facebook

Dipindah dari Bali ke Jakarta, Wagub DKI: Sekalipun Ada Varian Omicron Tak Ganggu Pelaksanaan G20

Agung Sandy Lesmana | Fakhri Fuadi Muflih
Dipindah dari Bali ke Jakarta, Wagub DKI: Sekalipun Ada Varian Omicron Tak Ganggu Pelaksanaan G20
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria. ANTARA/Mentari Dwi Gayati

"...Tapi insyaallah kami dapat mengatasi dan mengendalikan. Sekalipun ada Omicron, tidak akan mengganggu G20."

Suara.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria angkat bicara mengenai dipindahnya dua agenda pertemuan KTT G20 dari Bali ke ibu kota. Ia berharap banjir dan penyebaran varian baru virus corona B.1.1.529 atau Omicron tidak menjadi masalah ke depannya.

Riza mengakui, biasanya di awal tahun curah hujan di Jakarta meningkat intensitasnya. Banyak wilayah yang akhirnya terancam banjir.

Namun, ia berharap pihaknya mampu mengendalikannya dan melakukan pencegahan. Jika nantinya hujan deras turun, diharap tidak sampai mengganggu agenda G20.

"Terkait banjir memang ada peningkatan di Januari-Februari, tapi insyaallah banjir dapat kami tangani, kami kendalikan. tidak akan mengganggu kegiatan G20 yang direncanakan dipindah dari Bali ke Jakarta," ujar Riza di Balai Kota DKI, Selasa (25/1/2022).

Baca Juga: Percepat Penyuntikan Vaksin, Pemprov DKI Jakarta Akan Tambah Lokasi Vaksinasi Booster

Politisi Gerindra ini juga menyoroti masalah Omicron yang kini terus melonjak penularannya. Hingga Senin (24/1), tercatat jumlah kasusnya sudah mencapai 1.584 orang terpapar.

Riza pun ingin nantinya kasus Omicron sudah menurun dalam waktu cepat. Jika memang masih ada, maka diharapkan tidak sampai mengganggu acara.

"Begitu juga dengan adanya varian Omicron, bahkan menurut beberapa pakar, disampaikan juga Pak Luhut, puncaknya ada di Februari. Tapi insyaallah kami dapat mengatasi dan mengendalikan. Sekalipun ada Omicron, tidak akan mengganggu (pelaksanaan) G20."

Soal beredarnya surat Sekretaris I Panitia Pelaksanaan Pertemuan G20 Bidang Logistik Nomor S-3/G.20.33/2022 tertanggal 19 Januari 2022 perihal Penyampaian Informasi Pemindahan Lokasi Kegiatan G20, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Pulau Bali tetap menjadi lokasi utama penyelenggaraan rangkaian pertemuan Keketuaan G20 Indonesia pada 2022.

Disampaikan Koster bahwa Yang diputuskan untuk dipindahkan dari Bali ke Jakarta hanya dua pertemuan yaitu 2nd FCBD (Finance and Central Bank Deputy) dan 1st FMCBG (Finance Minister Central Bank Governor) yang dijadwalkan pada tanggal 15 -18 Februari 2022.

Baca Juga: Pasien Omicron di Jakarta Meninggal Dunia, Pemprov DKI Minta Warga Tak Anggap Enteng

"Bali sebagaimana diputuskan Bapak Presiden RI Joko Widodo, tetap menjadi venue utama Presidensi G20 yang puncaknya akan dihadiri oleh para kepala negara pada KTT tahun 2022 di Bali," katanya saat memberikan keterangan di Jayasabha, Denpasar, Kamis (20/1/2022).

Para delegasi G20 yang lebih memilih Jakarta karena pertimbangan risiko transit Jakarta-Bali yang tinggi, seiring dengan meningkatnya paparan Omicron.

"Pemindahan dari Bali ke Jakarta ini hanya bertukar waktu dengan rencana pelaksanaan 2nd FMCBG di Juli 2022 yang rencana semula di Jakarta, akan dialihkan ke Bali," katanya.

Namun menurut Koster, pelaksanaan G20 Indonesia tidak dipindah ke Jakarta, tetapi hanya pertemuan keuangan saja yang rencananya di Bali dipindah ke Jakarta.

"Masyarakat tidak perlu heboh, keputusan yang diambil oleh Kementerian Keuangan adalah untuk kebaikan bersama, dengan mempertimbangkan berbagai aspek manajemen dan teknis serta kenyamanan bagi para peserta," ucap Koster.

Hal ini harus menurut Koster harus dipahami dengan bijaksana oleh semua pihak, karena menurut informasi yang disampaikan Sekretaris I Panitia Pelaksanaan Pertemuan G20 Bidang Logistik Rudy Rahmad di Jakarta pada Kamis, secara rinci dijelaskan surat tersebut merupakan komunikasi panitia dengan para pemangku kepentingan di Bali.

Hal ini, lanjut dia, sebagai bagian dari koordinasi rutin dalam penyiapan pertemuan Keketuaan G20 Indonesia. Pertemuan G20 adalah serangkaian pertemuan di jalur finance dan jalur sherpa, yang totalnya akan ada 345 pertemuan pada level engagement group, working group, deputi, dan menteri/gubernur bank sentral, dengan puncaknya akan dihadiri oleh kepala negara di Bali. 

Komentar