Skandal Perdagangan Anak Berkedok Adopsi: Saya Diculik dan Dijual

Siswanto, BBC

Minggu, 13 Maret 2022 | 13:30 WIB
Skandal Perdagangan Anak Berkedok Adopsi: Saya Diculik dan Dijual
BBC

Suara.com - BBC News Indonesia melakukan penelusuran di berbagai kota di Indonesia dan di Belanda, menyibak praktik adopsi ilegal yang terjadi pada 1970-an hingga 1980-an. Oleh pemerintah Belanda, praktik proses adopsi anak dari Indonesia ke Belanda ini disebut "pelanggaran serius".

Indonesia, empat dekade lalu. Berbagai kasus adopsi anak yang melibatkan sejumlah oknum terkuak. Oknum-oknum ini beroperasi di panti asuhan dan klinik bersalin di beragam daerah, termasuk Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.

Dalam sebuah kasus, seorang bidan ditangkap pihak berwenang pada awal 1980-an, setelah aparat menemukan 18 bayi di lotengnya. Anak-anak itu sedianya akan diadopsi ke sejumlah negara.

Temuan yang dijuluki "peternakan bayi" itu, disebut sebagai bukti perdagangan anak dengan berkedok adopsi.


Penelusuran tentang adopsi ilegal di masa lalu, yang melibatkan pemalsuan dokumen dan penculikan anak ini, dikemas dalam seri siniar terbaru produksi BBC Indonesia.

Anda dapat mendengarkan podcast ini di tautan ini, juga di platform podcast Spotify dan Apple Podcast. Episode terbaru tayang setiap Rabu, dua pekan sekali.


Dalam kasus lain, sejumlah anak diculik dari keluarganya di berbagai daerah, lalu dijual melalui perantara. Setelah itu, mereka ditampung panti asuhan di Jakarta.

Anak-anak itu kemudian diadopsi oleh pasangan Belanda, sebagian besar dengan dokumen palsu.

Penculikan dan pemalsuan dokumen adopsi itu, dialami oleh Yanien Veenendaal.

baca juga

Kala usianya masih 10 tahun, Yanien Veenendaal diambil paksa dari keluarganya di Semarang, Jawa Tengah.

Setelah berpindah-pindah tempat, Yanien berakhir di Yayasan Kasih Bunda yang berlokasi di Jakarta, berjarak sekitar 440km dari kampung halamannya di Semarang.

Ia kemudian diadopsi ke Belanda, dengan dokumen palsu.

Baca juga:

Sejak saat itu, identitasnya diganti. Mulai dari nama, usia dan tanggal lahir, hingga nama kedua orang tuanya.

"Saya Tridjotho Apriljani, tetapi untuk adopsi, nama [saya] Murni Yani. Identitas saya semua harus hilang, nama saya harus hilang, nama orang tua harus hilang, umur saya harus hilang."

"Sampai sekarang, untuk saya, Tridjotho Apriljani masih di Indonesia, Murni Yani itu anak lain, tapi saya juga dijual untuk adopsi Maaf," tutur Yanien, dengan suara tercekat.

Dia tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan pengalaman tak mengenakkan yang ia alami.

Awalnya, Yanien tak menyadari apa yang dia alami adalah penculikan. Baru ketika usianya beranjak dewasa, ia menyadari dirinya menjadi korban dari perdagangan anak.

"Ini tentang penculikan. Ini tentang anak yang diculik. Anak yang tak punya pilihan. Ini adalah pilihan dari orang dewasa yang menjual anak itu demi uang. Ini tentang uang," tegas Yanien.

Penculikan dan pemalsuan dokumen seperti yang dialami Yanien, serta keberadaan apa yang disebut "peternakan bayi", menjadi temuan penyelidikan komite investigasi antar negara di Belanda yang dirilis tahun lalu.

Baca juga:

Hasil penyelidikan itu mengungkap telah terjadi "pelanggaran serius" dalam praktik adopsi anak ke Belanda dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Sri Lanka, Bangladesh, Kolombia, dan Brasil.

Yanien adalah salah satu dari lebih 3.000 anak Indonesia yang diadopsi ke Belanda sebelum 1984, ketika pemerintah Indonesia menutup rapat adopsi ke luar negeri karena skandal yang kerap terjadi dalam pengadopsian anak-anak tersebut.

Sebagian besar anak-anak itu diadopsi secara ilegal. Semua dokumen mereka dipalsukan, mulai dari akta kelahiran, dokumen adopsi, identitas orang tua kandung, hingga alamat mereka.

Pemalsuan dokumen ini membuat banyak dari mereka yang diadopsi ke Belanda, harus menempuh perjalanan berliku untuk menemukan orang tua kandungnya di Indonesia, seperti yang dialami Widya Astuti Boerma.

BBC News Indonesia mengikuti perjalanan Widya menelusuri asal-usulnya dari kota ke kota di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga ke Lampung di Sumatra, setahun setelah utas Twitter tentang pencarian ibu kandungnya viral di dunia maya Indonesia.

https://twitter.com/taziateresa/status/1272481083955851264?s=20&t=bLerZgWU1wCKdNb52hgHPg

Di Indonesia, Widya bertemu dengan dua perempuan yang kehilangan anak perempuan mereka pada 1970-an. Masing-masing dari mereka, menduga putri yang hilang itu adalah Widya.

"Dibandingkan dengan pertemuan dengan keluarga sebelumnya, bedanya seperti bumi dan langit. Saya langsung merasa hampir menjadi bagian dari keluarga. Tidak masalah DNA kami cocok atau tidak," ujar Widya.

Apakah pertemuan itu menjadi akhir pencarian Widya?

Di Indonesia pula, Widya bertemu dengan mantan perawat di sebuah panti asuhan di Pasuruan, Jawa Timur, yang menguak kisah masa lalu yang selama ini tak dinyana oleh Widya.

Apa yang dibeberkan perempuan itu?

Sementara di Belanda, BBC News Indonesia bertemu dengan Jan dan Edith Boerma, ayah dan ibu angkat Widya, yang merasa diperdaya dengan banyaknya pelanggaran dalam proses adopsi putrinya, yang tak mereka sadari sebelumnya.

Joop dan Karin Michel, orang tua angkat Herlina Buitenbos membeberkan hal serupa.

Pemalsuan dokumen adopsi, membuat Herlina merasa menjadi korban dari praktik perdagangan anak.

"Jika nama dan alamat yang tertera adalah benar, akan sangat mudah menemukan keluarga saya. Tapi ternyata tidak," tutur Herlina.

Pemalsuan dokumen adopsi tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga negara-negara lain seperti Sri Lanka.

BBC News Indonesia bertemu dengan Dilani Butink, yang diadopsi dari Sri Lanka ke Belanda pada 1992.

Pada 2018, ia mengajukan gugatan terhadap pemerintah Belanda untuk bertanggung jawab atas adopsi ilegal yang terjadi padanya.

Sidang banding kasus hukumnya, kini tengah berlangsung di Den Haag, Belanda.

Langkah hukum yang dilakukan Dilani, kini sedang dijajaki Dewi Deijle, pengacara Belanda yang sama seperti Yanien dan Widya, diadopsi dari yayasan yang sama di Indonesia.

BBC News Indonesia menelisik lebih jauh jaringan adopsi ilegal di Belanda, dengan menelusuri organisasi-organisasi yang terlibat dalam adopsi anak di masa lalu.

Salah satunya, Stichting Kind en Toekomst, yang memproses adopsi Herlina Buitenbos dari Indonesia dan Dilani Butink dari Sri Lanka.

Juga, bertemu dengan Zef Hendricks yang mengepalai asosiasi organisasi adopsi antar negara di Belanda di awal 1980-an, untuk mengonfrontir sejumlah tudingan.

Penelusuran tentang adopsi ilegal di masa lalu, yang melibatkan pemalsuan dokumen dan penculikan anak ini, dikemas dalam seri siniar terbaru produksi BBC Indonesia.

Anda dapat mendengarkan podcast ini di tautan ini, juga di platform podcast Spotify dan Apple Podcast. Episode terbaru tayang setiap Rabu, dua pekan sekali.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bagaimana Cara Adopsi Orang Utan? Ini Syarat, Biaya, dan Langkah Pendaftarannya

Bagaimana Cara Adopsi Orang Utan? Ini Syarat, Biaya, dan Langkah Pendaftarannya

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Bagaimana Cara Adopsi Anak di Indonesia? Cek Syarat dan Tahapannya

Bagaimana Cara Adopsi Anak di Indonesia? Cek Syarat dan Tahapannya

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:45 WIB

Apa Arti Nama Thayaka, Anak Adopsi Ruben Onsu? Begini Asal-usulnya yang Bikin Haru

Apa Arti Nama Thayaka, Anak Adopsi Ruben Onsu? Begini Asal-usulnya yang Bikin Haru

Entertainment | Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59 WIB

Siapa Thayaka Putra Onsu? Ini Cerita Haru di Balik Keputusan Ruben Onsu Adopsi Anak

Siapa Thayaka Putra Onsu? Ini Cerita Haru di Balik Keputusan Ruben Onsu Adopsi Anak

Entertainment | Senin, 19 Oktober 2026 | 12:46 WIB

Terlanjur Sayang, Pasutri Singapura Baru Sadar Anak Angkatnya Diduga Korban Perdagangan Bayi dari RI

Terlanjur Sayang, Pasutri Singapura Baru Sadar Anak Angkatnya Diduga Korban Perdagangan Bayi dari RI

News | Senin, 27 Juli 2026 | 15:53 WIB

Jejak Kelam Tenda Biru Bekasi: 8 Anak Dijual Jadi PSK, Omzet Tembus Rp1,7 Miliar

Jejak Kelam Tenda Biru Bekasi: 8 Anak Dijual Jadi PSK, Omzet Tembus Rp1,7 Miliar

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 18:34 WIB

Nagita Slavina dan Raffi Ahmad Jadi Foster Family untuk Bayi Muhammad, Apa Bedanya dengan Adopsi?

Nagita Slavina dan Raffi Ahmad Jadi Foster Family untuk Bayi Muhammad, Apa Bedanya dengan Adopsi?

Lifestyle | Jum'at, 20 Maret 2026 | 21:05 WIB

Jatuh Hati, Rizky Billar Adopsi Bocah 6 Tahun

Jatuh Hati, Rizky Billar Adopsi Bocah 6 Tahun

Entertainment | Jum'at, 06 Maret 2026 | 18:00 WIB

Baby Muhammad di Rumah Raffi dan Nagita: Anak Angkat Baru atau Hanya Titipan Ramadan?

Baby Muhammad di Rumah Raffi dan Nagita: Anak Angkat Baru atau Hanya Titipan Ramadan?

Entertainment | Jum'at, 06 Maret 2026 | 07:05 WIB

Di Balik Jerat Jual Beli Bayi: Kerentanan Ibu, Jebakan Medsos, dan Lenyapnya Hak Anak

Di Balik Jerat Jual Beli Bayi: Kerentanan Ibu, Jebakan Medsos, dan Lenyapnya Hak Anak

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:35 WIB

Terkini

PDIP Bicara Peluang Hak Angket Usai Putusan MA Soal Gibran: Pembicaraan Lintas Parpol Makin Masif

PDIP Bicara Peluang Hak Angket Usai Putusan MA Soal Gibran: Pembicaraan Lintas Parpol Makin Masif

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:51 WIB

Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko

Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:46 WIB

Hasto Soal Putusan MA Ijazah Gibran: Tak Ada Kebohongan Abadi dalam Politik

Hasto Soal Putusan MA Ijazah Gibran: Tak Ada Kebohongan Abadi dalam Politik

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:44 WIB

Perbedaan Fungsi Retinol, Niacinamide, dan Vitamin C, Mana yang Dibutuhkan Kulitmu?

Perbedaan Fungsi Retinol, Niacinamide, dan Vitamin C, Mana yang Dibutuhkan Kulitmu?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:40 WIB

Solusi Cerdas di Balik Limbah MBG: Polinela Sulap Sisa Makanan Jadi Duit Lewat Magot

Solusi Cerdas di Balik Limbah MBG: Polinela Sulap Sisa Makanan Jadi Duit Lewat Magot

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:17 WIB

Memahami Perbedaan Buku Nikah, Akta Nikah, dan Kartu Nikah

Memahami Perbedaan Buku Nikah, Akta Nikah, dan Kartu Nikah

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:10 WIB

Dituding Jadi Imam Mahdi dan Bawa Kabur Rp1,3 Miliar, Figar Siap Lawan di Jalur Hukum

Dituding Jadi Imam Mahdi dan Bawa Kabur Rp1,3 Miliar, Figar Siap Lawan di Jalur Hukum

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:04 WIB

7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis

7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?

Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:49 WIB

Duh! 53 Orang Bunuh Diri di DIY, Depresi Jeratan Pinjol hingga Faktor Ekonomi Jadi Pemicu

Duh! 53 Orang Bunuh Diri di DIY, Depresi Jeratan Pinjol hingga Faktor Ekonomi Jadi Pemicu

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:47 WIB

×