Paul Pelosi Diserang: Bukti Kekerasan Ekstremisme yang Mengancam AS

Siswanto | BBC | Suara.com

Minggu, 30 Oktober 2022 | 23:05 WIB
Paul Pelosi Diserang: Bukti Kekerasan Ekstremisme yang Mengancam AS
BBC

Suara.com - Anthony Zurcher, Koresponden Amerika Utara

Serangan kekerasan kepada Paul Pelosi, suami Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi, terjadi nyaris sepekan sebelum pemilu paruh waktu AS. Ini adalah momen ketika tensi politik semakin memanas.

Seakan memperkuat pernyataan ini, beberapa jam setelah serangan terhadap Paul terjadi pada Jumat, pemerintah AS membagikan buletin kepada penegak hukum di seluruh negeri.

Isinya memperingatkan adanya ancaman yang semakin meninggi kekerasan ekstremisme domestik kepada para kandidat dan petugas pemilu oleh individu-individu yang memiliki kedukaan ideologi.

Juga pada Jumat, Kementerian Pertahanan AS mengumumkan seorang pria dari Pennsylvania mengaku bersalah telah mengancam seorang anggota kongres - anggota kongres Demokrat Eric Swalwell dari California, menurut sejumlah laporan - melalui telepon beberapa kali.

Dia mengancam staf kantor Swalwell di Washington, bahwa dia akan mendatangi Gedung Capitol dengan senjata api.

Baca juga:

Berbagai ancaman ini menjadi pertanda bahaya yang menghadang sebelum Partai Demokrat dan Republik bertarung dalam pemilihan umum paruh waktu, yang akan menentukan partai mana yang berkuasa di Kongres tahun depan, sebuah momen penting dalam sejarah AS.

Partai Republik memperingatkan bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk menjegal kepresidenan Joe Biden dari partai Demokrat.

Sementara Partai Demokrat berkata, demokrasi AS menjadi pertaruhan, karena sejumlah kandidat anggota Partai Republik sebelumnya terang-terangan menolak hasil pemilu presiden 2020.

Retorika ini memuncak, setelah setahun terakhir kekerasan - termasuk ancaman kekerasan - terus terjadi.

Apa yang terjadi kepada Paul Pelosi?

Paul Pelosi, 82 tahun, saat ini sedang memulihkan diri dari operasi setelah serangan orang tak dikenal di rumahnya dengan palu.

Ia menderita tulang tengkorak retak dan beberapa luka serius di lengan dan tangan kanan.

Tersangka, seorang pria yang berusia 42 tahun, dikatakan menuntut untuk bertemu Nancy Pelosi setelah menerobos ke rumah mereka di San Fransisco.

Sejauh ini, apa motif pria tersebut belum ditetapkan. Dia telah ditangkap dan didakwa, salah satunya dengan pasal percobaan pembunuhan.

Dalam konferensi pers, Kepala Polisi San Fransico William Scott mengatakan petugas merespon panggilan telepon pada pukul 02.27 waktu setempat pada Jumat dini hari.

Mereka menemukan Paul Pelosi dan penyerangnya - yang disebut polisi bernama David DePape - bergelut memperebutkan sebuah palu. Penyerang merebut palu itu dari Pelosi dan menggunakannya untuk memukul Pelosi.

Penyerang itu segera diringkus oleh polisi. Dia mengaku berniat untuk mengikat Paul sampai Nancy pulang, kata sumber polisi kepada CBS News.

Dia juga dikatakan berulang kali menanyakan di mana Nancy? saat melakukan serangan.

Saat penyerang itu masuk rumahnya, Paul Pelosi berkata ia harus ke kamar mandi, dan melakukan panggilan telepon ke 911 secara sembunyi-sembunyi.

Ini bukan serangan acak, kata Scott. Serangan ini terencana.

BBC menemukan sebuah blog, situs, dan akun media sosial dengan nama DePape penuh dengan unggahan meme anti-Semit, penyangkalan holokos, referensi situs sayap-kanan, dan teori konspirasi seperti QAnon.

Nancy Pelosi, yang pada saat serangan terjadi berada di Washington DC, langsung terbang ke rumah sakit untuk mendampingi sang suami.

Banyaknya ancaman pembunuhan

Di Arizona, dilaporkan sejumlah individu bertopeng yang membawa senjata api menjaga ketat kotak-kotak suara, untuk memonitor kemungkinan kecurangan terjadi.

Mereka juga mengunggah foto-foto orang sedang mencoblos ke media sosial sayap kanan, dan mengajak orang lain untuk bergabung.

Pada Juni, seorang pria ditahan di rumah Hakim Agung Brett Kavanaugh.

Pria itu diketahui datang ke Washington dari California dan menelepon polisi setelah sampai ke ibu kota, mengaku ia memiliki senjata api dan bermaksud membunuh hakim konservatif tersebut.

Di bulan selanjutnya, kandidat Republik untuk menjadi gubernur, Lee Zeldin, diserang di atas panggung saat kampanye.

Anggota kongres Pramila Jayapal, pemimpin liberal di Partai Demokrat, diancam oleh seorang pria dengan pistol di luar kediamannya di Seattle.

Pria tersebut kemudian didakwa atas tuduhan menguntit.

Anggota kongres Republik Marjorie Taylor Greene telah enam kali memanggil polisi ke rumahnya karena ancaman-ancaman melalui telepon, yang belakangan diketahui hoaks.

Praktik ini, yang disebut dengan swatting, biasa dilakukan untuk memprovokasi konfrontasi antara target dengan penegak hukum.

Greene juga sudah beberapa kali menjadi target ancaman pembunuhan.

Kekerasan partisan - dan ancaman-ancaman terkait itu - bukan barang baru dalam politik Amerika.

Kekerasan paling berdarah terjadi lima tahun lalu, ketika seorang pria dengan banyak senjata api menembaki sejumlah politisi Partai Republik yang sedang bermain baseball di taman kota.

Lima orang terluka, salah satunya kritis.

Mengamankan para politisi

Data yang dirilis oleh Kepolisian Capitol AS memperlihatkan bahwa kekerasan seperti ini terus meningkat.

Jumlah ancaman terhadap anggota Kongres terus naik setiap tahun sejak 2017.

Di tiga bulan pertama 2022, polisi telah mencatat terjadinya lebih dari 1.800 insiden.

Merespon hal ini, Kepolisian Capitol mengumumkan pada Juli, mereka akan mengeluarkan dana tambahan sebesar US$10.000 atau Rp155,5 juta untuk memperbarui keamanan di rumah para anggota Kongres.

AS memiliki 435 anggota Kongres. Mereka secara rutin melakukan perjalanan dari dan ke rumah mereka di sekitar Washington, ke ibu kota dan ke wilayah asal mereka.

Dengan pola ini, para pelaku kekerasan bisa saja menemukan cara untuk menyerang politisi yang mereka targetkan - atau keluarganya.

Ketika Paul Pelosi diserang, dia berada ribuan kilometer jauhnya dari Washington, dan tidak ada pengamanan dari polisi yang disediakan untuknya di rumah mereka di San Fransisco.

Dia memang bukan target utama, namun dia turut menjadi korban.

Baca juga:

Sebelum menyerang, tersangka dilaporkan bertanya, Di mana Nancy? - kalimat ini mengingatkan lagi akan serangan di Gedung Capitol pada 6 Januari, ketika seorang pria berteriak di lorong: Di mana kamu, Nancy? Kami mencarimu.

Para politisi dari kedua kubu partai yang terbelah telah menyampaikan rasa prihatin atas serangan terhadap Paul Pelosi dan mengimbau masyarakat untuk mendinginkan tensi. Ini, tentu saja, lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan.

Dengan populasi yang terbelah karena media sosial dan pemberitaan yang memperkuat keyakinan serta ketakutan politik mereka, godaan untuk melakukan kekerasan ekstremisme akan terus ada.

Dan kalau orang-orang ini bertekad untuk menemukan politisi-politisi yang mereka baca dan lihat di televisi - yang disebut sebagai musuh negara dan ancaman terhadap demokrasi - mereka akan dengan mudah menemukan target mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Siapa Saja 9 WNI Global Sumud Flotilla yang Sempat Ditangkap Israel?

Siapa Saja 9 WNI Global Sumud Flotilla yang Sempat Ditangkap Israel?

Lifestyle | Senin, 25 Mei 2026 | 08:25 WIB

Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa

Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa

Entertainment | Senin, 25 Mei 2026 | 08:21 WIB

Tembus 1,14 Ton! Ini Penampakan Sapi 'Kang Jo' Lumajang yang Dibeli Prabowo dari Peternak Gen Z

Tembus 1,14 Ton! Ini Penampakan Sapi 'Kang Jo' Lumajang yang Dibeli Prabowo dari Peternak Gen Z

News | Senin, 25 Mei 2026 | 08:17 WIB

Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok ke Level Terendah Imbas Sinyal Damai AS-Iran

Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok ke Level Terendah Imbas Sinyal Damai AS-Iran

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 08:16 WIB

Pep Guardiola Pamit dari Etihad, Pesan Emosional Agar Standar Juara Manchester City Tak Turun

Pep Guardiola Pamit dari Etihad, Pesan Emosional Agar Standar Juara Manchester City Tak Turun

Bola | Senin, 25 Mei 2026 | 08:06 WIB

Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu

Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu

Bisnis | Senin, 25 Mei 2026 | 08:02 WIB

BYD Bangun Pabrik di Eropa, Fasilitas Produksi VW Ikut Dicaplok

BYD Bangun Pabrik di Eropa, Fasilitas Produksi VW Ikut Dicaplok

Otomotif | Senin, 25 Mei 2026 | 07:59 WIB

Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya

Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya

Lifestyle | Senin, 25 Mei 2026 | 07:58 WIB

Jay Idzes Cedera Lagi Saat Sassuolo Tumbang Lawan Parma, Terancam Absen Bela Timnas Indonesia

Jay Idzes Cedera Lagi Saat Sassuolo Tumbang Lawan Parma, Terancam Absen Bela Timnas Indonesia

Bola | Senin, 25 Mei 2026 | 07:56 WIB

West Ham Turun Kasta setelah 14 Tahun Bertahan di Liga Inggris, Nuno Espirito Santo Minta Maaf

West Ham Turun Kasta setelah 14 Tahun Bertahan di Liga Inggris, Nuno Espirito Santo Minta Maaf

Bola | Senin, 25 Mei 2026 | 07:42 WIB

Terkini

Tembus 1,14 Ton! Ini Penampakan Sapi 'Kang Jo' Lumajang yang Dibeli Prabowo dari Peternak Gen Z

Tembus 1,14 Ton! Ini Penampakan Sapi 'Kang Jo' Lumajang yang Dibeli Prabowo dari Peternak Gen Z

News | Senin, 25 Mei 2026 | 08:17 WIB

Netanyahu Sebut Donald Trump Sepakat Iran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir

Netanyahu Sebut Donald Trump Sepakat Iran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir

News | Senin, 25 Mei 2026 | 07:30 WIB

Buntut Penjemputan Paksa Putri Ahmad Bahar, Komisi III Desak Usut Dugaan Intimidasi di Markas GRIB

Buntut Penjemputan Paksa Putri Ahmad Bahar, Komisi III Desak Usut Dugaan Intimidasi di Markas GRIB

News | Senin, 25 Mei 2026 | 07:26 WIB

Lukman Hakim Singgung Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi': Balas dengan Karya, Bukan Represif

Lukman Hakim Singgung Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi': Balas dengan Karya, Bukan Represif

News | Senin, 25 Mei 2026 | 07:10 WIB

Bongkar Horor Penjara Israel, Maimon Herawati: Relawan Disiksa, Dokter Tewas Diperkosa

Bongkar Horor Penjara Israel, Maimon Herawati: Relawan Disiksa, Dokter Tewas Diperkosa

News | Senin, 25 Mei 2026 | 06:45 WIB

Mendagri Tito: Mayoritas Wilayah Terdampak Banjir di Sumatera Berangsur Normal

Mendagri Tito: Mayoritas Wilayah Terdampak Banjir di Sumatera Berangsur Normal

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 21:56 WIB

Maimon Herawati Ungkap 'Silent Hero' di Balik Bebasnya 428 Relawan Global Sumud Flotilla

Maimon Herawati Ungkap 'Silent Hero' di Balik Bebasnya 428 Relawan Global Sumud Flotilla

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 21:47 WIB

Janji Humanis Cuma Slogan? Aksi Kasar Satpol PP Usir Tukang Es Krim di CFD Jakarta Panen Kecaman

Janji Humanis Cuma Slogan? Aksi Kasar Satpol PP Usir Tukang Es Krim di CFD Jakarta Panen Kecaman

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 21:22 WIB

Sinyal Hijau Membawa Petaka? Menelusuri Penyebab Tabrakan Argo Bromo vs KRL di Bekasi Timur

Sinyal Hijau Membawa Petaka? Menelusuri Penyebab Tabrakan Argo Bromo vs KRL di Bekasi Timur

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 20:42 WIB

Mangkir Dua Kali, Polisi Bakal Jemput Paksa Terduga Pelaku Pemerkosa Siswi SLB Kalideres

Mangkir Dua Kali, Polisi Bakal Jemput Paksa Terduga Pelaku Pemerkosa Siswi SLB Kalideres

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 20:39 WIB