Tsunami Tonga: Dahsyatnya Erupsi Gunung Berapi Bawah Laut di Pasifik

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:00 WIB
Tsunami Tonga: Dahsyatnya Erupsi Gunung Berapi Bawah Laut di Pasifik
BBC

Suara.com - Ketika letusan dahsyat gunung berapi bawah laut Hunga-Tonga-Hunga-Ha'apai memicu tsunami di Tonga, Pasifik Selatan, pada Sabtu (15/01), berbagai satelit luar angkasa berada dalam posisi masing-masing untuk menangkap fenomena alam tersebut.

Hal ini dimungkinkan armada pemantau Bumi semakin banyak dan terus bertambah. Beberapa satelit secara konstan mengamati wilayah tertentu di Bumi, yang berarti datanya dapat segera dipelajari, sementara ada satelit-satelit lainnya yang ditugaskan untuk melakukan pengamatan lanjutan.

Semua informasi yang dikumpulkan satelit-satelit ini akan membantu upaya tanggap darurat serta membantu para ilmuwan memahami lebih baik peristiwa alam tersebut.

Baca juga:

Satelit-satelit cuaca

Terdapat sekelompok satelit yang memantau sistem cuaca dari jarak 36.000 kilometer di atas Bumi.

Berbagai perangkat itu memindai seluruh belahan bumi setiap beberapa menit, dan menyampaikan semua gambar yang terpantau serta prakiraan terkini ke kru di Bumi.

Satelit-satelit meteorologi inilah yang merekam beberapa pemandangan awan abu gunung berapi Tonga yang paling spektakuler saat menjulang tinggi ke langit.

https://twitter.com/simon_sat/status/1482412149897142284?s=20


Selama Gunung berapi bawah laut Hunga-Tonga-Hunga-Ha'apai erupsi, semburan abu membuat pengamatan di darat menjadi sulit, kecuali jika menggunakan teknologi radar yang menembus abu dan awan.

Ketika satelit Sentinel-1A Uni Eropa melintasi bagian atas gunung berapi pada Sabtu malam, terlihat jelas banyak bangunan di perairan Samudra Pasifik telah hancur.

https://twitter.com/CopernicusEU/status/1482656119038394370?s=20

Tapi gambar-gambar radar bisa sangat sulit ditafsirkan jika Anda tidak terbiasa melihatnya.

Karena itu, lebih baik menyimak gambar-gambar gunung berapi yang diperoleh perusahaan Planet yang berbasis di San Francisco.

Salah satu gambar diperoleh hanya dua jam sebelum letusan. Bandingkan dengan data radar di atas, dan Anda akan memahami dahsyatnya ledakan.

https://twitter.com/Will4Planet/status/1482565187781550081?s=20


Gelombang kejut global

Salah satu aspek yang paling menakjubkan dari pemantauan satelit cuaca adalah gelombang kejut yang bergerak cepat ke segala arah.

Gelombang tekanan dari letusan eksplosif ini mencakup seluruh dunia. Lembaga Meteorologi Inggris mencatat gelombangnya di barometer, tidak hanya sekali tetapi dua kali.

https://twitter.com/metoffice/status/1482605906659622914?s=20


https://twitter.com/swshargi/status/1482471422618476547?s=20


Contoh lain dari dampak gunung berapi di atmosfer dapat dilihat pada data yang diambil oleh misi Aeolus dari Badan Antariksa Eropa.

Satelit ini mengukur pergerakan angin dari permukaan tanah hingga ketinggian 30 kilometer di stratosfer.

Satelit tersebut melakukannya dengan menembakkan laser ultraviolet, tetapi saat Aeolus melewati Pasifik, sinarnya terhalang oleh semua material yang tersembur ke langit.

Meski demikian, hal itu memberikan indikasi yang baik tentang ketinggian awan abu.

https://twitter.com/MikePRennie/status/1482655443545645058?s=20


Dampak pada iklim

Berbagai erupsi terbesar gunung berapi dapat mendinginkan iklim dalam waktu singkat.

Letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991, misalnya, menurunkan suhu rata-rata global Bumi hingga setengah derajat selama beberapa tahun.

Cara utama gunung berapi melakukan ini adalah dengan menyemburkan sulfur dioksida (SO2) dalam jumlah besar ke atmosfer.

SO2 kemudian bercampur dengan air sehingga menghasilkan kabut tetesan kecil, atau aerosol, yang memantulkan radiasi matahari.

Satelit Sentinel-5P dapat memetakan kuanitas dan sebaran sulfur dioksida tersebut.

https://twitter.com/ClimateOfGavin/status/1482461657309892609?s=20


https://twitter.com/simoncarn/status/1482165151461785601?s=20

Memetakan kerusakan

Skala kerusakan di seluruh Tonga masih belum jelas.

Penduduk negara kepulauan itu harus menghadapi dampak abu dan banjir yang diakibatkan gelombang tsunami.

Satelit-satelit beresolusi tinggi kini ditugaskan untuk memetakan pulau-pulau di kawasan itu, untuk membantu mengarahkan tim tanggap darurat ke tempat-tempat yang penduduknya memerlukan bantuan mendesak.

https://twitter.com/angelruizangulo/status/1482498845972078592?s=20


https://twitter.com/CopernicusEMS/status/1482676574159839233?s=20

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sebut Indonesia Punya 5 Gunung Api Bawah Laut, Megawati Ajak Ilmuwan Rusia Teliti Kapan Meletusnya

Sebut Indonesia Punya 5 Gunung Api Bawah Laut, Megawati Ajak Ilmuwan Rusia Teliti Kapan Meletusnya

News | Senin, 16 September 2024 | 19:55 WIB

Badan Geologi Prediksi Gunung Api Bawah Laut di Samudra Pasifik Kemungkinan akan Meletus

Badan Geologi Prediksi Gunung Api Bawah Laut di Samudra Pasifik Kemungkinan akan Meletus

News | Selasa, 15 November 2022 | 18:47 WIB

Terkini

Peringati Usia ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Mantapkan Pengabdian Dalam Berkarya

Peringati Usia ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Mantapkan Pengabdian Dalam Berkarya

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:58 WIB

Indonesia Darurat Kekerasan Anak? MPR Soroti Celah Sistem Perlindungan Anak

Indonesia Darurat Kekerasan Anak? MPR Soroti Celah Sistem Perlindungan Anak

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:47 WIB

Polisi Bongkar Gudang Penadah HP Curian di Bekasi, 225 iPhone dan Android Disita

Polisi Bongkar Gudang Penadah HP Curian di Bekasi, 225 iPhone dan Android Disita

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:38 WIB

Yuk Liburan ke Surabaya! Jelajahi Panggung Budaya Terbesar Tahun Ini di Perayaan HJKS ke-733

Yuk Liburan ke Surabaya! Jelajahi Panggung Budaya Terbesar Tahun Ini di Perayaan HJKS ke-733

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:30 WIB

DPR Ragukan Status Pesantren Predator Seks di Pati: Itu Hanya Kedok!

DPR Ragukan Status Pesantren Predator Seks di Pati: Itu Hanya Kedok!

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:30 WIB

Erupsi Gunung Dukono: 3 Pendaki Masih Hilang, Tim SAR Berpacu dengan Waktu

Erupsi Gunung Dukono: 3 Pendaki Masih Hilang, Tim SAR Berpacu dengan Waktu

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:20 WIB

ABK Hilang Usai Kapal Ditabrak Kargo di Perairan Kalianda Belum Ditemukan

ABK Hilang Usai Kapal Ditabrak Kargo di Perairan Kalianda Belum Ditemukan

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:01 WIB

Siasat Licin Bandar Narkoba di Depok: Simpan Sabu di Dalam Ban, Berakhir di Tangan Polisi

Siasat Licin Bandar Narkoba di Depok: Simpan Sabu di Dalam Ban, Berakhir di Tangan Polisi

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 19:52 WIB

Curah Hujan Tinggi Picu Banjir di Kolaka, 188 Rumah Warga Terdampak

Curah Hujan Tinggi Picu Banjir di Kolaka, 188 Rumah Warga Terdampak

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 19:49 WIB

Wanti-wanti Komisi X DPR: Kebijakan Guru Non-ASN Jangan Lumpuhkan Pendidikan

Wanti-wanti Komisi X DPR: Kebijakan Guru Non-ASN Jangan Lumpuhkan Pendidikan

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 19:43 WIB