Dubes Rusia di RI: Jika Ukraina Masuk NATO, Nuklir Bisa Hantam Moskow dalam 3 Menit, Kami Harus Lindungi Rakyat

Reza Gunadha

Kamis, 03 Maret 2022 | 18:10 WIB
Dubes Rusia di RI: Jika Ukraina Masuk NATO, Nuklir Bisa Hantam Moskow dalam 3 Menit, Kami Harus Lindungi Rakyat
Duta Besar Rusia Untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva ketika melakukan sesi wawancara khusus dengan tim Suara.com di Kedutaan Besar Rusia, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (2/3/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Ia mengungkapkan, opresi tidak terhenti pada aspek budaya, tapi juga terdapat represi fisik terhadap warga sipil yang dilakukan oleh grup-grup militer Neo Nazi Ukraina.

Azov Battalion, grup Neo Nazi yang diserap masuk institusi militer Ukraina, berpose dengan latar bendera NAzi. Salah satu anggotanya juga tampak memberikan gaya hormat Heil hitler. [sofrep.com]
Azov Battalion, grup Neo Nazi yang diserap masuk institusi militer Ukraina, berpose dengan latar bendera NAzi. Salah satu anggotanya juga tampak memberikan gaya hormat Heil hitler. [sofrep.com]

“Kalau mereka menemukan warga yang menggunakan bahasa Rusia, orang itu diserang, dianiaya. Tak hanya itu, warga yang menggunakan bahasa Rusia bisa dipecat begitu saja dari pekerjaannya.”

Akhirnya, sejak 2014, warga sipil melawan represifitas tersebut, terutama di Luhansk, Donetsk, dan Krimea. Perlawan warga tersebut dijawab dengan kekuatan militer oleh rezim Kiev.

Ia menyebutkan, kelompok-kelompok Neo Nazi seperti Azov Battalion dan Aidar Battalion yang sudah diserap masuk dalam institusi militer Ukraina, memulai penyerbuan dan penindasan terhadap warga di ketiga daerah tersebut.

“Puncaknya, warga Krimea melakukan referendum dan memutuskan kembali bergabung dengan Rusia. Kami melindungi mereka dari serangan Kiev. Sementara Luhansk dan Donetsk tetap menjadi bagian Ukraina, sehingga militer serta grup Neo Nazi terus menyerang kedua daerah itu, membunuhi warganya.”

Berdasarkan data Departemen Pertahanan Rusia, 16 ribu warga sipil—termasuk anak-anak—di Luhansk dan Donetsk tewas akibat serangan militer Ukraina selama 8 tahun terakhir.

“Media-media Barat tak pernah memberitakan, 5 Mei 2015 didirikan monumen The Alley of Angles di Donetsk untuk menghormati anak-anak yang tewas dibunuh militer serta grup Neo Nazi Ukraina.”

Seorang warganet membagikan foto The Alley of Angles di Donetsk. The Alley of Angles adalah monumen untuk menghormati anak-anak yang dibunuh militer Ukraina selama 8 tahun terakhir di daerah Donetsk. [Twitter]
Seorang warganet membagikan foto The Alley of Angles di Donetsk. The Alley of Angles adalah monumen untuk menghormati anak-anak yang dibunuh militer Ukraina selama 8 tahun terakhir di daerah Donetsk. [Twitter]

NATO semakin agresif

Namun, Lyudmila mengatakan, posisi Rusia saat itu tidak ikut campur karena menilai konflik yang terjadi di Luhansk dan Donetsk adalah perang sipil atau civil war Ukraina.

baca juga

“Karena kami menilai itu adalah perang sipil, maka harus diselesaikan oleh Ukraina sendiri melalui jalan damai. Rusia yang mendesak pemerintah Republik Rakyat Luhanks dan Republik Rakyat Donetsk untuk duduk bersama rezim Kiev, guna menemukan solusi damai.”

Hasilnya, kata dia, Perjanjian Minks I ditandatangani oleh semua pihak yang bertikai tahun 2014.

Selang setahun, 2015, pihak yang berkonflik meneken Perjanjian Minks II. Semuanya dilakukan di daerah Minks, Belarus.

Dalam perjanjian itu, disepakati pemerintah Ukraina tidak memobilisasi militernya menyerang Luhansk dan Donetsk.

Perjanjian Minks juga berisi kesepakatan Rezim Kiev menerapkan status otonomi khusus terhadap kedua daerah itu, dengan catatan Luhansk dan Donetsk tetap menjadi bagian Ukraina.

“Sejak itu pula hingga sebelum operasi militer, yakni 8 tahun, Rusia selalu meminta rezim Kiev memenuhi perjanjian. Selama 8 tahun pula kami meminta rekan-rekan kami di Barat untuk ikut mendesak rezim Kiev memenuhi Perjanjian Minks. Tapi tak pernah terealisasi, dan warga Luhansk dan Donetsk tetap dibunuhi setiap hari.”

Di lain sisi, kata dia, sejak 2014, negara-negara Barat justru mulai memasok senjata ke Ukraina. Negara-negara Barat yang tergabung dalam pakta pertahanan NATO juga melatih prajurit-prajurit Ukraina.

Vita Zaverukha, salah satu anggota grup Neo Nazi Ukraina, yakni Aidar Batallion. [Daily Mail]
Vita Zaverukha, salah satu anggota grup Neo Nazi Ukraina, yakni Aidar Batallion. [Daily Mail]

Lyudmila menilai, sejak itu pula Ukraina berhenti menjadi negara yang independen, “Dan hanya menjadi instrumen politik serta militer Barat melawan Rusia atau Anti-Russian Project.”

Puncaknya, Ukraina dijanjikan menjadi anggota NATO. Padahal, kata dia, sejak Uni Soviet terpecah tahun 1991, negara-negara Barat berjanji untuk tidak melakukan ekspansi keanggotaan ke daerah-daerah yang dekat dengan Rusia.

Rusia tahun 1990-an meminta hal tesebut, sebab sejak Soviet pecah, Pakta Warsawa—organisasi pertahanan Uni Soviet dan sekutu-sekutunya—ikut dibubarkan.

“Dulu, Rusia menawarkan ke negara-negara Barat agar janji NATO itu dituangkan dalam perjanjian tertulis. Tapi mereka menegaskan tidak perlu, bahwa ‘Rusia bisa mempercayai kata-kata kami’. Tapi kenyataannya tidak demikian. Sejak 1999 sampai 2021, NATO terus berekspansi ke daerah perbatasan kami.”

“Lantas, apa artinya itu bagi kami? Kalau Ukraina menjadi anggota NATO, maka infrastruktur militer NATO bisa ditempatkan di daerah perbatasan kami, termasuk senjata nuklir mereka. Hanya dalam waktu 3 menit, senjata itu bisa mencapai Moskow. Bagaimana kami tidak merasa terancam? Bagaimana kami tidak merasa keselamatan rakyat Rusia dalam bahaya?”

Percaya diplomasi

Lyudmila menegaskan, selama 8 tahun terakhir Rusia secara intensif melakukan diplomasi ke negara-negara Barat, agar ekspansi NATO itu dihentikan serta ikut menyelesaikan konflik internal Ukraina secara damai.

Dalam banyak kesempatan, kata dia, pemerintah Moskow terus meminta surat tertulis jaminan keamanaan untuk Rusia. Sebab, jika terjadi agresi terhadap Rusia, maka hal itu akan menjadi konflik Eropa secara umum.

“Kami tidak pernah mau berperang, karena itu adalah tragedi. Kami tahu betul arti penderitaan perang. Kami kehilangan 27 juta jiwa dalam Perang Dunia II melawan Nazi Jerman. Kami tidak ingin lagi perang, karena itu kami intensif berdiplomasi.”

Duta Besar Rusia Untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva ketika melakukan sesi wawancara khusus dengan tim Suara.com di Kedutaan Besar Rusia, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (2/3/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]
Duta Besar Rusia Untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva ketika melakukan sesi wawancara khusus dengan tim Suara.com di Kedutaan Besar Rusia, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (2/3/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Diplomasi terus dilanjutkan hingga awal tahun 2022. Putin menyampaikan hal yang sama saat berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Moskow. Begitu pula saat menyambut kunjungan Kanselir Jerman Olaf Scholz.

“Kami mendesak mereka agar Ukraina memenuhi kesepakatan Perjanjian Minks, serta jaminan keamaan Rusia dari Barat. Karena Ukraina dengan dukungan Barat sudah menempatkan prajurit-prajuritnya di perbatasan Rusia, yakni Donbas, sehingga setiap saat bisa menyerang kami.”

Karena tak pernah mendapat jawaban, kata Lyudmila, Presiden Putin akhirnya memutuskan mengakui kedaulatan Republik Rakyat Luhansk dan Republik Rakyat Donetsk, serta meneken banyak kerja sama dengan keduanya, termasuk perlindungan militer.

“Konsekuensi pengakuan kedaulatan kedua negara itu adalah memberikan perlindungan terhadap warga Luhansk dan Donetsk, sehingga operasi militer dilakukan. Ini adalah pilihan yang sangat sulit bagi Rusia, tapi untuk melindungi saudara-saudaranya di Ukraina, harus dilalui.”

Walau demikian, Lyudmila menegaskan Rusia tetap memercayai solusi damai melalui jalur diplomatik.

Ia mengatakan, pihak-pihak yang mengatakan Rusia tidak mau berdiplomasi sama saja menebar kebohongan.

Sebab, kata dia, kalau Rusia seperti itu, pihaknya tidak akan mau bertemu delegasi Ukraina di Belarus, pekan lalu untuk mencari solusi damai.

Meski tak mengetahui detail isi pertemuan itu, dia mengatakan akan ada pertemuan lanjutan antarkedua belah pihak.

“Sekali lagi, kami tidak berperang dengan warga sipil Ukraina. Kami sudah sangat lama bertoleransi, membuka pintu negosiasi, kami mencoba agar Perjanjian Minks ditepati. Semua ini kami lakukan untuk warga Rusia dan saudara-saudara kami di Ukraina.”

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bom Thermobaric, Senjata Mematikan Milik Rusia dan AS yang Mampu Buat Tubuh Manusia Lenyap Seketika

Bom Thermobaric, Senjata Mematikan Milik Rusia dan AS yang Mampu Buat Tubuh Manusia Lenyap Seketika

Bisnis | Kamis, 03 Maret 2022 | 17:59 WIB

Kena Imbas Konflik Rusia dan Ukraina, Pabrikan Mobil Top Rusia 4 Hari Tak Beroperasi

Kena Imbas Konflik Rusia dan Ukraina, Pabrikan Mobil Top Rusia 4 Hari Tak Beroperasi

Jogja | Kamis, 03 Maret 2022 | 17:47 WIB

Terdampak Invasi Rusia, UNHCR: Satu Juta Pengungsi Tinggalkan Ukraina

Terdampak Invasi Rusia, UNHCR: Satu Juta Pengungsi Tinggalkan Ukraina

Malang | Kamis, 03 Maret 2022 | 17:17 WIB

Terkendala Pasokan Komponen, Perusahaan Mobil Rusia Avtovaz Hentikan Produksi

Terkendala Pasokan Komponen, Perusahaan Mobil Rusia Avtovaz Hentikan Produksi

Otomotif | Kamis, 03 Maret 2022 | 17:13 WIB

Segera Dijual, Segini Harga Chelsea yang Ditawarkan Roman Abramovich

Segera Dijual, Segini Harga Chelsea yang Ditawarkan Roman Abramovich

Bisnis | Kamis, 03 Maret 2022 | 16:38 WIB

Pengungsian Terbesar di Abad 21: Lebih dari Sejuta Warga Ukraina Mengungsi

Pengungsian Terbesar di Abad 21: Lebih dari Sejuta Warga Ukraina Mengungsi

News | Kamis, 03 Maret 2022 | 16:32 WIB

Terkini

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Sumsel | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:59 WIB

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:55 WIB

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:45 WIB

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Bola | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:35 WIB

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Riau | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:30 WIB

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:29 WIB

Bos BI Berganti, Grace Natalie PSI Tegaskan Independensi Institusi Tak Boleh Goyah

Bos BI Berganti, Grace Natalie PSI Tegaskan Independensi Institusi Tak Boleh Goyah

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:26 WIB

DPRD DKI Soroti Izin Penjualan Miras di Festival Musik, Buntut Kasus Viral The Sounds Project

DPRD DKI Soroti Izin Penjualan Miras di Festival Musik, Buntut Kasus Viral The Sounds Project

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:20 WIB

Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!

Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:20 WIB

Luas Karhutla Riau Capai 15 Ribu Hektare Selama Januari-Juli 2026

Luas Karhutla Riau Capai 15 Ribu Hektare Selama Januari-Juli 2026

Riau | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:17 WIB

×