Jauh dari Kata Merdeka, Kisah Badut Jalanan di Ibu Kota yang Hidupnya Terjebak Kostum

Agung Sandy Lesmana, Fakhri Fuadi Muflih

Senin, 23 Agustus 2021 | 17:26 WIB
Jauh dari Kata Merdeka, Kisah Badut Jalanan di Ibu Kota yang Hidupnya Terjebak Kostum
Jauh dari Kata Merdeka, Kisah Badut Jalanan di Ibu Kota yang Hidupnya Terjebak Kostum. Seorang badut jalanan yang sedang mencari uang di jalanan sambil menggendong anak bayi. (Suara.com/Fakhri)
Badut jalanan sambil membawa anak saat meminta-minta kepada pengendara jalan di Jakarta. (Suara.com/Fakhri)
Badut jalanan sambil membawa anak saat meminta-minta kepada pengendara jalan di Jakarta. (Suara.com/Fakhri)

Sudah sejak kecil ia menganggap tanggal 17 Agustus adalah warna tanggalan hitam, seperti hari biasa. Dari usia sekitar 10 tahun pria asli Jakarta ini sudah putus sekolah.

Ia enggan menceritakan orang tuanya, namun dia kadang suka kerja serabutan ikut saudara atau kenalan kerja apapun. Beberapa tahun terakhir dia sudah bekerja sebagai sopir angkot gelap di kawasan Ciganjur.

Baru empat bulan belakangan ini ia menjadi badut jalanan setelah diajak oleh rekannya sesama sopir angkot. Alasannya, menjadi sopir tidak bisa menutupi kebutuhannya sehari-hari terlebih di masa pandemi Covid-19 ini.

Setelah pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat, pemasukannya menurun drastis di bawah 50 ribu setiap hari. Dengan menjadi badut jalanan, ia bisa mendapatkan hampir dua kali lipat.

"Lagi banyak yang ngasih (uang), ya bisa Rp100 ribu, bisa Rp50 ribu kalau sepi," katanya menjelaskan pemasukannya.

Anaknya Hafid adalah hasil nikah siri dengan wanita yang sekarang berusia 17 tahun. Ia tak melegalkannya di Kantor Urusan Agama (KUA) karena merasa bukan prioritas.

"Enggak sempet juga, lagian sama aja juga," jawab Kiki.

Sepi Bantuan Pemerintah

Baginya negara merdeka yang sudah bisa berdiri mandiri haruslah hadir bagi rakyat. Namun ia tak merasakan adanya uluran tangan dalam bentuk apapun selama 20 tahun hidupnya.

baca juga
Badut jalanan sambil membawa anak saat meminta-minta kepada pengendara jalan di Jakarta. (Suara.com/Fakhri)
Badut jalanan sambil membawa anak saat meminta-minta kepada pengendara jalan di Jakarta. (Suara.com/Fakhri)

Bahkan di masa PSBB hingga PPKM sekarang, tak pernah ia rasakan bantuan sosial dalam bentuk tunai ataupun sembako. Wajar baginya, ia tak punya KTP ataupun Kartu Keluarga (KK).

Selama empat bulan menjadi badut jalanan, Kiki sudah tiga kali ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Kalau kejar-kejaran, sudah tak lagi dihitungnya.

Setiap tertangkap, ia dibawa ke gelanggang olahraga atau panti sosial untuk sementara. Biasanya hanya didata, menginap sehari, dapat makan, lalu pulang.

Berulang kali ia sudah mengeluh tak punya KTP dan KK kepada petugas yang mendatanya, tapi tak kunjung ada solusi. 

Ia memang mengakui bisa saja langsung mendatangi kantor setempat. Tapi pilihannya selalu mencari uang dari pada mengurus hal yang administratif.

"Enggak kerja seharian gitu kan kerasa. Anak kasih makan apa, istri juga," katanya.

Biasanya, Kiki mangkal menjadi badut jalanan di Jalan Antasari arah ke TB Simatupang. Sementara di belokan sebelahnya di arah Kemang, ada juga badut jalanan sepertinya.

Tak Ada Biaya Sekolahkan Anak

Namanya Ridho (27). Sama dengan Kiki, Ridho juga membawa anak perempuannya yang bernama Rani usia 6 tahun.

Ridho yang memakai kostum boneka beruang warna cokelat ini keliling meminta uang sambil menggandeng Rani. 

Di momen kemerdekaan itu, Ridho berharap Rani tak menjadi seperti dirinya. Namun apa daya, penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari bersama istrinya di rumah.

"Pengin emang sekolahin anak, kalau ada duit lebih kadang ditabung, eh kepakai juga buat bayar kontrakan," kata Ridho sambil beristirahat di trotoar jalan.

Pada 17 Agustus itu, daerah tempatnya tinggal mengadakan lomba kecil-kecilan memperingati HUT RI.

Sebenarnya ia ingin anaknya ikut agar tak melulu merasakan debu jalanan sambil mengharap uang. Namun, saat itu istrinya sedang sakit dan ia harus menjadi badut jalanan. Akhirnya Rani dibawanya ikut turun ke jalan.

Ia mengaku bangga karena anaknya tak mengeluh memaksa ingin ikut lomba ketimbang menemaninya.

"Dia emang maunya di-temenin saya juga sih. Gak rewel tahu ada lomba di rumah," jelasnya.

Badut jalanan sambil membawa anak saat meminta-minta kepada pengendara jalan di Jakarta. (Suara.com/Fakhri)
Badut jalanan sambil membawa anak saat meminta-minta kepada pengendara jalan di Jakarta. (Suara.com/Fakhri)

Di sisi lain, ia memang sudah sering mengajak anaknya itu untuk ikut bekerja.

"Emang lebih banyak sih orang ngasih (uang) kalau sama anak, he he," tuturnya sambil tertawa malu.

Kendati demikian, ia berharap kondisi ini tak berlangsung lama. Jika memang ada peringatan kemerdekaan Indonesia, Ridho bilang seharusnya pemerintah juga memerhatikan rakyat kecil seperti dirinya.

"Sekarang sudah makin susah, tambah susah. Ngapain mikirin kemerdekaan. Saya aja masih susah. Enggak tahu lah," katanya.

Gencar Razia

Menanggapi situasi sulit yang dialami keduanya itu, Kasie Rehabilitasi Tuna Sosial dan Korban Tindak Kekerasan Dinas Sosial DKI Jakarta, Dahru mengatakan pihaknya sudah rutin melakukan penjangkauan atau razia. 

Mulai dari manusia silver, badut jalanan, pengemis, manusia gerobak, dan lainnya yang tergolong Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sudah berulang kali ditertibkan.

"Kita kedepankan tindakan persuasif mengingat, tingginya angka Covid-19 di bulan Juni sampai dengan Agustus saat ini," ujar Dahru saat dihubungi.

Jika ada badut jalanan dan sejenisnya, mereka akan dibawa ke GOR untuk didata. Apabila memiliki tempat tinggal di Jakarta, maka akan dikembalikan. Namun jika tak punya, maka akan ditempatkan di panti dinas sosial. 

Lantaran setelah dilepas tertangkap lagi ketika sedang jadi badut jalanan, akan ditempatkan dipanti maksimal tiga hari, begitu seterusnya. Belum ada solusi jelas untuk menjawab masalah yang dialami oleh Ridho, Kiki dan lainnya.

"Kita ajak dialog. Kita minta secara baik-baik agar mereka pulang dan tidak lagi di jalan. Kita juga selalu monitor secara berkala tempat-tempat yang rawan PMKS," ucapnya.

"Jika sangat terpaksa, Jika ada laporan dari masyarakat yang meresahkan. Kondisinya saat ini tidak kita langsung bawa ke panti. Tapi kita swab dulu, jika positif kita rujuk ke puskesmas sesuai alur untuk isoman," tambahnya menjelaskan.

Ridho akhirnya menganggap petugas yang mewakili nama negara ini sebagai sosok yang tidak bersahabat. Kalau tertangkap hanya didata, untung dapat makan, tapi tak bekerja seharian hingga tiga hari.

"Lagi-lagi jadinya gak ada duit tuh seharian," jelas Ridho.

Padahal Ridho berharap ada solusi seperti lapangan pekerjaan yang lebih menjanjikan buatnya, tidak hanya sekadar didata.

"Kalau didata doang udah banyak nama saya kali, ha ha ha," katanya tertawa kecil.

Menjelang gelap, kaleng uangnya baru terisi setengah, kebanyakan uang Rp2 ribu. Ridho yang sudah sekitar 3 jam memakai kostum masih menunggu lampu kembali merah.

Begitu kendaraan mulai berhenti, Ridho yang sudah lelah ditarik oleh tangan kecil Rani yang sadar sudah waktunya mengelilingi kendaraan.

Sambil melambaikan tangan ke arah pengendara, ia hanya menyadari keesokan harinya masih sama. Ia harus mengulangi terus menjadi badut jalanan yang ceria dengan beban berat di punggungnya.

Harapannya, hanya puterinya itu bisa terbebas dari kondisi ini. Tak ikut terjebak dalam kostum boneka, tak merasa merdeka menjadi badut jalanan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pandemi Covid-19 Berdampak Pada Intervensi Penurunan Stunting di Indonesia

Pandemi Covid-19 Berdampak Pada Intervensi Penurunan Stunting di Indonesia

Health | Senin, 23 Agustus 2021 | 15:35 WIB

Bukan dari Laboratorium, Peneliti Temukan Skenario Asal Usul Virus Corona

Bukan dari Laboratorium, Peneliti Temukan Skenario Asal Usul Virus Corona

Health | Senin, 23 Agustus 2021 | 15:17 WIB

Gelar Acara Musik di Hari Kemerdekaan, Pemilik Kafe Diseret ke Meja Hijau

Gelar Acara Musik di Hari Kemerdekaan, Pemilik Kafe Diseret ke Meja Hijau

Jabar | Senin, 23 Agustus 2021 | 14:11 WIB

Utamakan Perlindungan Buruh, LKS Tripartit Nasional Dukung Pemerintah Atasi Dampak Pandemi

Utamakan Perlindungan Buruh, LKS Tripartit Nasional Dukung Pemerintah Atasi Dampak Pandemi

Bisnis | Senin, 23 Agustus 2021 | 13:54 WIB

Terkini

Jakarta Luncurkan Website HUT ke-500, Warga Bisa Daftar Jadi Mitra Perayaan

Jakarta Luncurkan Website HUT ke-500, Warga Bisa Daftar Jadi Mitra Perayaan

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 10:22 WIB

Dugaan Aliran Uang ke BEM UBK Bentuk Represi Halus terhadap Mahasiswa

Dugaan Aliran Uang ke BEM UBK Bentuk Represi Halus terhadap Mahasiswa

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 10:13 WIB

Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak

Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:29 WIB

Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus

Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:03 WIB

Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan

Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 07:55 WIB

Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM

Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 07:38 WIB

3  Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:42 WIB

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:41 WIB

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB