Suku Anak Dalam yang Kehilangan Budaya

Siswanto

Jum'at, 22 April 2022 | 14:53 WIB
Suku Anak Dalam yang Kehilangan Budaya
Sebagian besar orang rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi yang kini terpaksa harus tinggal di kebun swait akibat hutan yang sudah gundul. (ANTARA/HO/WARSI)

Suara.com - Nyumbo dan suaminya Ngamben bersiap menyambut kelahiran anak kedua mereka dua bulan lalu, namun sebulan menjelang melahirkan mereka sudah harus pindah ke 'tanoh peranoon', tanah yang ditunjuk oleh dukun --pihak yang dipercaya untuk membantu proses kelahiran-- yang dianggap paling tepat untuk melahirkan bagi perempuan rimba.

Sesuai dengan tradisi yang diwariskan nenek moyang. Tradisi ini sudah berjalan sejak lama, ketika rumah mereka masih di dalam hutan belantara, yang merupakan tradisi orang rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi.

Tanah peranoon biasanya dekat dengan air sungai yang jernih, dikelilingi pohon yang mampu melindungi orang di dalamnya. Juga ada pohon-pohon yang dibutuhkan sebagai penanda bayi yang akan dilahirkan yaitu tenggeris dan sentubung.

Tenggeris adalah pohon yang tinggi menjulang, besar dan keras. Pemilihan kayu ini mempunyai harapan agar anaknya bisa hidup tegak, kuat dan menjulang. Setiap individu punya kayu tenggeris sendiri, tidak boleh bersama. Karena kayu ini akan menjadi perlambang bayi dan kehidupan masa depannya.

Hubungan bayi dan pohon ini dihubungkan ketika kulit kayu ini dikikis dan kemudian dibalurkan ke kepala bayi. Pantang bagi Orang Rimba untuk menumbangkan pohon tenggeris karena itu artinya sama dengan membunuh manusia yang menempel dengan pohon tersebut.

Makanya kesalahan atas penumbangan pohon tenggeris sama hukumnya dengan membayar denda menghilangkan nyawa orang rimba atau SAD lain senilai 600 lembar kain. Begitu juga dengan pohon sentubung.

Pohon sentubung biasanya pohon yang lebih kecil dan di bawahnya di tanam ari-ari bayi. Pohon ini pun fungsinya juga perlambang nyawa bayi, dan diperlakukan sama dengan tenggeris, pantang untuk ditebang.

Makanya, di dalam rimba setiap pohon tenggeris dan sentubung ini di tandai sehingga tidak ada alasan untuk tidak tau kalau ini pohon terhubung dengan manusia.

Hidup di kebun sawit

baca juga

Namun apa daya, kini bagi sebagian Orang Rimba atau SAD tradisi ini menjadi sulit untuk di jalankan. Sebagaimana yang dirasakan Nyumbo dan suami, dan anggota Kelompok Tumenggung Mariau. Sudah lebih dari 25 tahun ini kehilangan hutan mereka berganti dengan perkebunan kelapa sawit, di desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi.

Terpaksalah tanah peranoon beralih di bawah batang-batang sawit. Belukar yang tumbuh di sana di jadikan sebagai pohon sentubung.

Sedangkan kulit tenggeris yang dijadikan sebagai perlambang bayi, tidak ada lagi. Tradisi tergerus seiring tergerusnya hutan.

"Pohonnya sudah hilang, mumpa manolah kami andok ngabik kulitnyo, tepas olah hopi ado tenggeris budak iyoy, (pohonnya sudah hilang, bagaimanalah kami mau mengambil kulitnya, terpaksalah tidak ada lagi tenggeris sebagai penanda bayi ini),” kata Tumenggung Mariau.

Dukun yang membacakan dedekorin (doa) untuk menolong kelahiran. Sedangkan untuk membantu persalinan dibantu Meliyau yang juga merupakan ibu Nyumbo. Bagi Orang Rimba, kehilangan dan ketiadaan pohon tenggeris dan sentubung adalah kehidupan tanpa harapan.

Hutan yang melekat sebagai jati diri orang rimba, kehilangan hutan bisa juga bermakna kehilangan kehidupan. Kehidupan Orang Rimba selaras dengan alam, mereka merawat alam dengan adat dan budaya.

Setiap nyawa Orang Rimba selalu diasosiasikan dengan pohon, yang didapatkannya semenjak lahir. Kondisi ini ada ketika hutan rimba masih berjaya, menjadi rumah yang ramah untuk warga di dalamnya.

Sayangnya keadaan tidak selalu sama. Apa daya suku ini terpaksa hidup di rumah mereka yang sudah menjadi kebun monokultur, sehingga tradisi yang diwariskan nenek moyang tidak lagi berjalan sempurna, dan nyaris kehilangan makna. Kondisi dialami oleh lebih dari 900 KK Orang Rimba tinggal di dalam perkebunan sawit dan akasia.

"Mereka terpaksa hidup di dalam kebun sawit dan akasia karena memang di situlah rumah mereka sejak dulu, hutan yang menjadi tempat mereka hidup," kata Antropolog Warsi, Anggun Sastika.

Titik balik

Dia mengatakan, setiap unsur kehidupan Orang Rimba selalu berkaitan dengan hutan. Ritual-ritual yang menjadi ciri hidup mereka selalu berkaitan dengan hutan. Dari pernikahan mereka melangsungkan acara dengan namanya berbalai. Acara ini membutuhkan banyak sekali bunga-bunga dari hutan.

Acara melahirkan juga membutuhkan hutan, sampai ke kematian Orang Rimba butuh hutan. Hutan menjadi identitas suku yang hidup semi nomadik ini. Menipisnya hutan berdampak pada kehilangan adat dan budaya.

"Bisa-bisa terjadi geger budaya," kata Anggun.

Geger budaya ini, bagi sebagian komunitas lain mungkin bisa diatasi dengan cara adaptasi yang lebih baik dan berlangsung mulus (smooth).

"Caranya dengan membuka ruang pada komunitas ini, memberi mereka keleluasaan untuk beradaptasi atas perubahan itu, dengan pola baru yang bisa mereka jalankan dan kalau hari ini, kebiasaan atau tradisi lama mereka tidak bisa berjalan, sementara bagaimana dengan adaptasi dengan perubahan itu Orang Rimba masih kebingungan," kata Anggun.

Tugas semua pihak untuk membantu Orang Rimba melakukan adaptasi dan menghadapi perubahan tersebut, termasuk dengan memulihkan hutan mereka dan mengakui hak-hak dasar mereka sebagai bagian dari warga negara.

Dikatakan Anggun, momentum peringatan hari bumi, merupakan langkah tepat untuk berbuat bagi penyelamatan hutan dan sumber penghidupan Orang Rimba dimana momen hari bumi ini hendaknya menjadi titik balik bagi semua untuk berpikir tentang nilai-nilai kemanusiaan, menghargai kehidupan suku yang bergantung dengan sumber daya alam.

Sikap ini akan sejalan dengan upaya bersama untuk mencegah atau paling tidak memperlambat bumi dari kerusakan. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jejak Tebangan Kayu Hangus Terbakar Ditemukan di Lokasi Karhutla Jambi

Jejak Tebangan Kayu Hangus Terbakar Ditemukan di Lokasi Karhutla Jambi

Foto | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 20:38 WIB

Sungai Batanghari Terdampak Kemarau, Ribuan Ton Ikan Keramba Mati

Sungai Batanghari Terdampak Kemarau, Ribuan Ton Ikan Keramba Mati

Foto | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 11:00 WIB

Menteri LH Sentil World Bank buntut Tarik Dana Iklim 70 Juta USD dari Jambi

Menteri LH Sentil World Bank buntut Tarik Dana Iklim 70 Juta USD dari Jambi

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:03 WIB

Puluhan Ton Ikan Mati Tiap Bulan, Sungai Batanghari Makin Sekarat

Puluhan Ton Ikan Mati Tiap Bulan, Sungai Batanghari Makin Sekarat

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:28 WIB

Mencicipi Nasi Telur Mang One Jambi: Telur Garing, Nasi Daun Jeruk, dan Sensasi Paru Mercon

Mencicipi Nasi Telur Mang One Jambi: Telur Garing, Nasi Daun Jeruk, dan Sensasi Paru Mercon

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 15:50 WIB

17 Tahun Menunggu, Transmigran di Kerinci Masih Hidup Tanpa Listrik

17 Tahun Menunggu, Transmigran di Kerinci Masih Hidup Tanpa Listrik

Foto | Selasa, 04 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Uji Rasa Aditya Kwetiau Jambi: 15 Tahun Eksis, Porsinya Bikin Dompet Aman Perut Kenyang!

Uji Rasa Aditya Kwetiau Jambi: 15 Tahun Eksis, Porsinya Bikin Dompet Aman Perut Kenyang!

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 13:48 WIB

Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi

Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:05 WIB

Tolak Intimidasi Sejak Dini: Ratusan Siswa SMAN Titian Teras Jambi Gelar Deklarasi Anti-Perundungan

Tolak Intimidasi Sejak Dini: Ratusan Siswa SMAN Titian Teras Jambi Gelar Deklarasi Anti-Perundungan

Your Say | Minggu, 19 Juli 2026 | 10:44 WIB

KPK Tindak Lanjuti Laporan Dugaan Korupsi Gubernur Jambi dan Bupati Tebo

KPK Tindak Lanjuti Laporan Dugaan Korupsi Gubernur Jambi dan Bupati Tebo

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 22:41 WIB

Terkini

HP Makin Awet, Mengapa Sebagian Orang Masih Tak Bisa Lepas dari Power Bank?

HP Makin Awet, Mengapa Sebagian Orang Masih Tak Bisa Lepas dari Power Bank?

Your Say | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:12 WIB

Kapolda Riau Ungkap Modus Karhutla: Warga Disuruh Pura-Pura Mancing

Kapolda Riau Ungkap Modus Karhutla: Warga Disuruh Pura-Pura Mancing

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:12 WIB

Ini Alasan Bundaran HI Kini Dilarang Jadi Tempat Aksi Unjuk Rasa

Ini Alasan Bundaran HI Kini Dilarang Jadi Tempat Aksi Unjuk Rasa

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:09 WIB

Perusahaan Investasi UGM Segera IPO, Target Raup Dana Rp45,2 Miliar

Perusahaan Investasi UGM Segera IPO, Target Raup Dana Rp45,2 Miliar

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:06 WIB

Perbedaan Sabun Cuci Muka Barber Daily Warna Hijau dan Biru untuk Apa?

Perbedaan Sabun Cuci Muka Barber Daily Warna Hijau dan Biru untuk Apa?

Lifestyle | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:05 WIB

Rekening Aktivis Pati Terblokir Jelang Demo, DPR Akan Konfirmasi ke Bank

Rekening Aktivis Pati Terblokir Jelang Demo, DPR Akan Konfirmasi ke Bank

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:03 WIB

Jay Idzes Cuma jadi Cadangan Saat Sassuolo Kalah dari Atalanta, Ini Kata Alberto Aquilani

Jay Idzes Cuma jadi Cadangan Saat Sassuolo Kalah dari Atalanta, Ini Kata Alberto Aquilani

Bola | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:02 WIB

Salah Desil Bisa Pengaruhi Bansos, Dinsos Gunungkidul Buka Jalur Koreksi Data

Salah Desil Bisa Pengaruhi Bansos, Dinsos Gunungkidul Buka Jalur Koreksi Data

Jogja | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:01 WIB

Ulasan Hidayah: Film Horor Mencekam tentang Tobat dan Pengampunan Tuhan

Ulasan Hidayah: Film Horor Mencekam tentang Tobat dan Pengampunan Tuhan

Your Say | Senin, 24 Agustus 2026 | 14:00 WIB

Warga Pati Mengadu ke DPR: Hoaks hingga Aksi Ricuh Bikin Investor Takut Masuk

Warga Pati Mengadu ke DPR: Hoaks hingga Aksi Ricuh Bikin Investor Takut Masuk

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 13:56 WIB

×