Peti Kapsul Bunuh Diri Buatan Dokter Kematian Timbulkan Perdebatan

Siswanto, BBC

Selasa, 14 Desember 2021 | 10:59 WIB
Peti Kapsul Bunuh Diri Buatan Dokter Kematian Timbulkan Perdebatan
BBC

Suara.com - Perusahaan pembuat peti kapsul yang bisa membantu para penggunanya untuk bunuh diri, mengaku yakin produknya bisa digunakan di Swiss pada awal tahun depan.

Sebelumnya perusahaan Sarco telah menugaskan ahli hukum Swiss untuk mencari tahu apakah produk tersebut melanggar hukum di Swiss. Temuannya, kapsul serupa peti mati futuristik itu tidak melanggar aturan apa pun di negara itu.

Akan tetapi, ahli hukum yang lain mempertanyakan temuan itu.

Kemudian organisasi perbantuan untuk bunuh diri, Dignitas, mengatakan peti kapsul ini mungkin tidak akan mendapat "banyak penerimaan".

Bantuan untuk bunuh diri, yakni ketika seseorang difasilitasi untuk mengakhiri hidupnya, adalah legal di Swiss. Sebanyak 1.300 orang meninggal di sana dengan cara ini pada 2020.

Bunuh diri yang dibantu maupun euthanasia (dokter berperan mengakhiri hidup seseorang secara sengaja untuk menghilangkan penderitaannya) merupakan tindakan ilegal di Inggris dan banyak negara lainnya.

Perdebatan hukum

Metode yang saat ini digunakan di Swiss adalah memberi seseorang serangkaian cairan, yang jika ditelan, bisa mengakhiri hidup orang tersebut.

Adapun peti kapsul bunuh diri - yang bisa ditempatkan di mana pun - menggunakan nitrogen sampai kapsul terisi penuh sehingga tingkat oksigen berkurang secara cepat.

Proses ini membuat seseorang yang berada di dalam kapsul kehilangan kesadaran dan meninggal dalam waktu sekitar 10 menit.

baca juga

Peti kapsul untuk bunuh diri ini diaktifkan dari dalam, dan juga punya tombol darurat untuk keluar.

Daniel Heurlimann, seorang ahli hukum dan asisten profesor di Universitas St Gallen, diminta oleh Sarco untuk mencari tahu apakah penggunaan kapsul bunuh diri ini akan melanggar aturan di Swiss.

Dia mengatakan kepada BBC bahwa berdasarkan temuannya, peti kapsul itu "bukan merupakan perangkat medis", sehingga tidak tercakup dalam Undang Undang Produk Terapi Swiss.

Dia juga menyakini, peti kapsul ini tidak akan akan melanggar aturan mengenai penggunaan nitrogen, senjata, atau keamanan produk.

"Ini artinya, kapsul tersebut tidak diatur dalam aturan hukum yang ada di Swiss," katanya.

Tapi, seorang dokter, pengacara, sekaligus profesor di Universitas Zurich, Kerstin Noelle Vkinger, mengatakan kepada surat kabar di Swiss, Neue Zurcher Zeitung: "Perangkat medis itu ada aturannya, karena mereka semestinya lebih aman dari produk lainnya. Bukan karena sebuah produk itu tidak bermanfaat untuk kesehatan, lantas mengabaikan syarat keamanan tambahan ini."

Dignitas mengatakan kepada BBC: "Selama 35 tahun sampai sekarang, melalui dua kelompok Swiss Exit, dan selama 23 tahun dengan Dignitas, praktik bunuh diri di Swiss dilakukan secara profesional dengan tenaga terlatih yang bekerja sama dengan dokter.

"Mengingat praktik [bunuh diri dengan bantuan selama ini dilakukan secara] mapan, aman, dan profesional, serta dilakukan/didukung secara profesional, kami tidak membayangkan bahwa kapsul berteknologi untuk mengakhiri hidup sendiri, akan mendapat penerimaan atau minat di Swiss."

'Dokter kematian'

Jika kapsul untuk bunuh diri ini dipasarkan di Swiss, kapsul ini tidak akan bisa diperoleh melalui penjualan secara konvensional.

Pencipta kapsul ini, Dr Philip Nitschke, mengatakan dirinya berencana untuk membuat cetak biru kapsul bunuh diri tersedia untuk khalayak umum, sehingga siapa pun bisa mengunduh rancangannya. Ini akan tersedia secara gratis.

Tujuannya adalah untuk "menekan proses kematian secara medis", katanya dalam wawancara yang dipublikasi dalam situs Exit International, lembaga amal yang juga membantu upaya bunuh diri, yang ia dirikan.

"Kami ingin menghapus segala jenis tinjauan psikiatris dari proses ini, dan memperkenankan individu untuk mengendalikan metode itu sendiri."

Dia juga sudah lama mengkampanyekan hak orang untuk mati, yang membuatnya dijuluki sebagai "Dokter Kematian".

Sejauh ini ada dua prototipe dari kapsul Sarco, sedangkan yang ketiga dicetak di Belanda.

Dokter Nitschke sebelumnya menghadapi kritik atas kapsul tersebut, di mana beberapa orang menyebut kapsul dengan desain futuristiknya mengglamorkan bunuh diri.


Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas, Rumah Sakit terdekat, atau Halo Kemenkes dengan nomor telepon 1500567.

Anda juga dapat mencari informasi mengenai depresi dan kesehatan jiwa pada laman intothelightid.org dan Yayasan Pulih pada laman yayasanpulih.org.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Warga Australia Habisi 2 Anak Kandung dengan Sadis di Bali, Lalu Bunuh Diri

Warga Australia Habisi 2 Anak Kandung dengan Sadis di Bali, Lalu Bunuh Diri

News | Selasa, 15 September 2026 | 16:16 WIB

Ironi Yogyakarta, Termasuk Provinsi Paling Bahagia Tapi Catat Suicide Tertinggi RI

Ironi Yogyakarta, Termasuk Provinsi Paling Bahagia Tapi Catat Suicide Tertinggi RI

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 17:35 WIB

Anak Sekarang Rentan Depresi, Wamenkes Sebut Percobaan Bunuh Diri Siswa Naik 2,7 Kali Lipat

Anak Sekarang Rentan Depresi, Wamenkes Sebut Percobaan Bunuh Diri Siswa Naik 2,7 Kali Lipat

News | Jum'at, 04 September 2026 | 16:46 WIB

Keluarga Ungkap Fakta di Balik Tewasnya Kakek 80 Tahun Terserempet KRL di Cawang-Tebet

Keluarga Ungkap Fakta di Balik Tewasnya Kakek 80 Tahun Terserempet KRL di Cawang-Tebet

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:23 WIB

Penembakan SMP Katholik Filipina, Siswa Bawa Pistol Kaliber 45 ke Ruang Kelas

Penembakan SMP Katholik Filipina, Siswa Bawa Pistol Kaliber 45 ke Ruang Kelas

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:35 WIB

Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus

Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:15 WIB

Bom Bunuh Diri Meledak Tewaskan 14 Orang di Lembah Swat

Bom Bunuh Diri Meledak Tewaskan 14 Orang di Lembah Swat

News | Senin, 03 Agustus 2026 | 11:04 WIB

Tenggelam dalam Tuntutan, Terbungkam oleh Stigma: Potret Buram Kesehatan Mental Remaja

Tenggelam dalam Tuntutan, Terbungkam oleh Stigma: Potret Buram Kesehatan Mental Remaja

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 19:05 WIB

Kasus dr Icha Meninggal Karena Apa? Kini Keluarga Lapor Polisi

Kasus dr Icha Meninggal Karena Apa? Kini Keluarga Lapor Polisi

Lifestyle | Senin, 06 Juli 2026 | 09:10 WIB

Piala Dunia, Pemerasan Ekonomi, Judi dan Nyawa yang Dipertaruhkan

Piala Dunia, Pemerasan Ekonomi, Judi dan Nyawa yang Dipertaruhkan

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 14:11 WIB

Terkini

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

Asap TPA Jatibarang Membahayakan, Kualitas Udara Radius 2 Km Tak Layak

Asap TPA Jatibarang Membahayakan, Kualitas Udara Radius 2 Km Tak Layak

Jawa Tengah | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:43 WIB

×