facebook

Sekolah Dibuka Lagi, Siswa SD di Tangsel Kikuk Pakai Masker hingga Jaga Jarak saat Belajar

Agung Sandy Lesmana
Sekolah Dibuka Lagi, Siswa SD di Tangsel Kikuk Pakai Masker hingga Jaga Jarak saat Belajar
Sekolah Dibuka Lagi, Siswa SD di Tangsel Kikuk Pakai Masker hingga Jaga Jarak saat Belajar. Siswi SDN Pondok Ranji 3 Tangerang Selatan saat mengikuti Pembelajaraan Tatap Muka (PTM). (Raihan Hanani)

"...Canggung lah gitu, apalagi sekarang banyak aturan harus jaga jarak, harus pakai masker dan sebagainya."

Suara.com - SDN Pondok Ranji 03, Tangerang Selatan kembali menggelar pembelajaraan tatap muka (PTM), Senin (13/9/2021) pagi tadi. Meski kembali bisa belajar di sekolah, para siswa dan siswi disebut kikuk untuk menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker hingga menjaga jarak. 

Rela, orang tua salah satu siswi mengatakan, Aylin Diva, putrinya yang baru duduk di kelas 1 SD itu sangat bersemangat untuk belajar setelah sekolah kembali dibuka. 

"Anaknya si senang yang tadinya di rumah kan pasti bosen, banyak ngeluhnya gak ada teman-temannya, itukan pastinya kurang semangat, kalau di sini kan ketemu secara langsung pasti semangatnya beda," kata Rela saat ditemui di lokasi. 

Protokol kesehatan tidak lupa disiapkan. Anjuran dari pihak sekolah, tidak membeli jajanan dari luar, meminjam alat tulis kepada temannya, dan membawa bekal dari rumah.

Baca Juga: Tak Bisa Ikut Sekolah Daring Karena Orang Tua Tak Punya Ponsel, Siswa SD Lupa Cara Baca

"Wajib prokes, handsanitizer, masker, seperti wajib bawa alat tulis sendiri, gak boleh minjem sama temen. Snack disarankan membawa dari rumah, karena hanya 1 jam paling hanya bawa minum aja," imbuh Rela.

Orang tua dari Diva tersebut, berangkat sesuai jadwal masuk sekolah. Secara bergiliran siswa/i mengikuti alur dari pihak sekolah.

"Dari jam 10 sampai jam 11 kalau anak saya sekolahnya," tutur Rela.

Setiap kegiatan yang dilakukan di sekolah wajib daring, mulai dari kegiatan lomba hingga pembelajaran virtual.

Murid jadi Kikuk

Baca Juga: Panggil Saksi Kasus Dugaan Korupsi di SMKN 7 Tangsel, KPK Geledah Rumah di Kawasan Bogor

Pertama kalinya murid mengikuti kegiatan PTM, wajah setiap siswa dan siswi begitu senang. Meski demikian, para siswa SD tampak kaget dengan transisi dari pembelajaran daring ke pembelajaran tatap muka. Rasa canggung meliputi perasaannya, melihat teman temannya langsung pada kesempatan belajar mengajar.

Siswi SDN Pondok Ranji 3 Tangerang Selatan saat mengikuti Pembelajaraan Tatap Muka (PTM). (Raihan Hanani)
Siswi SDN Pondok Ranji 3 Tangerang Selatan saat mengikuti Pembelajaraan Tatap Muka (PTM). (Raihan Hanani)

"Kalau hari pertama ini, Alhamdulillah tampak wajah anak-anak itu senang sekali gitu karena emang sudah lama sekali gak pernah ke sekolah, cuma yang pasti banyak kaget lah. Canggung lah gitu, apalagi sekarang banyak aturan harus jaga jarak, harus pakai masker dan sebagainya," jelas Arif Puguhsusilo, guru Islam kepada Suara.com.

"Yang pasti kan anak - anak membuat kebiasaan baru tetapi dalam kehidupan yang istilahnya umum buat anak - anak itu kan tidak biasa. Yang namanya ketemu anak - anak banyak pasti ketika pulangnya kumpul lagi sebagainya," lanjutnya.

Murid-murid dituntut agar tetap mematuhi prokes dengan jaga jarak. Dimulainya PTM ini para guru yang mengajar murid di kelas tetap menerapkan prokes yang dianjurkan pemerintah. 

"Saat pembelajaran selalu prokes, bahkan guru - gurunya aja kalau di dalam kelas pakai sarung tangan dan face shield. Sama semua, kita menerapkan apa yang dianjurkan dalam protokol kesehatan," papar Arif.

SDN Pondok Ranji 3 Tangerang Selatan. (Raihan Hanani)
SDN Pondok Ranji 3 Tangerang Selatan. (Raihan Hanani)

Murid Pasif saat Belajar Daring 

Sebelum dimulainya PTM, kegiatan daring dilakukan secara penuh dari pihak sekolah. Sangat disayangkan saat daring, murid lebih cenderung pasif dibandingkan dengan orang tua wali murid. 

"Jadinya kurang ya. Kalau biasanya tatap muka sama guru kan jadi dekat anak-anaknya, dengan adanya sistem daring ini membuat kesenjangan antar guru dan siswa pastinya. Karena yang lebih deket orang tua, yang aktif itu menjadi orang tua, orang tua-orang tuanya yang aktif kalau ada apa-apa pasti nanya," kata Arif.

Guru agama Islam tersebut menyayangkan adanya potensi diri dari murid ketika waktu daring tak dapat terlihat. Guru tidak dapat berinteraksi langsung yang dapat menimbulkan rasa kekeluargaan antara murid dan guru. 

"Sedangkan yang dibutuhkan itu pasti siswanya, apalagi guru  yang ingin mengetahui karakter anak, potensi anak. itu sangat susah sekali pada saat daring," jelasnya.

Kegiatan yang biasa diikuti siswa jadi tidak tergapai. Lomba - lomba yang biasa diadakan secara langsung menjadi lomba online. SDN 3 Pondok Ranji mengikuti perlombaan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) sampai tingkat provinsi, perlombaan tersebut di ikuti dari rumah peserta masing - masing. 

"Jadi kalau di sekolahan itu nihil tidak ada kegiatan apapun kecuali lomba - lomba, lombanya pun itu online," kata Arif. (Raihan Hanani)

Komentar