Bambang Pacul Sebut Pendukung Ganjar Celeng: Capres Selain Puan Maharani Dilarang Muncul?

Agung Sandy Lesmana | Novian Ardiansyah | Suara.com

Rabu, 13 Oktober 2021 | 16:01 WIB
Bambang Pacul Sebut Pendukung Ganjar Celeng: Capres Selain Puan Maharani Dilarang Muncul?
Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto. [Suara.com/Stephanus Aranditio]

Suara.com - Pernyatakan Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu sekaligus Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul dianggap tidak bijak terkait pelabelan "celeng" bagi pendukung Ganjar Pranowo. Pernyataan itu dianggap menghina manusia lantaran menyamakannya dengan binatang.

Bambang tersulut dengan DPC Seknas Ganjar Indonesia (SGI) Kabupaten Purworejo yang mendeklarasikan diri siap mendukung Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo maju Pilpres 2024. Sebutan celeng itupun diduga untuk mendiskreditkan kader yang mendukung Ganjar.

Penyebutan celeng itu lantaran Bambang Pacul tidak senang jika ada kader yang bicara pencapresan mendahului Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Namun menurut Pangi Syarwi Chaniago Analis Politik, sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Bambang seharusnya tidak perlu menggunakan diksi "celeng" dalam pernyataan yang dilontarkan. Dengan gaya bahasa yang digunakan, Pangi menganggap Bambang Pacul justru hanya memantik perpecahan di internal partai.

"Sangat tidak bijak dengan gaya bahasa yang saya pikir sudah memecah dan mendiskreditkan kader PDIP sendiri," ujar Pangi dihubungi, Rabu (13/10/2021).

Pangi menyoroti sikap Bambang Pacul yang justru terkesan menutup suara dukungan dari kader terhadap Ganjar atau kader lain yang potensial. Padahal di satu sisi ada juga suara dukungan yang ditujukan kepada Ketua DPP Puan Maharani untuk maju Pilpres 2024. Namun sikap yang sama terhadap pendukung Ganjar tidak ditunjukkan oleh Bambang.

Seharusnya dikatakan Pangi adanya suara dan kehendak akar rumput yang berbeda dengan DPP tidak menjadi masalah. Mengingat pendapat dan suara itu bagian dari demokrasi. Sehingga suara yang berbeda itu tidak harus dibungkam dan didiskreditkan.

Terlebih sejauh ini, Megawati selaku Ketua Umum PDIP belum memberikan keputusan apapun terkait kader mana yang akan diusung dan didukung manu dalam pemilihan presiden 2024.

"Kan aneh saja kalau kemudian tidak boleh ada yang bunyi selain nama Puan. Sementara keputusan DPP belum ada, artinya setiap kader PDIP bisa bersuara untuk capres yang mereka idolakan dan dukung," ujar Pangi.

Berbeda misalnya, kata Pangi apabila Megawati suda memutuskan satu nama untuk diusung menjadi calon presiden. Maka selurih kader harus taat dan menghormati keputusan tersebut. Sehingga tidak boleh lagi ada suara yang berbeda.

"Jadi semestinya dinamika yang terjadi dan suara yang berbeda di akar rumput DPC partai harusnya direspons dengan santai tanpa harus reaksioner, mengunakan bahasa yang lebih berkelas tanpa mengunakan bahasa binatang seperti celeng. Karena ini bisa menganggu soliditas di internal partai, class yang bisa mempengaruhi mesin partai," tutur Pangi.

"PDIP setahu saya masih menghormati dinamika dan suara yang berbeda di akar rumput soal capres yang potensial."

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin berpendapat bahwa sebutan kata ‘celeng’ bagi kader-kader PDIP yang mendukung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden merupakan tindakan yang berlebihan.

Ujang Kamrudin mengatakan bahwa manusia itu mulia, jika kader PDIP disebut dengan nama binatang itu masuk kategori penghinaan.

“Terlalu keras dan berlebihan jika kader-kader PDI-Perjuangan yang deklarasi Ganjar disebut “celeng” atau “babi”. Karena manusia itu mulia, jika disebut dengan nama binatang, itu bisa masuk kategori penghinaan,” kata Ujang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Soal Sinisme Banteng-Celeng Jelang Pilpres 2024, Bisa Picu PDIP Pecah?

Soal Sinisme Banteng-Celeng Jelang Pilpres 2024, Bisa Picu PDIP Pecah?

News | Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:10 WIB

Kader PDIP Jadi Barisan Celeng Berjuang, Pangamat: Hanya Ganjar yang Bisa Meredam

Kader PDIP Jadi Barisan Celeng Berjuang, Pangamat: Hanya Ganjar yang Bisa Meredam

Jawa Tengah | Rabu, 13 Oktober 2021 | 11:08 WIB

Kader PDIP Pendukung Ganjar Disebut Celeng, Pengamat: Penghinaan, Manusia Itu Mulia

Kader PDIP Pendukung Ganjar Disebut Celeng, Pengamat: Penghinaan, Manusia Itu Mulia

Jawa Tengah | Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:21 WIB

Barisan Celeng Berjuang Bisa Picu Keretakan Internal PDIP, Pengamat: Simbol Perlawanan

Barisan Celeng Berjuang Bisa Picu Keretakan Internal PDIP, Pengamat: Simbol Perlawanan

Jawa Tengah | Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:26 WIB

Terkini

Kisah Difabel Tuli Perdana Dengar Suara Takbiran: Dulu Duniaku Sangat Sunyi

Kisah Difabel Tuli Perdana Dengar Suara Takbiran: Dulu Duniaku Sangat Sunyi

News | Senin, 23 Maret 2026 | 19:17 WIB

Viral Keluhan Ban Mobil Dikempeskan di Monas, Kadishub DKI: Jangan Parkir di Badan Jalan!

Viral Keluhan Ban Mobil Dikempeskan di Monas, Kadishub DKI: Jangan Parkir di Badan Jalan!

News | Senin, 23 Maret 2026 | 19:13 WIB

Hampir 100 Persen Pengungsi Bencana di Sumatera Tak Lagi di Tenda

Hampir 100 Persen Pengungsi Bencana di Sumatera Tak Lagi di Tenda

News | Senin, 23 Maret 2026 | 19:02 WIB

Kritik KPK, Sahroni Usul Tahanan Rumah Harus Bayar Mahal: Biar Negara Gak Rugi-Rugi Banget

Kritik KPK, Sahroni Usul Tahanan Rumah Harus Bayar Mahal: Biar Negara Gak Rugi-Rugi Banget

News | Senin, 23 Maret 2026 | 19:02 WIB

Mudik Siswa Sekolah Rakyat, Naila Akhirnya Punya Rumah Baru Layak Huni

Mudik Siswa Sekolah Rakyat, Naila Akhirnya Punya Rumah Baru Layak Huni

News | Senin, 23 Maret 2026 | 19:00 WIB

Tentara Amerika Gali Kuburannya Sendiri Jika Serang Pulau Kharg

Tentara Amerika Gali Kuburannya Sendiri Jika Serang Pulau Kharg

News | Senin, 23 Maret 2026 | 18:55 WIB

Dukung Wacana WFH ASN demi Hemat Energi, Komisi II DPR: Tapi Jangan Disalahgunakan untuk Liburan

Dukung Wacana WFH ASN demi Hemat Energi, Komisi II DPR: Tapi Jangan Disalahgunakan untuk Liburan

News | Senin, 23 Maret 2026 | 18:54 WIB

Lebaran Perdana Warga Kampung Nelayan Sejahtera, Kini Tanpa Rasa Cemas

Lebaran Perdana Warga Kampung Nelayan Sejahtera, Kini Tanpa Rasa Cemas

News | Senin, 23 Maret 2026 | 18:52 WIB

Eks Menag Yaqut Jadi Tahanan Rumah, Mantan Penyidik: KPK Tak Boleh Beri Perlakuan Istimewa

Eks Menag Yaqut Jadi Tahanan Rumah, Mantan Penyidik: KPK Tak Boleh Beri Perlakuan Istimewa

News | Senin, 23 Maret 2026 | 18:48 WIB

Turap Longsor di Kramat Jati, 50 Personel Gabungan Dikerahkan

Turap Longsor di Kramat Jati, 50 Personel Gabungan Dikerahkan

News | Senin, 23 Maret 2026 | 18:42 WIB