Armenia dan Azerbaijan: Ada Apa di Balik Konflik Dua Negara Itu?

Siswanto | BBC | Suara.com

Sabtu, 17 September 2022 | 05:22 WIB
Armenia dan Azerbaijan: Ada Apa di Balik Konflik Dua Negara Itu?
BBC

Suara.com - Rangkaian bentrokan militer di sepanjang perbatasan Azerbaijan dan Armenia memicu kekhawatiran perang baru akan terjadi antara kedua negara.

Sejak akhir 1980-an, dua negara bekas negara republik Soviet itu bertempur memperebutkan teritori Nagorno-Karabakh, yang mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu orang mengungsi.

Di mana Armenia dan Azerbaijan berada?

Kedua negara berada di selatan Kaukasus - pegunungan di Eropa Timur yang berbatasan dengan Asia, antara Laut Hitam dan Laut Kaspia.

Azerbaijan memiliki populasi sebanyak 10,1 juta jiwa, kebanyakan dari mereka adalah Muslim.

Sementara Armenia memiliki populasi tiga juta jiwa dengan mayoritas penduduknya beragama Nasrani.

Baca juga:

Azerbaijan memiliki hubungan yang erat dengan Turki, sedangkan Armenia dengan Rusia (kendati Rusia juga memiliki hubungan yang baik dengan Azerbaijan).

Pada 1923, Uni Soviet menjadikan Nagorno-Karabakh, yang mayoritas penduduknya warga Armenia, sebuah republik otonom Azerbaijan.

Sebagian besar dari 150.000 penduduk di kawasan itu saat ini adalah warga Armenia.

Bagaimana awal mula konflik antara Armenia dan Azerbaijan?

Pada 1988, warga etnis Armenia di Nagorno-Karabakh mulai menuntut agar kawasan itu diperintah oleh orang Armenia. Hal ini memicu ketegangan antaretnis.

Pada 1991, ketika wilayah tersebut secara resmi menyatakan kemerdekaan, perang pecah antara Armenia dan Azerbaijan.

Perang itu mengakibatkan sekitar 30.000 korban jiwa dan ratusan ribu orang lainnya mengungsi.

Pada 1993, Armenia telah menguasai Nagorno-Karabakh dan banyak wilayah sekitarnya di Azerbaijan.

Pada tahun 1994, Rusia menengahi gencatan senjata.

Nagorno-Karabakh tetap menjadi bagian dari Azerbaijan, tetapi sejak itu sebagian besar diperintah oleh separatis yang mendeklarasikan diri sebagai republik, dijalankan oleh etnis Armenia, dan didukung oleh pemerintah Armenia.

Perang antara Armenia dan Azerbaijan kembali berkorbar antara September dan November 2020.

Baca juga:

Kali ini, Azerbaijan - yang didukung oleh Turki - berada di atas angin dan mendapatkan kembali kendali penuh atas sebagian besar Nagorno-Karabakh.

Di tengah gencatan senjata yang dimediasi oleh Rusia, Armenia menarik pasukan dari sana dan hampir 2.000 penjaga perdamaian Rusia dikerahkan ke wilayah itu untuk memantau gencatan senjata.

Pemimpin kedua negara telah bertemu beberapa kali untuk menuntaskan perjanjian damai terkait Nagorno-Karabakh, tetapi tidak berhasil.

Apa konflik terbaru yang terjadi di sana?

Dalam beberapa hari terakhir, pertempuran terjadi di perbatasan Armenia dan Azerbaijan, yang disebut oleh Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan telah mengakibatkan 49 tentara Armenia tewas.

Armenia mengeklaim pasukan Azerbaijan menyerang beberapa kota di dekat perbatasan negara itu dengan Azerbaijan.

Negara itu kemudian merespons apa yang disebut sebagai "provokasi skala besar".

Pemerintah Armenia menyebut Azerbaijan memicu konflik karena negara itu enggan bernegosiasi terkait Nagorno Karabakah.

Akan tetapi, Azerbaijan mengeklaim Armenia adalah yang pertama melakukan serangan.

Azerbaijan menuding Armenia melakukan aktivitas intelijen di sepanjang perbatasan dan menyerang pos militer Azerbaijan.

Bagaimana negara-negara lain merepons konflik terbaru?

Banyak negara khawatir akan pecahnya perang antara kedua negara di bekas wilayah Soviet di Eropa timur, selain perang di Ukraina.

Konflik ini dikhawatirkan bisa menarik negara-negara lain, seperti Rusia dan Turki.

Rusia mengatakan telah menegosiasikan gencatan senjata antara Armenia dan Azerbaijan, tapi bentrokan dilaporkan terus terjadi.

Turki memihak Azerbaijan dan berkata pada Armenia untuk "menghentikan provokasi".

Prancis, yang saat ini menjabat sebagai presiden dewan keamanan PBB, telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk membahas konflik tersebut.

Charles Michel, presiden Dewan Eropa, mengatakan dia telah melakukan kontak dengan Pashinyan dan presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Eropa berkepentingan untuk menjaga Azerbaijan dalam keadaan damai.

Sebab, negara-negara Uni Eropa saat ini mengimpor delapan miliar meter kubik gas dari negara tersebut setiap tahun.

Perang di Ukraina membuat pasokan gas Rusia ke Uni Eropa menghilang dan membuat negara-negara Eropa kekurangan pasokan gas.

Baru-baru ini, Uni Eropa menandatangani kesepakatan dengan Azerbaijan untuk meningkatkan pasokan gasnya menjadi 12 miliar meter kubik pada 2023 dan 20 meter kubik pada 2027.

Namun, kesepakatan itu tergantung pada perusahaan migas asing yang berinvestasi di Azerbaijan untuk memastikan negara itu memiliki kapasitas untuk mengekspor gas dalam jumlah itu.


Analisis oleh Konul Khalilova, Editor BBC Azerbaijan

Ketika Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, bertemu dengan Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, di Brussels pada akhir Agustus silam, keduanya berjabat tangan untuk pertama kalinya dan banyak orang optimistis dengan pembahasan kesepakatan damai yang mereka setujui dimulai.

Tak ada yang mengira bahwa pertempuran dengan skala seperti sekarang pecah begitu cepat.

Armenia berkata Azerbaijan menyerang wilayah tenggara negara itu; Azerbaijan membantah telah masuk wilayah Armenia, dan berkata operasi militer yang mereka lakukan adalah pembalasan atas "tindakan subversif skala besar" yang dilakukan Armenia.

Sebagian besar pertempuran antara dua bekas republik Soviet sejak kemerdekaan mereka terjadi di Nagorno-Karabakh, yang secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan tetapi sebagian besar penduduknya - dan diperintah oleh - etnis Armenia.

Namun, konflik yang terjadi pekan ini terjadi 200 kilometer dari Karabakh.

Wilayah Armenia di mana konflik terjadi secara strategis adalah wilayah penting, sebab area itu memisahkan wilayah Azerbaijan dengan wilayah eksklave negara itu, Nakhichevan, sebidang tanah yang berbatasan dengan Turki.

Azerbaijan ingin membuka koridor melalui wilayah Armenia ke Nakhichevan, dan nantinya Turki - rencana yang sepenuhnya ditolak oleh Perdana Menteri Pashinyan.

Tidak pernah ada kesepakatan bersama tentang di mana tepatnya letak perbatasan Azerbaijan dan Armenia, karena keduanya saling berperang tak lama setelah mereka merdeka usai runtuhnya Uni Soviet.


Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Azerbaijan Ingin Pembahasan Batas Negara dengan Armenia Dipercepat

Azerbaijan Ingin Pembahasan Batas Negara dengan Armenia Dipercepat

News | Senin, 03 Oktober 2022 | 13:51 WIB

Gencatan Senjata Dilanggar, Armenia dan Azerbaijan Saling Lempar Tuduhan

Gencatan Senjata Dilanggar, Armenia dan Azerbaijan Saling Lempar Tuduhan

News | Kamis, 29 September 2022 | 10:58 WIB

Terkini

Haris Azhar Soroti Kejanggalan Penahanan Prajurit oleh Puspom TNI dalam Kasus Andrie Yunus

Haris Azhar Soroti Kejanggalan Penahanan Prajurit oleh Puspom TNI dalam Kasus Andrie Yunus

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 07:25 WIB

Gedung Putih Tak Pasang Target Akhiri Perang Iran, Minta Dana Tambahan Rp3.394 Triliun

Gedung Putih Tak Pasang Target Akhiri Perang Iran, Minta Dana Tambahan Rp3.394 Triliun

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 07:25 WIB

Menaker Yassierli: Hubungan Industrial Harus Dibangun Dengan Kepedulian

Menaker Yassierli: Hubungan Industrial Harus Dibangun Dengan Kepedulian

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 07:23 WIB

Waketum MUI Cholil Nafis Imbau Umat Islam Hormati Nyepi, Takbir Tak Pakai Pengeras Berlebihan

Waketum MUI Cholil Nafis Imbau Umat Islam Hormati Nyepi, Takbir Tak Pakai Pengeras Berlebihan

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 07:05 WIB

Prabowo dan Megawati Bertemu 2 Jam di Istana Merdeka, Bahas Isu Strategis hingga Geopolitik

Prabowo dan Megawati Bertemu 2 Jam di Istana Merdeka, Bahas Isu Strategis hingga Geopolitik

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 22:10 WIB

Dekat Vatikan, Gema Takbir Idul Fitri 2026 Dirayakan Umat Muslim bersama Warga Lokal

Dekat Vatikan, Gema Takbir Idul Fitri 2026 Dirayakan Umat Muslim bersama Warga Lokal

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 21:55 WIB

Bos Djarum Michael Bambang Hartono Wafat, Ini Jadwal Lengkap Pemakamannya di Rembang

Bos Djarum Michael Bambang Hartono Wafat, Ini Jadwal Lengkap Pemakamannya di Rembang

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 21:50 WIB

Komnas HAM akan Panggil Panglima TNI, Usut Keterlibatan Anggota BAIS di Kasus Air Keras Andrie Yunus

Komnas HAM akan Panggil Panglima TNI, Usut Keterlibatan Anggota BAIS di Kasus Air Keras Andrie Yunus

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 21:25 WIB

Lebaran di Neraka Dunia: Ketika Kue Idul Fitri Jadi Simbol Perlawanan Hidup di Gaza

Lebaran di Neraka Dunia: Ketika Kue Idul Fitri Jadi Simbol Perlawanan Hidup di Gaza

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 21:08 WIB

Prabowo Ungkap Alasan Strategis Indonesia Gabung 'Board of Peace' Demi Kemerdekaan Palestina

Prabowo Ungkap Alasan Strategis Indonesia Gabung 'Board of Peace' Demi Kemerdekaan Palestina

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 20:51 WIB