Perubahan Iklim: Bencana terkait Cuaca Naik Tajam dalam 5 Dekade Terakhir

Siswanto, BBC

Jum'at, 10 September 2021 | 16:29 WIB
Perubahan Iklim: Bencana terkait Cuaca Naik Tajam dalam 5 Dekade Terakhir
BBC

Suara.com - Jumlah bencana alam yang terkait dengan cuaca di seluruh dunia naik lima kali lipat dalam 50 tahun terakhir, kata Badan Meteorologi Dunia (WMO).

Meski begitu, jumlah orang yang tewas karena badai, banjir, dan kekeringan turun tajam.

Para ilmuwan berkata perubahan iklim, cuaca yang lebih ekstrem, dan pelaporan yang lebih baik menjadi alasan di balik kenaikan peristiwa-peristiwa ekstrem ini.

Namun perbaikan sistem peringatan telah membantu membatasi angka kematian.

Baca juga:

Seiring dengan suhu global yang meningkat dalam beberapa dekade terakhir, jumlah bencana yang terkait dengan cuaca dan air yang ekstrem juga meningkat secara signifikan.

Dalam 50 tahun, di antara 1970 dan 2019, ada lebih dari 11.000 bencana terkait cuaca, menurut atlas terbaru dari WMO yang mendata skala seluruh peristiwa ekstrem ini.

Lebih dari dua juta orang meninggal dunia karena bencana alam akibat perubahan iklim, dengan kerugian ekonomi mencapai US$3,64 triliun (Rp51 kuadriliun).

"Jumlah cuaca, iklim dan air ekstrem terus naik dan akan lebih sering terjadi, juga lebih parah, di banyak bagian di dunia karena perubahan iklim," kata Sekretaris Jenderal WMO Prof Petteri Taalas.

baca juga

"Ini berarti, akan ada lebih banyak gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan seperti yang telah kita lihat di Eropa dan Amerika Utara. Ada lebih banyak uap air di atmosfer, yang memperburuk curah hujan ekstrim dan banjir bandang. Pemanasan suhu lautan telah mempengaruhi frekuensi dan area terjadinya badai tropis yang intens," tambahnya.

Lebih dari 90% kematian yang terkait dengan bencana karena cuaca ada di negara-negara berkembang.

Korban tewas terbanyak akibat bencana banjir, yang merenggut nyawa 650.000; sementara korban paling kecil adalah akibat suhu ekstrem yang membunuh nyaris 56.000 orang.

Namun selama periode 50 tahun terakhir, angka kematian total dari bencana alam turun drastis.

"Di balik data yang mencolok ini, ada sebuah harapan," kata Prof Taalas.

"Sistem peringatan diri untuk bencana alam yang terus membaik telah berperan besar menurunkan angka kematian. Sederhananya, kita telah menjadi lebih baik dalam menyelamatkan nyawa."

Namun, meski lebih banyak nyawa yang berhasil diselamatkan, dampak ekonomi bertambah buruk.

Kerugian yang dilaporkan selama dekade antara 2010-2019 sekitar US$383 juta (Rp5,4 triliun) per hari, tujuh kali lipat dari US$ 49 juta (Rp697 miliar) per hari pada periode 1970-1979.

2017: Tahun paling merugikan

Tiga peristiwa ekstrem dengan dampak finansial terbanyak terjadi pada tahun yang sama - 2017. Di tahun tersebut, Badai Harvey, Maria dan Irma menghantam AS. Jika digabungkan, dampak ekonomi dari tiga badai tersebut menyumbang 35% dari total kerugian akumulatif 10 bencana dengan kerugian terbesar yang terjadi antara 1970 dan 2019.

Bencana terburuk dipandang dari kerugian ekonomi

Jenis bencana

Tahun

Negara

Kerugian dalam juta dolar AS

Badai (Katrina)

2005

AS

163.61

Badai (Harvey)

2017

AS

96.94

Badai (Maria)

2017

AS

69.39

Badai (Irma)

2017

AS

58.16

Badai (Sandy)

2012

AS

54.47

Badai (Andrew)

1992

AS

48.27

Banjir

1998

China

47.02

Banjir

2011

Thailand

45.46

Badai (Ike)

2008

AS

35.63

Banjir

1995

Korea Utara

25.17

Data di atas menunjukkan, meskipun perbaikan dalam sistem peringatan dini telah membantu menyelamatkan nyawa, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi.

Hanya separuh dari 193 negara di dunia yang merupakan anggota WMO yang memiliki sistem deteksi dini multi-bencana.

Juga ada kesenjangan besar dalam jejaring pengobservasi cuaca dan hidrologis di Afrika, beberapa wilayah di Amerika Latin, juga di negara-negara kepulauan di Pasifik dan Karibia.

"Lebih banyak nyawa diselamatkan berkat sistem peringatan dini, tetapi jumlah orang yang terpapar risiko bencana juga meningkat karena pertumbuhan populasi dan meningkatnya intensitas dan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem," ujar Mami Mizutori, perwakilan khusus Sekjen PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana.

"Kerja sama internasional yang lebih baik sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan banyaknya orang yang harus mengungsi setiap tahun karena banjir, badai, dan kekeringan.

"Kita butuh investasi lebih besar dalam manajemen risiko bencana yang komprehensif, dan memastikan bahwa adaptasi perubahan iklim terintegrasi dalam strategi pengurangan risiko bencana lokal dan nasional," ujar dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Memahami Bencana Karhutla di Kawi-Butak: Saat Eksotisme Alam Berubah Jadi Tantangan Berbahaya

Memahami Bencana Karhutla di Kawi-Butak: Saat Eksotisme Alam Berubah Jadi Tantangan Berbahaya

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 09:50 WIB

Prabowo Sebut Sisi Positif dari Bencana Indonesia: Tanah Jadi Subur

Prabowo Sebut Sisi Positif dari Bencana Indonesia: Tanah Jadi Subur

Video | Jum'at, 18 September 2026 | 16:00 WIB

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:30 WIB

Arti Mimpi Bencana Alam, Pertanda Baik atau Buruk?

Arti Mimpi Bencana Alam, Pertanda Baik atau Buruk?

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 20:55 WIB

Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator

Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator

News | Senin, 14 September 2026 | 11:14 WIB

Dudung Tegaskan Ulta Levenia Bukan Bagian KSP: Bencana Alam Kehendak yang Kuasa

Dudung Tegaskan Ulta Levenia Bukan Bagian KSP: Bencana Alam Kehendak yang Kuasa

News | Kamis, 10 September 2026 | 17:46 WIB

Data, Sains, dan Keselamatan: Seperti Apa Negara yang Siap?

Data, Sains, dan Keselamatan: Seperti Apa Negara yang Siap?

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 12:20 WIB

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Masih Siaga

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Masih Siaga

Foto | Kamis, 10 September 2026 | 06:00 WIB

Erupsi Anak Krakatau Jadi Pengingat Pentingnya Mitigasi dan Kesiapan Evakuasi Darurat

Erupsi Anak Krakatau Jadi Pengingat Pentingnya Mitigasi dan Kesiapan Evakuasi Darurat

News | Selasa, 08 September 2026 | 21:03 WIB

Jalan Sore Sambil Pukul Panci, Ibu-Ibu di Jogja: Stop MBG, Negara Jangan Budek

Jalan Sore Sambil Pukul Panci, Ibu-Ibu di Jogja: Stop MBG, Negara Jangan Budek

News | Selasa, 08 September 2026 | 19:29 WIB

Terkini

Jangan Remehkan Kata-kata: Bahasa Dipersempit, Pikiran Ikut Dikendalikan

Jangan Remehkan Kata-kata: Bahasa Dipersempit, Pikiran Ikut Dikendalikan

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 08:10 WIB

Biaya Hidup Meningkat, Kesehatan Keuangan Anak Muda Turun

Biaya Hidup Meningkat, Kesehatan Keuangan Anak Muda Turun

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 08:10 WIB

Banjir Bandang Terjang Kompleks Pemkab Solok! Kantor PUPR hingga DPRD Terdampak Parah

Banjir Bandang Terjang Kompleks Pemkab Solok! Kantor PUPR hingga DPRD Terdampak Parah

News | Selasa, 22 September 2026 | 08:03 WIB

Skandal Korupsi Masjid Agung Mesuji dan Kredit Fiktif Rp6,7 Miliar Dibongkar Polda Lampung

Skandal Korupsi Masjid Agung Mesuji dan Kredit Fiktif Rp6,7 Miliar Dibongkar Polda Lampung

Lampung | Selasa, 22 September 2026 | 07:58 WIB

Cara Menghilangkan Noda Minyak di Baju, Bisa Pakai Bahan di Rumah

Cara Menghilangkan Noda Minyak di Baju, Bisa Pakai Bahan di Rumah

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 07:55 WIB

KPR Fiktif Disorot OJK, Pengawasan Penyaluran Kredit Jadi Perhatian

KPR Fiktif Disorot OJK, Pengawasan Penyaluran Kredit Jadi Perhatian

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 07:54 WIB

Lolos dari Maut Masalembo: Kisah Koki KM Virgo Bertahan 9 Jam Sambil Menelan Air Laut Campur Solar

Lolos dari Maut Masalembo: Kisah Koki KM Virgo Bertahan 9 Jam Sambil Menelan Air Laut Campur Solar

Jatim | Selasa, 22 September 2026 | 07:50 WIB

Perkuat Layanan BNPL Digital, Indodana Finance Dapat Pendanaan Rp700 Miliar

Perkuat Layanan BNPL Digital, Indodana Finance Dapat Pendanaan Rp700 Miliar

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 07:47 WIB

Heboh Isu Larangan Memakai Jilbab Saat Wawancara Magang di Solo Safari, PKS Turun Langsung

Heboh Isu Larangan Memakai Jilbab Saat Wawancara Magang di Solo Safari, PKS Turun Langsung

Surakarta | Selasa, 22 September 2026 | 07:47 WIB

Daftar 3 Media Gugat Donald Trump karena Dilarang Liputan di Gedung Putih

Daftar 3 Media Gugat Donald Trump karena Dilarang Liputan di Gedung Putih

News | Selasa, 22 September 2026 | 07:46 WIB

×