AS Pangkas Durasi Isolasi Pasien Covid-19 Tak Bergejala, Ilmuwan Khawatir

Siswanto, Deutsche Welle

Rabu, 29 Desember 2021 | 17:25 WIB
AS Pangkas Durasi Isolasi Pasien Covid-19 Tak Bergejala, Ilmuwan Khawatir
DW

Suara.com - Amerika Serikat (AS) memangkas waktu isolasi untuk pasien COVID-19 tanpa gejala menjadi lima hari dan tanpa memerlukan tes negatif. Para ilmuwan khawatir, nantinya kepentingan bisnis diletakkan di atas kesehatan.

Keputusan badan kesehatan nasional Amerika Serikat untuk memangkas waktu isolasi bagi orang-orang yang terinfeksi COVID-19 tanpa gejala, telah memicu kekhawatiran di antara para ilmuwan.

Mereka mengatakan, keputusan itu berpotensi meningkatkan penyebaran virus corona dan membebani rumah sakit.

Pada hari Senin (27/12), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) mengatakan orang dengan COVID-19 tanpa gejala, hanya perlu diisolasi selama lima hari dan tidak memerlukan tes PCR negatif atau tes antigen cepat.

Setelah isolasi, mereka diwajibkan memakai masker selama lima hari di sekitar orang lain. Aturan yang sama akan berlaku untuk orang-orang yang mempunyai gejala dan sembuh setelah lima hari dalam isolasi.

Keputusan itu muncul di tengah kekhawatiran kurangnya sumber daya manusia di sektor kesehatan dan pariwisata.

AS juga dilaporkan menghadapi kekurangan tes antigen cepat dalam beberapa pekan terakhir.

CDC mengatakan rekomendasi tersebut didorong oleh data ilmiah yang menunjukkan, sebagian besar penularan virus SARS-CoV-2 biasanya terjadi satu hingga dua hari sebelum timbulnya gejala dan dua hingga tiga hari setelahnya.

Ilmuwan ingin melihat data Data yang digunakan CDC untuk membuat rekomendasi tersebut sejauh ini belum tersedia untuk umum.

baca juga

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Internal Medicine pada bulan Agustus menemukan, potensi penularan tertinggi adalah ketika dua hari sebelum dan tiga hari setelah timbulnya gejala.

Tetapi virus masih dapat ditularkan setelah tiga hari. "Periode karantina awal ditetapkan berdasarkan apa yang kami temukan secara ilmiah tentang berapa lama kami mendeteksi virus hidup - dengan kata lain, bahwa orang tersebut mungkin dapat menginfeksi orang lain", kata Emma Hodcroft, ahli epidemiologi molekuler di Universitas Bern di Swiss kepada DW.

Zoe Hyde, seorang ahli epidemiologi di University of Western Australia, mengatakan kepada DW, mempersingkat periode isolasi masuk akal dan dapat diterima dengan alasan virus paling berisiko menular dalam beberapa hari pertama, tetapi ini bisa dilakukan hanya jika ada tes negatif.

"Saya pikir itu ide yang sangat buruk untuk menghilangkan kebutuhan untuk tes negatif, karena itu akan menyebabkan banyak orang menyebarkan virus di masyarakat," jelas Hyde.

"Itu juga mengirimkan pesan yang salah tentang seberapa parah virus itu. Ini mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi orang tanpa gejala yang diizinkan meninggalkan karantina, tetapi itu bisa menghancurkan orang-orang yang rentan di komunitas yang kontak dengan mereka," tambahnya.

Ekonomi di atas kesehatan?

Para ilmuwan khawatir, keputusan untuk mengurangi separuh waktu isolasi untuk pasien tanpa gejala bukan didorong oleh argumentasi kesehatan masyarakat.

"Ini jelas bukan pedoman kesehatan masyarakat - ini lebih ke arah (perlu) untuk memastikan bahwa kita dapat menjaga segala sesuatunya berjalan cukup banyak, jadi ini lebih merupakan pedoman ekonomi," kata Tobias Kurth, seorang profesor kesehatan masyarakat dan epidemiologi di Rumah Sakit Charitas Berlin.

"Di beberapa daerah, mungkin perlu untuk sedikit melonggarkan aturan, tetapi bukan sebagai rekomendasi umum," kata Kurth.

Hyde juga mengemukakan pendapat senada Kurth. "Saya khawatir bahwa politiklah yang mendorong keputusan ini, bukan sains."

Sementara Hodcroft mengatakan solusi nyata untuk kekurangan staf di tempat kerja adalah dengan menurunkan jumlah kasus.

"Dengan mengizinkan mereka yang masih bisa menularkan (virus) kembali ke lingkungan kerja, Anda dapat mengaktifkan penularan, membiarkan lebih banyak orang terinfeksi, dan berpotensi melanggengkan masalah," tegasnya.

Tekanan berat pada rumah sakit Kekhawatiran lain adalah bagaimana rumah sakit akan mengurus pasien, jika tingkat infeksi meningkat lebih tinggi, sebagai akibat dari orang tanpa gejala yang tidak diisolasi cukup lama dan tes negatif tidak diperlukan.

Kurth memperingatkan, di negara-negara yang menghadapi gelombang yang dipicu oleh varian Omicron - seperti Inggris, Prancis, AS, dan Jerman - sejumlah besar kasus akan menyebabkan sistem perawatan kesehatan ambruk.

"Ini sepertinya saat yang buruk untuk melonggarkan pembatasan di saat varian Omicron menyebar begitu cepat, saya tidak bisa melihat bagaimana sistem rumah sakit akan mengatasi ini," kata Hyde.

Keputusan CDC muncul, ketika negara-negara lain mulai membahas perubahan aturan isolasi untuk orang-orang dengan tingkat vaksinasi yang berbeda.

Jerman saat ini sedang mempertimbangkan perubahan aturan isolasi untuk orang yang pernah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi, jika mereka tidak memiliki gejala. Namun, tidak seperti dalam rekomendasi AS untuk kasus tanpa gejala, tes COVID-19 negatif masih diperlukan. Ed: rap/as

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Segera Hadir, Film Sekolah Rakyat Angkat Kisah Dramatis dari Kehidupan Nyata

Segera Hadir, Film Sekolah Rakyat Angkat Kisah Dramatis dari Kehidupan Nyata

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 22:12 WIB

SDA Terus Dicuri, Prabowo: TNI AL dan Bea Cukai Sudah Dikerahkan, Masih Saja Bocor!

SDA Terus Dicuri, Prabowo: TNI AL dan Bea Cukai Sudah Dikerahkan, Masih Saja Bocor!

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 21:17 WIB

Rugi Terus, Prabowo Bakal Tutup 800 Perusahaan Pelat Merah untuk Berhemat

Rugi Terus, Prabowo Bakal Tutup 800 Perusahaan Pelat Merah untuk Berhemat

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 21:08 WIB

Jakarta Darurat Kabel Semrawut: Pelajar Tewas, Perda Mangkrak, Legislator Tuntut Sanksi Operator

Jakarta Darurat Kabel Semrawut: Pelajar Tewas, Perda Mangkrak, Legislator Tuntut Sanksi Operator

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 21:07 WIB

UU Peradilan Militer Jadi Tameng Impunitas TNI! Aktivis Desak Reformasi Total

UU Peradilan Militer Jadi Tameng Impunitas TNI! Aktivis Desak Reformasi Total

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 20:57 WIB

Kapolri Buka Suara Usai Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan: Itu Kewenangan Kejaksaan

Kapolri Buka Suara Usai Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan: Itu Kewenangan Kejaksaan

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 20:47 WIB

Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya

Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 20:43 WIB

Terekam CCTV, Detik-detik Pasutri di Duren Sawit Gasak Motor Sambil Bawa Anak

Terekam CCTV, Detik-detik Pasutri di Duren Sawit Gasak Motor Sambil Bawa Anak

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 20:39 WIB

MBG Disetop Saat Libur Sekolah, BGN Disomasi: Ibu Hamil dan Balita Tetap Butuh Nutrisi!

MBG Disetop Saat Libur Sekolah, BGN Disomasi: Ibu Hamil dan Balita Tetap Butuh Nutrisi!

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 19:59 WIB

Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer

Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 19:45 WIB