facebook

Petani Menjerit Harga Pupuk Mahal, Ibas Minta Holding Pupuk Indonesia Cari Solusi

Stefanus Aranditio
Petani Menjerit Harga Pupuk Mahal, Ibas Minta Holding Pupuk Indonesia Cari Solusi
Ketua Komisi Pemenangan Pemilu DPP Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono. [Suara.com/Muhamad Yasir]

Dia juga menyoroti distribusi pupuk yang belum sesuai dengan pendataan. Stoknya ada sekitar 1.3 juta, tapi yang terealisasi 98 persen.

Suara.com - Ketua Fraksi Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mewakili para petani dan pekebun meminta BUMN Holding Pupuk Indonesia untuk mengatasi persoalan harga pupuk yang melonjak dan langka.

Hal tersebut disampaikan Ibas ketika melaksanakan Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI ke PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Selasa (21/6/2022). 

“Mereka semua beragam. Ada yang senang, ada yang puas, tapi tidak sedikit juga yang protes. Sama yang kami dengar, juga seiring yang disampaikan Pak Dirut, bahwa pupuk langka, pupuk subsidi juga langka, apalagi pupuk komersil juga tidak bisa dicari, ini kata mereka,” kata Ibas.

Ibas kemudian menyampaikan para petani di dapilnya di Jawa Timur mengeluh pupuk datang terlambat yang mengganggu perkebunan mereka.

Baca Juga: Kisruh Demokrat Riau: Gugatan Asri Auzar ke AHY Dikabulkan, Ini Respons Agung Nugroho

“Pupuk seringkali tidak datang tepat waktu alias kosong. Ketika sudah mulai menanam, mau memupuk, pupuknya enggak ada. Kecuali mereka yang sudah menyetok karena mungkin mempunyai kemampuan lebih besar dari kawan-kawan yang lain,” ungkap Ibas.

Ibas juga memberikan apresiasi atas pendapatan Pupuk Indonesia yang berhasil naik, namun dia meminta BUMN ini segera mencari solusi atas masalah yang terjadi. 

“Cukup menarik ya, ketika kita bicara Petrokimia, holding, dan seluruh anak perusahaan labanya naik, pendapatannya naik, ‘it’s good news’ ya. Berarti perusahaan ini sehat dan tumbuh berkembang.”

“Tapi tidak menariknya adalah mengapa masih ada, pertama: alokasi di bawah usulan kebutuhan? Urea NPK ZA SP-36 Organik, 3.8 juta ton subsidi, 2.7 juta ton non-subsidi. Apakah kita perlu hitung ulang? Ketika masyarakat masih merasakan kelangkaan pupuk.” tanya Ibas. 

Dia juga menyoroti distribusi pupuk yang belum sesuai dengan pendataan. Stoknya ada sekitar 1.3 juta, tapi yang terealisasai 98 persen.

Baca Juga: PKS Ogah Umumkan Bakal Capres Usai Rapimnas

"Artinya perlu peningkatan produksi atau ada penimbunan? Tolong pengawasannya diperketat, serta menggunakan digital monitoring juga," tuturnya

Ketiga, menurut Ibas harga pupuk relatif mahal antara pupuk urea 50 kg yanh seharga Rp120 ribu sementara pupuk non-subsidi Rp350 ribu, perbedaannya terlalu tinggi. 

"Bagaimana kita memberikan edukasi kepada pasar supaya ada titik terang juga di sana?, lebih lagi ada rencana mengurangi jenis pupuk subsidi dari 5 jenis menjadi hanya 2 jenis yaitu NPK & Urea saja yg tersubsidi," ucap Ibas.

Komentar