Apakah Amerika Serikat Sedang Resesi?

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 21 September 2022 | 16:27 WIB
Apakah Amerika Serikat Sedang Resesi?
BBC

Suara.com - Michelle Fleury, Koresponden Bisnis Amerika Utara, New York

Tiga dari lima orang warga Amerika berkata negara mereka sedang mengalami resesi, menurut survei terbaru dari Economist/YouGov. Lalu mengapa resesi belum ditetapkan secara resmi?

Inflasi melambung tinggi - yang tertinggi sejak tahun 1980-an - telah membuat kecut banyak orang.

Sejumlah warga Amerika mengaku membatasi bepergian dengan mobil untuk mengurangi konsumsi bensin, memilih tak membeli produk-produk organik, dan mencari diskonan untuk menghemat beberapa dolar.

Dan ada lebih banyak kabar buruk. Pasar perumahan yang dulu pernah berjaya mulai melambat, membuat ekuitas yang terkunci di sektor properti menjadi tak pasti.

S&P 500 juga terpukul. Indeks tahun ini turun 19%, yang berarti menghilangnya triliunan modal - membuat semua orang, dari pengusaha muda hingga pensiunan, gugup.

Tapi mungkin resesi ini hanyalah perasaan saja, karena lembaga pemerintah yang berwenang mengumumkan keadaan ini masih membisu.

Apa itu resesi?

Dalam keadaan ekonomi yang tumbuh, warga suatu negara menjadi sedikit lebih kaya secara rata-rata, karena nilai barang dan jasa yang mereka hasilkan - atau Produk Domestik Bruto (PDB) mereka - meningkat.

Namun terkadang, nilai PDB turun, dan resesi biasanya didefinisikan ketika penurunan ini terjadi selama dua kali tiga bulan - atau kuartal - berturut-turut.

Umumnya ini adalah pertanda bahwa perekonomian sedang buruk dan bisa berarti, dalam jangka pendek, akan ada banyak bisnis yang melakukan PHK.

Jadi, apakah Amerika sedang resesi?

PDB Amerika turun berturut-turut selama dua kuartal - 1,6% pada kuartal pertama 2022, dan 0,6% di kuartal berikutnya. Untuk beberapa negara, itu berarti resesi. Tapi tidak di AS.

Secara resmi, keadaan resesi diumumkan oleh Bussiness Cycle Dating Committee - badan kurang dikenal yang terdiri dari delapan ahli ekonomi yang dipilih oleh Biro Nasional Riset Ekonomi, sebuah organisasi non-profit.

Dan sejauh ini, komite ini masih belum mengumumkan keadaan resesi di AS.

Bagaimana tingkat suku bunga yang lebih tinggi memengaruhi ekonomi AS?

Untuk menurunkan harga-harga, Bank Sentral AS - Federal Reserve atau The Fed - menaikkan suku bunga. Harapannya, dengan membuat semakin mahal untuk meminjam uang, orang-orang akan menghabiskan lebih sedikit uang dan menabung lebih banyak.

Menurunnya permintaan konsumen akan membuat harga-harga barang dan jasa yang melambung tinggi menjadi turun - tapi ini butuh waktu.

Meskipun harga bahan bakar baru-baru ini turun, biaya makan dan sewa properti terus naik. Ini membuat bank sentral AS jadi sorotan.

The Fed diharapkan menaikkan tingkat suku bunga jangka pendeknya sebanyak tiga per empat poin untuk ketiga kalinya secara berturut-turut pada pertemuan terakhirnya, dengan harapan dapat mempercepat penurunan harga-harga.

Kenaikan besar seperti ini akan mendorong tingkat suku bunga acuannya - dari kisaran 3% hingga 3,25%, level yang tertinggi dalam 14 tahun.

Bahaya di baliknya, jika langkah ini terlalu jauh, maka pertumbuhan ekonomi justru terhambat dan tingkat pengangguran akan memuncak - risiko yang saat ini menjadi dasar ketakutan soal resesi.

Jalan panjang dan berliku?

Resesi atau tidak, pertanyaan pentingnya adalah, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sejumlah kalangan meyakini hal-hal buruk tak dapat dihindari.

Belum pernah terjadi di mana kita mengalami inflasi di atas 4% dan tingkat pengangguran di bawah 4%, dan kita tidak mengalami resesi selama dua tahun, kata mantan Menteri Keuangan AS, Larry Summers, baru-baru ini.

Ekonom Nouriel Roubini - yang pernah meramalkan kehancuran ekonomi pada 2018 - sepakat.

Dia meyakini jalan panjang dan berliku menuju resesi yang bisa bertahan hingga 2023.

Kesempatan untuk soft landing

Meskipun sejumlah peringatan di atas telah membuat banyak orang khawatir, masih banyak yang meyakini soft landing - atau perlambatan perekonomian yang moderat, alih-alih resesi penuh - masih mungkin terjadi.

Dengan skenario ini, kita akan melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat tanpa gejolak yang bisa mengakibatkan penurunan drastis.

Optimisme ini diperkuat dengan pasar kerja Amerika saat ini. Pelaku bisnis menerima 315.000 angkatan kerja pada Agustus lalu. Ini bukanlah tanda-tanda ekonomi yang terpuruk, menurut Gubernur The Fed, Christopher Waller.

Dalam pidatonya baru-baru ini di Wina, dia menepis kekhawatiran resesi.

Pasar tenaga kerja AS yang kuat memberi kita fleksibilitas untuk menjadi agresif dalam memerangi inflasi, kata dia.

Fed juga menekankan, tidak akan ragu menjaga tingkat suku bunga tinggi, selama hal tersebut dapat menurunkan inflasi.

Dengan bank sentral AS yang tampak bertekad bulat dalam usaha mereka menurunkan harga-harga, proses ini kemungkinan tidak akan selalu mulus. Jika tingkat suku bunga naik terlalu tinggi, resesi akan terjadi. Tapi jika naik terlalu sedikit, inflasi akan terus meninggi.

Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta Raphael Bostic mengakui proses ini sangat rumit dan baru-baru ini mengatakan bahwa soft landing sangat sulit dilakukan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:31 WIB

AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi

AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi

News | Senin, 18 Mei 2026 | 14:16 WIB

Rupiah Makin Jeblok ke Rp 17.660, Purbaya Tuding Gegara Ada Sentimen 1998

Rupiah Makin Jeblok ke Rp 17.660, Purbaya Tuding Gegara Ada Sentimen 1998

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 12:55 WIB

Kronologis Dua Pesawat Tempur Amerika Serikat Tabrakan di Udara

Kronologis Dua Pesawat Tempur Amerika Serikat Tabrakan di Udara

News | Senin, 18 Mei 2026 | 09:27 WIB

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:25 WIB

Kecelakaan Jet Tempur AS, Dua E/A-18G Growler Tabrakan di Gunfighters Air Show

Kecelakaan Jet Tempur AS, Dua E/A-18G Growler Tabrakan di Gunfighters Air Show

News | Senin, 18 Mei 2026 | 07:57 WIB

AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One

AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One

News | Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:38 WIB

Kesabaran Trump ke Iran Habis, Harga Minyak Naik Lagi

Kesabaran Trump ke Iran Habis, Harga Minyak Naik Lagi

Bisnis | Sabtu, 16 Mei 2026 | 12:48 WIB

Bagi-bagi Jabatan! Trump Tunjuk Sahabat Dekat Untuk Jadi Bos The Fed

Bagi-bagi Jabatan! Trump Tunjuk Sahabat Dekat Untuk Jadi Bos The Fed

Bisnis | Sabtu, 16 Mei 2026 | 09:32 WIB

Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada

Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 17:10 WIB

Terkini

Bantargebang Jadi 'Bom Metana' Dunia, Timbunan Sampah Tembus 80 Juta Ton!

Bantargebang Jadi 'Bom Metana' Dunia, Timbunan Sampah Tembus 80 Juta Ton!

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:54 WIB

Mendagri Dorong Penguatan Penggunaan Soft Approach dalam Mencegah Ekstremisme & Terorisme

Mendagri Dorong Penguatan Penggunaan Soft Approach dalam Mencegah Ekstremisme & Terorisme

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:53 WIB

MPR Batalkan Rencana Ulang LCC Empat Pilar Kalbar, Dua Sekolah Juga Sepakat

MPR Batalkan Rencana Ulang LCC Empat Pilar Kalbar, Dua Sekolah Juga Sepakat

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:43 WIB

Kapal Global Sumud Flotilla Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak Tentara Israel!

Kapal Global Sumud Flotilla Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak Tentara Israel!

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:40 WIB

Kecelakaan Maut Kereta Tabrak Bus di Bangkok, Masinis Positif Narkoba

Kecelakaan Maut Kereta Tabrak Bus di Bangkok, Masinis Positif Narkoba

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:28 WIB

Menteri PANRB: Kampus Jadi Kunci Cetak Talenta Digital ASN Masa Depan

Menteri PANRB: Kampus Jadi Kunci Cetak Talenta Digital ASN Masa Depan

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:19 WIB

Rupiah Tembus Rp17.660 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Jangan Takut, Ekonomi Kita Bagus!

Rupiah Tembus Rp17.660 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Jangan Takut, Ekonomi Kita Bagus!

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:12 WIB

Soal 'Orang Desa Tak Pakai Dolar', Purbaya: untuk Menghibur Rakyat, Presiden Mengerti Rupiah

Soal 'Orang Desa Tak Pakai Dolar', Purbaya: untuk Menghibur Rakyat, Presiden Mengerti Rupiah

News | Senin, 18 Mei 2026 | 16:54 WIB

Obrolan Prabowo dan Menkeu Purbaya di Lanud Halim: Dari Dolar sampai Rencana Naik Haji

Obrolan Prabowo dan Menkeu Purbaya di Lanud Halim: Dari Dolar sampai Rencana Naik Haji

News | Senin, 18 Mei 2026 | 16:44 WIB

Hari Ini Rupiah Keok-IHSG Jeblok, Prabowo Panggil Menkeu hingga Gubernur BI ke Istana

Hari Ini Rupiah Keok-IHSG Jeblok, Prabowo Panggil Menkeu hingga Gubernur BI ke Istana

News | Senin, 18 Mei 2026 | 16:43 WIB