Suara.com - Hari Rabu pagi, Adam Lade mendatangi lapangan golf di dekat rumahnya. Ia mencoba menjelaskan kepada pemain golf lain di sana mengapa dia tidak bekerja hari itu namun tetap mendapat bayaran.
"Mereka semua yang ada di lapangan golf rata-rata berusia 70 tahun ke atas," kata pria berusia 25 tahun tersebut.
"Mereka heran dengan saya bekerja empat hari seminggu dan mengatakan hal ini tidak pernah terjadi saat mereka masih bekerja."
Adam adalah salah seorang dari sedikit warga di Australia yang ikut ambil bagian dalam eksperimen global untuk mengubah pola kerja lima hari seminggu.
Bukannya bekerja dari Senin sampai Jumat, Adam sekarang hanya bekerja empat hari namun tetap mendapat bayaran lima hari.
Pola bekerja empat hari ini memang masih belum populer dan mungkin dianggap "aneh", namun ada kemungkinan akan bisa menjadi hal yang normal nantinya.
Dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak perusahaan, organisasi dan lembaga pemerintahan di seluruh dunia yang mempertimbangkan untuk menerapkan kerja empat hari seminggu.
Beberapa bahkan sudah langsung menerapkannya.
Bulan lalu, 20 perusahaan di Australia dan Selandia Baru bergabung dengan 151 perusahaan di tiga negara Amerika Serikat, Inggris dan Irlandia untuk memantau uji coba kerja empat hari minggu. Mereka akan melihat hasilnya dalam waktu enam bulan.
Apakah bisa jadi hal yang normal?
Kath Blackham adalah bos Adam.
Perusahaan pemasaran digital Versa adalah satu dari perusahaan di Australia yang pertama kali melakukan uji coba kerja empat hari seminggu. Uji coba ini sebenarnya sudah dilakukan sejak empat tahun lalu.
Secara umum pekerja merasa lebih puas, lebih nyaman, dan juga lebih fokus ketika mereka bekerja.
Ini artinya mereka akan bisa bekerja lebih efisien, sehingga bisa bekerja dengan jam lebih sedikit namun dengan hasil lebih banyak.
Saat bekerja 4 hari seminggu, dengan rata-rata delapan jam per hari, Adam tetap dituntut untuk melakukan hal yang sama seperti ketika dia bekerja lima hari seminggu
Praktik ini dikenal dengan nama model 100:80:100, atau bayaran 100 persen untuk bekerja selama 80 persen, namun produktivitasnya tetap 100 persen.
Kumpulan Kuis Menarik
Komentar
Terkait
Terkini
Ikrar Nusa Bakti Sindir Militer: Merasa Dirinya Bukan Dibentuk Oleh Negara
News | Kamis, 16 April 2026 | 13:24 WIB
MBG Serap Hampir Rp1 Triliun per Hari, BGN Sebut Dana Langsung Mengalir ke Masyarakat
News | Kamis, 16 April 2026 | 13:22 WIB
Harga Rokok Lebih Murah dari Sebungkus Nasi, CISDI: Bisa Gagalkan Program Makan Bergizi Gratis
News | Kamis, 16 April 2026 | 13:18 WIB
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
News | Kamis, 16 April 2026 | 13:14 WIB
Laut Merah Milik Siapa? Iran Ancam Mau Menutupnya
News | Kamis, 16 April 2026 | 13:11 WIB
WALHI Kritik Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Satgas PKH: Waspada Ekspansi Militer di Ruang Sipil
News | Kamis, 16 April 2026 | 13:05 WIB
Melihat Kapal Macet Mau ke Selat Hormuz Berdasarkan Data Pelacakan Maritim
News | Kamis, 16 April 2026 | 12:59 WIB
Israel Hari Ini: Ancaman Roket Hizbullah hingga Serangan Lebah dan Cuaca Ekstrem
News | Kamis, 16 April 2026 | 12:57 WIB
Predator Berkedok Jas Almamater: Mengapa Kampus Elite Gagal Melindungi Korban Kekerasan Seksual?
News | Kamis, 16 April 2026 | 12:55 WIB