Hadapi La Nina, Stok Pangan Aman, Tapi Akses Distribusi Rawan Bermasalah

Siswanto, Deutsche Welle

Sabtu, 13 November 2021 | 05:14 WIB
Hadapi La Nina, Stok Pangan Aman, Tapi Akses Distribusi Rawan Bermasalah
DW

Suwandi mengimbau petani untuk menggunakan benih padi yang pemerintah rekomendasikan karena lebih toleran terhadap banjir yang merendam lahan persawahan selama berhari-hari.

"Disarankan kepada para petani untuk menggunakan varietas padi tahan rendaman sebagai solusi agar pertanian tidak terganggu, terutama para petani yang berada di lahan sawah dataran rendah atau rawa," ujar Suwandi.

Akses distribusi rawan bermasalah

Sementara Angga Hermanda, Ketua Departemen Politik, Hukum, dan Keamanan di Serikat Petani Indonesia (SPI), setuju bahwa stok pangan saat ini masih aman, tetapi yang menjadi masalah adalah distribusinya.

Akibat bencana alam, fasilitas infrastruktur seperti jembatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, misalnya, saat ini rusak dan dampaknya, proses distribusi pangan dari kota ke desa dan sebaliknya jadi terhambat, menurut laporan anggota SPI di Kalimantan Selatan.

"Sampai saat ini stok pangan masih terjaga, tapi yang menjadi kekhawatiran kita itu kondisi di awal tahun 2022," kata Angga kepada DW Indonesia.

Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), La Nina akan terjadi hingga awal tahun 2022.

Padahal, awal tahun seharusnya dirayakan sebagai momen panen raya padi. Oleh karena itu, upaya mitigasi yang tepat dari pemerintah sangat dinanti oleh masyarakat saat ini.

"Jika upaya mitigasi pemerintah tidak pas, apa yang terjadi pada 2015 dan 2016 bisa terulang. Pada waktu itu, produksi menurun, dan akhirnya kita membuka keran impor," katanya.

baca juga

Benih tahan genangan air dianggap bukan solusi Bagi Angga, mengimbau petani untuk menggunakan benih rekomendasi pemerintah bukanlah langkah mitigasi yang tepat.

"Itu menyelesaikan masalah dengan masalah baru," kata Angga. Angga mengingatkan bahwa iklim, pH tanah, dan kadar air di setiap daerah berbeda-beda dan karenanya karakteristik varietas padi di setiap daerah juga berbeda. Jika diseragamkan, bisa muncul berbagai penyakit.

"(Jika Inpari 29 untuk inbrida padi sawah irigasi), bagaimana dengan padi huma atau padi ladang? Karena banyak petani kita yang menanam di ladang, tidak hanya di sawah irigasi," kata Angga.

Selain itu, benih-benih unggul tahan banjir yang direkomendasikan pemerintah dinilainya tidak ramah lingkungan karena masih memerlukan pupuk dan pestisida kimia.

Membangun pertanian agroekologi Angga kembali mempertanyakan mengapa pemerintah mendorong masyarakat untuk menggunakan benih tahan banjir seperti Inpara 1 sampai Inpara 10, padahal petani-petani Indonesia sudah memiliki produk lokal yang ramah lingkungan, seperti benih padi SPI 20 dan SPI 21.

"Petani kita bisa membenihkan padinya sendiri, tanpa harus beli ke toko atau perusahaan. Banyak petani kita masih melakukan penangkaran benih sendiri dan benih," kata Angga.

Benih padi SPI 20 dan SPI 21 ini penting dalam membangun pertanian agroekologi. Model pertanian ini justru mampu mendinginkan suhu bumi karena ramah lingkungan.

"Di dalam pertanian agroekologi, semuanya ramah lingkungan dan alami. Kita mandiri dalam melakukan aktivitas pertanian. Petani itu mandiri. Kita produksi pupuk sendiri, bukan pupuk dan pestisida dari perusahaan," katanya.

Berbeda dengan benih tahan genangan rekomendasi pemerintah, SPI 20 dan SPI 21 tidak membutuhkan pupuk dan pestisida kimia sehingga unsur hara di tanah bisa terjaga.

"Kalau kita terus-terusan pakai pupuk kimia dan obat-obatan dari perusahaan, kesuburan tanah semakin menurun. Sebagus apa pun benih padi, produksi akan menurun ketika kesuburan tanah juga menurun," katanya.

"Ini juga perlu diperhatikan, bukan hanya mengenai solusi varietas yang tahan banjir atau tahan air dari Kementerian Pertanian."

Sistem peringatan dini perlu diperkuat

Menurut Angga dari SPI, sistem peringatan dini yang kuat merupakan kunci untuk mengantisipasi gagal panen akibat bencana alam.

Akan tetapi, menurutnya belum ada upaya dari pemerintah pusat dan daerah untuk memperbaiki sistem peringatan dini.

Padahal pasal 34 di Undang Undang No. 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani telah mengamanahkan pemerintah pusat dan daerah untuk membangun sistem peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim untuk mengantisipasi gagal panen akibat bencana alam.

"Anggota kita di Jawa Timur belum bisa memprediksi curah hujan. Dampaknya ialah beberapa yang tanam jagung di Tuban, Nganjuk, dan Ponorogo mengalami gagal panen. Hal ini karena antisipasi dampak perubahan iklim belum disosialisasikan oleh pemerintah secara penuh ke petani," kata Angga. (ae)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jelang Natal dan Tahun Baru, Heru Budi Hartono Pastikan Stok Aman Walau Pedagang Keluhkan Harga Naik

Jelang Natal dan Tahun Baru, Heru Budi Hartono Pastikan Stok Aman Walau Pedagang Keluhkan Harga Naik

Video | Rabu, 07 Desember 2022 | 11:00 WIB

Heru Budi Pastikan Stok Pangan Aman Jelang Nataru, Tapi Pedagang Keluhkan Harganya Naik

Heru Budi Pastikan Stok Pangan Aman Jelang Nataru, Tapi Pedagang Keluhkan Harganya Naik

News | Selasa, 06 Desember 2022 | 15:44 WIB

Terkini

Hujan Deras Tak Surutkan Militansi Suporter Garuda, Pakansari Membara Jelang Indonesia vs Vietnam

Hujan Deras Tak Surutkan Militansi Suporter Garuda, Pakansari Membara Jelang Indonesia vs Vietnam

Bola | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:54 WIB

Bahlil Rem Ekspor Batu Bara, Ekonomi Daerah Terancam Tak Lagi Membara

Bahlil Rem Ekspor Batu Bara, Ekonomi Daerah Terancam Tak Lagi Membara

Bisnis | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:50 WIB

Sosok Pemotor Masuk Tol Pekanbaru-Dumai Terungkap, Ini Penjelasan Polisi

Sosok Pemotor Masuk Tol Pekanbaru-Dumai Terungkap, Ini Penjelasan Polisi

Riau | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:47 WIB

Lima Korban KMP Mutiara Sentosa II Teridentifikasi, DVI Pastikan Bukan Tewas Terbakar

Lima Korban KMP Mutiara Sentosa II Teridentifikasi, DVI Pastikan Bukan Tewas Terbakar

Jatim | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:45 WIB

23 Ide Hadiah Lomba 17 Agustus untuk Bapak-Bapak, Murah dan Pasti Kepakai

23 Ide Hadiah Lomba 17 Agustus untuk Bapak-Bapak, Murah dan Pasti Kepakai

Lifestyle | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:45 WIB

Hujan Deras Guyur Pakansari, Pertanda Timnas Indonesia Hujani Vietnam dengan Banyak Gol?

Hujan Deras Guyur Pakansari, Pertanda Timnas Indonesia Hujani Vietnam dengan Banyak Gol?

Bola | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:44 WIB

Dedi Kusnandar: Persib Bandung Siap Hadapi Persija di Semifinal Piala Presiden 2026

Dedi Kusnandar: Persib Bandung Siap Hadapi Persija di Semifinal Piala Presiden 2026

Jabar | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:36 WIB

Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?

Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?

Your Say | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:35 WIB

Purbaya Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Melambat di Triwulan II 2026

Purbaya Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Melambat di Triwulan II 2026

Bisnis | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:26 WIB

Wanita Tewas Diduga Bunuh Diri Pakai Senpi Ternyata Mantan Istri Polisi, Apa Motifnya?

Wanita Tewas Diduga Bunuh Diri Pakai Senpi Ternyata Mantan Istri Polisi, Apa Motifnya?

Sumut | Senin, 03 Agustus 2026 | 19:26 WIB

×