facebook

Kisah Toleransi Perayaan Waisak di Kalimanggis, Umat Buddha, Islam dan Kristen Berbaur Harmonis

Pebriansyah Ariefana
Kisah Toleransi Perayaan Waisak di Kalimanggis, Umat Buddha, Islam dan Kristen Berbaur Harmonis
Kisah Toleransi Perayaan Waisak di Kalimanggis (Antara)

Ratusan umat Buddha memenuhi ruangan dan halaman Wisma Bhikkhu Jayawijaya dalam perayaan Tri Suci Waisak 2566 Buddhist Era (BE).

Suara.com - Indonesia terkenal dengan toleransi beragama. Saat Natal dan Idul Fitri, wajah toleransi ini terlihat, termasuk saat Hari Raya Waisak umat Buddha. Toleransi perayaan Waisak terlihat di Kalimanggis, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa malam kemarin.

Ratusan umat Buddha memenuhi ruangan dan halaman Wisma Bhikkhu Jayawijaya dalam perayaan Tri Suci Waisak 2566 Buddhist Era (BE) di Desa Kalimanggis yang warganya mayoritas penganut ajaran Buddha tersebut.

Sebagian di antara mereka mengenakan pakaian adat Jawa, termasuk anak-anak yang bertugas membawa persembahan puja bakti.

Perayaan Tri Suci Waisak itu melibatkan hampir semua warga di Desa Kalimanggis, bukan hanya umat Buddha, bahkan dalam kepanitiaan juga melibatkan umat non-Buddha.

Baca Juga: Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Tempat Terbuka, Luqman Hakim: Pemerintah Jalankan Salah Satu Tujuan Syariat Islam

Perayaan Waisak di sana diiringi suara gamelan. Gamelan mengiringi lagu-lagu bernuansa Buddhis di Wisma Bhikkhu Jayawijaya di Dusun Krajan, Desa Kalimanggis.

Umat non-Buddha terlibat sejak awal, mulai dari membuat tratak dan menyiapkan kursi yang diambil dari beberapa dusun dan dalam kepanitiaan juga ada umat Islam dan Kristen, termasuk di bagian memasak di dapur juga melibatkan ibu-ibu yang beragama non-Buddha.

Warga Desa Kalimanggis Budi Rahayu penganut Nasrani menyampaikan kegiatan seperti ini dan melibatkan semua warga sudah menjadi agenda sejak dulu.

"Perayaan keagamaan ini diangkat bersama-sama, mulai dari pembiayaan, tenaga, kemudian saran dan masukan dari semua umat dengan maksud agar umat Buddha bisa merayakan Waisak dengan lancar. Segala sesuatunya tercukupi, umat Buddha merayakan Waisak dan nanti dirasakan oleh umat yang lain, baik itu Muslim maupun Nasrani, dan kepercayaan lainnya semua bisa merasakan," katanya.

Mantan Sekdes Kalimanggis yang kini bertugas di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung ini menuturkan kegiatan yang didukung bersama bukan hanya perayaan Waisak saja, tetapi juga waktu Lebaran dan Natal.

Baca Juga: Salah Satu Alasan Singapura Tolak UAS: Dianggap Merendahkan Pemeluk Agama Lain

Meskipun mayoritas warga beragama Buddha, waktu Idul Fitri itu semua warga tetap saling berkunjung dari rumah ke rumah, baik itu yang yang beragama Islam, Buddha maupun Nasrani didatangi semua.

Komentar