortalitas (kematian) dan fatalitas. Kalau salah satu dicabut, bagaimana mengevaluasi keberhasilan kita.

"Kita akan seperti berada di lorong gelap tanpa lampu sorot. Seluruh indikator itu adalah lampu sorot kita," kata Windhu.

Bagaimanapun, persoalan data Covid-19 yang tidak kunjung selesai sejak tahun lalu dianggap aneh oleh analis data Lapor Covid-19, Said Fariz Hibban.

Lembaga tempat Said bekerja adalah pemantau independen yang digagas pakar dari berbagai bidang.

Said menyebut hingga saat ini format data dari laboratorium yang melakukan tes swab masih beragam, dari yang berbentuk dokumen pdf, fail gambar jpeg, hingga dalam bentuk lembar kerja excel.

Bahkan, kata dia, pengiriman data di beberapa daerah dilakukan lewat aplikasi pesan singkat Whatsapp, bukan melalui sistem pendataan yang terpusat.

"Sistemnya tidak terintegrasi. Data di situs pemerintah kabupaten/kota, provinsi, dan pemerintah pusat berbeda.

"Seharusnya bisa disinkronisasi di era teknologi canggih ini. Harusnya ini bisa diantisipasi pemerintah pusat untuk menciptakan sistem pelaporan yang lebih cepat. Saya khawatir ini tidak diperbaiki sehingga selisih data terus melebar," ujar Said.

"Ini masalah sumber daya manusia dan hal non-teknis, yaitu kemauan pemerintah memperbaiki ini. Kalau tidak ada keinginan kuat, masalah ini tidak akan segera beres," ucapnya.

Dalam pemantauannya, Said juga menemukan sejumlah tenaga kesehatan yang ditugaskan mengumpulkan dan mengirim data Covid-19 ke instansi pemerintah.

Menurutnya, tenaga kesehatan semestinya difokuskan untuk mengurus pasien. Dia menyarankan agar pemerintah merekrut tenaga pendata khusus agar persoalan tidak lagi muncul.

Menurut perhitungan Lapor Covid-19, hingga 7 Agustus lalu terdapat 124.790 orang meninggal dengan status positif Covid-19. Angka itu mereka hitung dari data resmi 510 pemerintah kabupaten dan kota.

Namun dalam periode yang sama, angka kematian yang dipublikasikan pemerintah pusat sebanyak 105.598 atau berselisih 19.192.

Selisih angka kematian positif Covid-19 terbesar terjadi di Jawa Tengah (9.662 kasus), Jawa Barat (6.215), Daerah Istimewa Yogyakarta (889), Papua (663), Kalimantan Barat (643), dan Sumatera Utara (616).

Seluruh angka tadi belum termasuk data orang meninggal dengan gejala Covid-19. Sejak tahun lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan setiap negara untuk mencatat kematian seperti ini sebagai kematian akibat Covid-19.

Namun pemerintah Indonesia memilih tidak melakukannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

RSD Wisma Atlet Hari Ini Rawat 1.660 Pasien Covid-19, BOR 21 Persen

RSD Wisma Atlet Hari Ini Rawat 1.660 Pasien Covid-19, BOR 21 Persen

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 10:26 WIB

Penjelasan Lengkap Jubir Luhut soal Data Kematian COVID-19 Dihapus

Penjelasan Lengkap Jubir Luhut soal Data Kematian COVID-19 Dihapus

Jakarta | Kamis, 12 Agustus 2021 | 10:17 WIB

Perjuangan Seorang Ayah Setelah di-PHK: Saya Ingin Jadi Relawan Covid

Perjuangan Seorang Ayah Setelah di-PHK: Saya Ingin Jadi Relawan Covid

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 10:17 WIB

Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Keluar Rumah, Ini Curhatan Warga Susahnya Ikut Vaksinasi

Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Keluar Rumah, Ini Curhatan Warga Susahnya Ikut Vaksinasi

Surakarta | Kamis, 12 Agustus 2021 | 10:13 WIB

Jubir Luhut Klaim Laporan Data Kematian Covid-19 Kerap Dicicil, jadi Kurang Update

Jubir Luhut Klaim Laporan Data Kematian Covid-19 Kerap Dicicil, jadi Kurang Update

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 09:59 WIB

Bukan Vaksin Covid-19, Viral Perawat Anti Vaksin Justru Suntik Ribuan Air Garam

Bukan Vaksin Covid-19, Viral Perawat Anti Vaksin Justru Suntik Ribuan Air Garam

Health | Kamis, 12 Agustus 2021 | 09:44 WIB

Polemik soal Data Kematian, Luhut: Bukan Dihapus, Hanya Tak Dipakai Sementara karena...

Polemik soal Data Kematian, Luhut: Bukan Dihapus, Hanya Tak Dipakai Sementara karena...

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 09:36 WIB

Terkini

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:41 WIB

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:38 WIB

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:33 WIB

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:34 WIB

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:00 WIB

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:50 WIB

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:38 WIB

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:31 WIB

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:20 WIB

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:01 WIB