60 Persen Anak Muda Indonesia Khawatirkan Fenomena Perubahan Iklim

Reza Gunadha | BBC | Suara.com

Kamis, 16 September 2021 | 17:52 WIB
60 Persen Anak Muda Indonesia Khawatirkan Fenomena Perubahan Iklim
[BBC Indonesia]

Suara.com - Sebuah survei global terbaru memperlihatkan kecemasan tinggi yang dialami kaum muda tentang perubahan iklim. Dalam survei berbeda, 89 persen warga Indonesia mengakui sangat khawatir terhadap nasib generasi mendatang.

Nyaris 60 persen anak muda yang disurvei berkata mereka merasa khawatir atau sangat khawatir.

Lebih dari 45 persen dari responden juga mengatakan perasaan tentang keadaan iklim ini memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Tiga per empat dari seluruh responden mengaku masa depan tampak menakutkan. Lebih dari separuh (56 persen) mengatakan umat manusia tengah menghadapi kehancuran.

Dua per tiga dilaporkan merasa sedih, takut, dan cemas. Banyak yang merasa khawatir, marah, putus asa, sedih, dan malu — namun juga penuh harap.

Seorang responden berusia 16 tahun berkata: "Ini berbeda untuk anak-anak muda — bagi kami, kerusakan planet adalah hal yang personal."

Survei yang melibatkan 10 negara ini dipimpin oleh Universitas Bath dan bekerjasama dengan lima universitas lain.

Penelitian didanai oleh kelompok kampanye dan riset Avaaz. Survei ini disebut-sebut sebagai yang terbesar, dengan responden sebanyak 10.000 orang di usia antara 16-25 tahun.

Sebagian besar responden mangaku mereka merasa tak punya masa depan, umat manusia di ambang kehancuran, dan pemerintah gagal merespons ancaman iklim dengan baik.

Banyak pula yang merasa dikhianati, diabaikan, dan tidak dipedulikan oleh para politisi dan orang dewasa.

Para penulis survei mengatakan anak-anak muda ini merasa bingung dengan kegagalan tindakan para pemerintah. Mereka berkata, ketakutan atas lingkungan "memengaruhi banyak sekali anak muda".

Stress kronis karena perubahan iklim, menurut mereka, meningkatkan risiko permasalahan mental dan fisik.

Dan jika keadaan cuaca semakin memburuk, dampak terhadap kesehatan mental akan mengikuti. 

"Saya cemas, takut rumah kebanjiran"

Dalam survei berbeda yang diadakan di Indonesia, sebanyak 89 persen responden mengatakan sangat khawatir akan dampak perubahan iklim.

Ada 85 persen orang yang mengatakan bahwa isu iklim penting bagi kehidupan mereka, dan bisa memberi dampak buruk secara langsung pada diri mereka sendiri (66 persen) dan generasi mendatang (74 persen).

Mereka yang merasa khawatir rata-rata tinggal di area yang rawan akan bencana alam, seperti Jakarta, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.

Meski begitu, hanya 23 persen yang meyakini manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas perubahan iklim.

Sisanya percaya bahwa hal-hal lain memberi pengaruh pada terjadinya bencana alam, seperti 'hukuman dari Tuhan' (44 persen), 'peringatan Tuhan' (24 persen), dan penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia (21 persen).

Serupa dengan survei global Avaaz, mereka yang berada di Indonesia juga mengaku perubahan iklim dan bencana alam telah memberi dampak negatif pada kehidupan.

Sebanyak 54 persen mengatakan perubahan iklim memengaruhi kesehatan fisik, dan 41 persen menuturkan adanya tekanan emosional dan kecemasan akan nasib diri dan keluarga.

"Saat hujan, saya merasa sangat cemas, takut kalau rumah akan kebanjiran," kata seorang responden.

Hanya 76 persen mengatakan pemerintah Indonesia harus bertindak untuk membuat perubahan.

Survei Indonesians & Climate Change ini diadakan oleh Purpose Climate Lab, dengan 2.073 responden dari 27 wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia secara daring dan luring.

Survei global ini juga menyebut bahwa anak-anak muda merasa sangat terdampak akan ketakutan soal iklim secara psikologis, sosial, dan fisik.

Penulis utama survei ini, Caroline Hickman dari Universitas Bath, berkata kepada Roger Harrabin dari BBC News: "Ini menunjukkan bahwa kecemasan akan alam bukan hanya karena kerusakan lingkungan saja.

"Tapi tak bisa dihindari, sangat berkaitan dengan ketiadaan tindakan para pemerintah tentang perubahan iklim.

"Anak-anak muda merasa diabaikan dan tidak dipedulikan oleh pemerintah.

"Kami tidak hanya mengukur bagaimana perasaan mereka, namun apa pemikiran mereka. Empat dari 10 orang merasa ragu untuk memiliki anak.

"Para pemerintah harus mendengarkan ilmu pengetahun dan tidak mengabaikan suara anak-anak muda yang merasa cemas."

Para penulis laporan yang akan diterbitkan di jurnal Lancet Planetary Health ini mengatakan, tingkat kecemasan terlihat lebih tinggi di negara-negara dengan pemerintahan yang membuat aturan lemah tentang perubahan iklim.

Kekhawatiran paling besar berasal dari belahan Bumi di bagian selatan. Negara terkaya dengan responden yang memiliki tingkat kecemasan tertinggi adalah Portugal, yang beberapa tahun terakhir mengalami beberapa kali kebakaran hutan.

Tom Burke dari lembaga pemikir e3g berkata kepada BBC News: "Sangat rasional bagi anak-anak muda untuk merasa khawatir.

"Mereka tidak hanya membaca tentang perubahan iklim melalui media — namun merasakannya terjadi di depan mata."

Para penulis laporan juga meyakini bahwa kegagalan para pemerintah dalam merespon perubahan iklim bisa disebut sebagai kejahatan di bawah peraturan tentang hak asasi manusia.

Enam anak muda di Portugal telah menyeret pemerintah mereka ke pengadilan dengan tuntutan pelanggaran HAM.

Survei ini dilakukan oleh lembaga analisis data Kantar di Inggris, Finlandia, Prancis, AS, Australia, Portugal, Brasil, India, Filipina, dan Nigeria.

Saat ini, penelitian tersebut sedang dalam tinjauan sejawat dengan akses yang terbuka.

Para peneliti juga mengaku merasa terkejut dengan skala kecemasan para responden.

Salah seorang di antaranya, misalnya, berkata, "Saya tidak ingin mati, tapi saya juga tidak ingin hidup di dunia yang tidak peduli pada anak-anak dan hewan."

Anda mungkin tertarik menonton video ini:

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Solusi Perubahan Iklim Bersama Mobil Listrik, KBRI Seoul Andalkan Hyundai IONIQ 5

Solusi Perubahan Iklim Bersama Mobil Listrik, KBRI Seoul Andalkan Hyundai IONIQ 5

Otomotif | Kamis, 16 September 2021 | 12:29 WIB

Perubahan Iklim Kian Serius, Gus Muhaimin Kampanyekan Politik Hijau

Perubahan Iklim Kian Serius, Gus Muhaimin Kampanyekan Politik Hijau

DPR | Rabu, 15 September 2021 | 12:04 WIB

Tim Medis Coba Ungkap Misteri Kematian Massal Burung Pipit di Balai Kota Cirebon

Tim Medis Coba Ungkap Misteri Kematian Massal Burung Pipit di Balai Kota Cirebon

Jabar | Selasa, 14 September 2021 | 16:22 WIB

Sri Mulyani Usul Ada Tarif Pajak Karbon Rp 75 per Kilogram

Sri Mulyani Usul Ada Tarif Pajak Karbon Rp 75 per Kilogram

Bisnis | Selasa, 14 September 2021 | 11:58 WIB

Perubahan Iklim: Bencana terkait Cuaca Naik Tajam dalam 5 Dekade Terakhir

Perubahan Iklim: Bencana terkait Cuaca Naik Tajam dalam 5 Dekade Terakhir

News | Jum'at, 10 September 2021 | 16:29 WIB

Pabrik Penyedot Karbon Dioksida Terbesar di Dunia Mulai Beroperasi di Islandia

Pabrik Penyedot Karbon Dioksida Terbesar di Dunia Mulai Beroperasi di Islandia

News | Jum'at, 10 September 2021 | 15:58 WIB

Atasi Perubahan Iklim, Wirausahawan Muda Perlu Didukung Kembangkan Energi Alternatif

Atasi Perubahan Iklim, Wirausahawan Muda Perlu Didukung Kembangkan Energi Alternatif

Bisnis | Rabu, 08 September 2021 | 18:50 WIB

Terkini

Dokter Rumah Horor yang Pernah Gegerkan AS Tewas Misterius saat Jalani Hukuman Seumur Hidup

Dokter Rumah Horor yang Pernah Gegerkan AS Tewas Misterius saat Jalani Hukuman Seumur Hidup

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 23:30 WIB

Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM

Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 22:10 WIB

Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa

Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:45 WIB

Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut

Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:26 WIB

Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang

Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:00 WIB

Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19

Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:00 WIB

Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps

Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:56 WIB

Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli

Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:55 WIB

Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir

Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:52 WIB

Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran

Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:31 WIB