-
Kasus bunuh diri di Yogyakarta tergolong tinggi meski masuk provinsi paling bahagia.
-
Kemenkes sebut kasus bunuh diri Jogja di Gunungkidul meningkat sangat signifikan.
-
Mitos lokal dan masalah keluarga turut memengaruhi kasus suicide di Jogja.
Suara.com - Yogyakarta menjadi salah satu provinsi paling bahagia di Indonesia pada 2021. Namun ironisnya Kementerian Kesehatan RI menemukan data, Yogyakarta jadi wilayah dengan angka bunuh diri atau suicide di Indonesia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah anomali.
Menurutnya, persepsi mengenai kebahagiaan suatu daerah tidak serta-merta menggambarkan kondisi kesehatan jiwa seluruh masyarakatnya.
Jogja itu kan dianggap atau data provinsi yang paling bahagia, tapi ternyata prevalensi bunuh diri Jogja itu cukup tinggi sebenarnya,” ujar Imran dalam temu media di Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, Rabu (9/9/2026).
Sebagai catatan, data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Indeks Kebahagiaan 2021, DI Yogyakarta memiliki nilai 71,70. Angka ini di atas rerata Indonesia, dengan nilai kebahagiaan 71,49.

Imran bahkan mengungkapkan perkembangan kasus bunuh diri di Gunungkidul pada 2026. Menurutnya, hingga Agustus 2026 jumlah kematian akibat bunuh diri di wilayah tersebut sudah menyamai jumlah kasus sepanjang 2025.
“Kalau di Gunungkidul itu tahun ini kayaknya, sekarang bulan apa sih, September ya, jadi bulan Agustus itu jumlah kematian karena bunuh diri di Gunungkidul itu sudah sama dengan jumlah bunuh diri tahun 2025,” jelasnya.
Data Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada Agustus 2026 juga menunjukkan persoalan tersebut masih menjadi perhatian. Pemkab mencatat kasus bunuh diri meningkat dari 5 kasus pada Maret 2026 menjadi 23 kasus ketika koordinasi penanganan dilakukan pada Agustus.
Sementara itu, pada Mei 2026, Pemkab Gunungkidul menyebut dalam kurun lima hingga enam tahun terakhir terdapat 171 kasus bunuh diri, dengan rata-rata 27 hingga 30 kasus per tahun.
Pulung Gantung di Gunungkidul
Salah satu hal yang turut menjadi perhatian dalam persoalan bunuh diri di Gunungkidul adalah adanya kepercayaan masyarakat mengenai pulung gantung.
Imran menjelaskan, pulung gantung merupakan kepercayaan lokal yang dikaitkan dengan kemunculan benda bercahaya seperti meteor di langit. Dalam kepercayaan tersebut, kemunculan cahaya itu dianggap sebagai pertanda akan terjadi kematian akibat bunuh diri.
“Kalau di Gunungkidul itu ada kepercayaan namanya pulung gantung, meteor, jadi ada meteor gitu kan, nah mereka punya asumsi kalau ada meteor itu muncul, itu pertanda ada orang yang bunuh diri,” kata Imran.
Menurutnya, kepercayaan tersebut dapat menjadi masalah ketika seseorang yang sedang menghadapi persoalan, kemudian menjadikan kemunculan fenomena tersebut sebagai pembenaran untuk melakukan bunuh diri.
“Jadi kalau ada meteor kemudian saya punya masalah dulu, ini menjadi pembenaran, bahwa oh ini memang saatnya untuk bunuh diri,” sambungnya.