Bank Eropa Societe Generale dan Credit Suisse dilaporkan telah berhenti mendanai pembelian semua komoditas dari Rusia.
Keadaan ini membuat banyak orang di Eropa merasa cemas karena sepertiga pasokan gas ke Eropa dan sekitar seperempat minyak berasal dari Rusia.
Gangguan apa pun dalam pasokan gas membuat orang-orang di Eropa tidak punya cukup gas untuk memanaskan rumah mereka.
Tagihan listrik pun akan sangat tinggi karena terbatasnya bahan bakar. Harga pangan melonjak
Krisis ini juga telah meningkatkan kekhawatiran akan kelancaran pasokan biji-bijian seperti gandum dan jagung, dan minyak sayur.
Harga gandum di pasar berjangka di Chicago telah melonjak setelah menyentuh tertinggi dalam sekitar 13 tahun terakhir pada hari Jumat (25/02), jagung juga diperdagangkan pada level harga yang tinggi.
Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang sekitar 30% dari ekspor gandum global, menyumbang hampir seperlima perdagangan jagung, dan sekitar 80% dari ekspor minyak bunga matahari internasional.
Kedua negara ini adalah merupakan pemasok utama gandum ke Timur Tengah dan Eropa, dengan Turki dan Mesir menjadi importir gandum terbesar dari Rusia.
Para ahli khawatir bahwa operasi militer Rusia akan semakin meningkatkan harga pangan di negara-negara konflik seperti Libya, Yaman, dan Lebanon, dan memperdalam krisis pangan di negara-negara tersebut.
Konflik tersebut telah mengganggu ekspor dari pelabuhan Laut Hitam, yang digunakan untuk mengirim biji-bijian ke Asia, Afrika, dan Uni Eropa.
Pada hari Senin (28/02), Mesir terpaksa membatalkan tender pengadaan gandum setelah hanya menerima beberapa penawaran dengan harga yang sangat tinggi.
Inflasi diperkirakan tetap tinggi
Bagi kebanyakan orang di seluruh dunia, dampak ekonomi dari konflik Ukraina dan sanksi akan dirasakan dalam bentuk inflasi yang lebih tinggi yang terutama disebabkan oleh harga energi, logam dan pangan yang lebih tinggi.
Harga aluminium telah melonjak ke rekor tertinggi, melampaui puncaknya pada tahun 2008 saat krisis keuangan global.
Pedagang khawatir bahwa gabungan sanksi terhadap Rusia dan kebijakan ritel dari Moskow dapat mengganggu pasokan aluminium global. Rusia memproduksi sekitar 6% dari aluminium dunia.