bbc

Memento Park, Rumah bagi Patung-patung Era Komunis Hungaria

Diana Mariska | BBC
Memento Park, Rumah bagi Patung-patung Era Komunis Hungaria
'Kuburan' patung-patung komunis di Budapest. (BBC)

Sejak 1993, Memento Park telah menjadi rumah bagi patung-patung era komunis Hungaria yang telah dijatuhkan dan digulingkan.

Suara.com - Sejak 1993, Memento Park telah menjadi rumah bagi patung-patung era komunis Hungaria yang telah dijatuhkan dan digulingkan, sebuah kuburan bagi para diktator yang memberi pelajaran dan kenangan, tapi bukan untuk diidealkan.

Saya memandang dengan kagum pada sepasang sepatu bot perunggu raksasa yang bertengger di alas batu bata merah di atas platform beton. 

Stalin’s Boots - patung besar yang dibuat sebagai penghargaan untuk diktator Soviet terkenal itu pernah berdiri di pusat Budapest, lalu diruntuhkan dalam kobar kemarahan pada 1956, tiga tahun setelah kematian Stalin – adalah warisan Ozymandian dari rezim komunis yang mencengkeram Hungaria selama beberapa dekade.

Terletak di luar bekas arena olahraga di pinggir Kota Budapest, Stalin’s Boots berdiri tegak di lokasi yang tampaknya aneh - tetapi ini adalah pintu masuk ke tempat wisata yang cukup menarik. 

Baca Juga: Kisah Timnas Indonesia Dibantai Hungaria di Piala Dunia 1938, Diremehkan hingga Disebut Kurcaci

Digambarkan sebagai "museum tematik pertama di Eropa Tengah yang mengingatkan orang akan kediktatoran dan kejatuhannya", Memento Park adalah kuburan bagi patung-patung komunis yang diruntuhkan selama transisi negara tersebut menuju demokrasi.

Di dalam museum terbuka yang unik ini, monumen raksasa tentara Tentara Merah berdiri di samping patung Lenin, sementara relief heroik para pekerja Hungaria mengambil tempat di dekat patung mantan pemimpin-pemimpin komunis. 

Di masa ketika patung-patung di banyak negara digulingkan karena tujuan dan maknanya, situs di Budapest ini menawarkan model potensial untuk membahas monumen bersejarah, dan tak sekadar menggulingkannya.

Pada 1989, Republik Rakyat Hungaria dibubarkan secara damai demi menuju demokrasi dan, setelah 50 tahun pemerintahan komunis, patung-patung yang memperingati para pemimpin dan ideologi komunis mulai dijatuhkan. 

Di Budapest, perdebatan sengit mengemuka tentang apakah patung-patung yang digulingkan itu harus dihancurkan dan dilupakan, atau dilestarikan sebagai peringatan akan bahaya kediktatoran. 

Baca Juga: Pesan Indra Sjafri Saat Lepas Pemain Muda Persib Bandung dan Kapten Timnas U-16 ke Hungaria

Pemerintah baru Hungaria memutuskan untuk memindahkan patung-patung itu ke arena olahraga tua di pinggiran Budapest, di mana mereka menugaskan arsitek Ákos Eled untuk membuat museum terbuka, yang dibuka pada 1993.

"Taman ini tentang kediktatoran," kata Eled seperti dikutip di situs Memento Park

"Dan pada saat yang sama, saat kita dapat menjelaskannya, membicarakannya, dan membangunnya, taman ini adalah tentang demokrasi."

Saya membaca tentang sejarah Memento Park saat saya naik trem nomor 49 dari Deák Ferenc Square ke Stasiun Kelenföld, di mana saya lalu bepergian dengan bus ke pinggiran barat Budapest. 

Tujuan museum ini tampaknya untuk pendidikan, tetapi kesan pertama saya ketika tiba di luar pintu masuk yang terbuat dari batu bata merah yang mewah adalah Memento Park lebih mirip Disneyland bagi para penyuka nostalgia Soviet.

Patung Lenin yang monumental menatap saya dari sebuah gapura, sementara lukisan artistik Karl Marx dan Friedrich Engels (dua filsuf yang mengembangkan Marxisme) menatap kosong ke arah patung sepatu bot Stalin yang sangat besar. 

Musik dari era komunis Hungaria diputar dari jukebox tua di dekat loket tiket; sebuah Trabant yang dipoles (kendaraan Jerman Timur yang ringkas dan populer yang dikenal sebagai "mobil rakyat") dikelilingi oleh turis yang mengambil swafoto dengan ceria; sementara cangkir kopi dan poster dengan gambar Lenin dijual di toko suvenir.

Tapi Judit Holp, yang telah bekerja sebagai pemandu wisata di Memento Park selama lebih dari satu dekade, dengan cepat menghilangkan rasa idealisasi komunis ketika dia memulai tur.

“Kita berdiri di Witness Square," kata Holp, setelah rombongan tur kami berkumpul di bawah bayangan patung Lenin. 

"Alun-alun di luar Taman Memento ini mewakili setiap orang yang pernah hidup di bawah kediktatoran, baik dari politik sayap kiri atau politik sayap kanan. Mereka berbagi keheningan di Witness Square ini, karena kiri dan kanan selalu bertemu di ekstrem yang sama."

Holp menjelaskan bagaimana Stalin’s Boots yang diletakkan di atas platform beton raksasa di ujung jauh Witness Square berfungsi sebagai peringatan. 

Patung aslinya diruntuhkan selama revolusi anti-komunis pada 1956, lalu dengan cepat dihancurkan ketika Uni Soviet mengirim tank ke Hungaria, membunuh atau memenjarakan ribuan orang, dan mengirim ratusan ribu orang ke pengasingan.

Eled dengan cermat merancang tata letak Memento Park untuk mewakili nada gelap kediktatoran, dan saya menyadari bahwa nuansanya jauh lebih dalam daripada kesan pertama saya.

Di dalam taman, sebuah jalan setapak panjang di tengah-tengah mengarah ke ujung jauh taman. 

Sebuah bintang merah besar ditempatkan di tengah jalan itu, lalu jalanan pecah menjadi tiga jalur kecil yang dihiasi dengan patung-patung yang mengarah keluar. 

Holp menggambarkan jalur yang lebih kecil ini sebagai "parade tanpa akhir" karena arsitek merancangnya sebagai "putaran tak berujung” yang selalu mengembalikan Anda ke jalur pusat yang sama. 

Satu-satunya jalan untuk dilalui, seperti halnya komunisme, adalah menyesuaikan diri dan mengikuti jalan yang sama seperti orang lain.

Ke-41 patung di Memento Park dimaksudkan untuk memikirkan ulang masa lalu kediktatoran Hungaria. 

Holp mendemonstrasikan ini ketika dia menghentikan kelompok kami di Monumen Persahabatan Hongaria-Soviet, yang dibuat pada 1956, tepat sebelum Revolusi Hongaria. 

Tugu peringatan itu menggambarkan seorang pekerja Hungaria berjabat tangan dengan seorang tentara Soviet, tampaknya sebagai tanda persahabatan. 

Tapi tak seperti yang terlihat, pekerja Hongaria itu mengulurkan dua tangan sebagai simbol persahabatan, sementara tentara Soviet hanya mengulurkan satu tangan, dan satu tangan lainnya terkepal di sisinya.

"Sekarang, pada tahun 2022," kata Holp, “Kita memiliki lebih banyak waktu untuk memahami makna patung-patung itu, dan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh para seniman tentang hubungan yang tidak seimbang antara Soviet dan Hungaria."

Bagian terakhir taman, di mana patung-patung kolosal yang dirancang dengan gaya komunis Realisme Sosial mendominasi melalui ukuran dan perawakan yang tinggi, mengarah ke dinding bata merah tinggi yang melambangkan jalan buntu kediktatoran. 

"Ini adalah penawar untuk semua pikiran buruk yang tumbuh bersama orang Hungaria," kata Holp, ketika saya bertanya bagaimana Memento Park memengaruhi hubungan pengunjung dengan masa lalu komunis mereka. 

"Bukan hanya orang-orang Hungaria, tetapi orang-orang Ceko, bekas Yugoslavia, dan Jerman Timur juga datang ke sini, bergabung dalam tur dan berkata, 'Wah, setiap negara membutuhkan tempat seperti ini di mana Anda bisa datang dengan memikirkan semua masalah ini, dan pulang dengan pikiran lebih jernih'."

Memento Park dimaksudkan sebagai museum apolitis di mana masa lalu dapat dilihat dan didiskusikan secara terbuka, namun mau tidak mau, selalu ada kritik. 

Di hari yang sama, saya bertemu dengan Agnes Molnar, seorang pemandu wisata Hungaria yang memimpin tur komunis di Budapest. 

Tugasnya adalah menunjukkan kepada para pelancong seperti apa kehidupan di balik Tirai Besi.

"Memento Park dulu sangat kontroversial," kata Molnar, yang dibesarkan di Hungaria di bawah kediktatoran komunis, ketika kami bertemu di luar Stasiun Kelenföld dalam perjalanan kembali ke kota. 

"Banyak orang berkata, 'Mengapa kita membutuhkan taman ini?'."

Dia menjelaskan, banyak orang Hungaria lebih suka melupakan era komunis, khususnya pada pembalasan setelah Revolusi Hungaria

Namun sekarang, waktu telah membuat orang lebih mudah untuk melupakannya. Molnar mengatakan, banyak orang Hungaria yang acuh tak acuh terhadap masa lalu mereka. 

"Orang Hungaria tidak lagi sering mengunjungi Memento Park," katanya blak-blakan, sebelum menyarankan agar taman itu lebih menjadi daya tarik wisata daripada daya tarik lokal.

Tapi tetap saja, Molnar meyakini bahwa situs tersebut menawarkan kisah peringatan. 

"Jika politisi ingin membangun patung raksasa diri mereka sendiri, mereka harus berpikir dua kali," katanya. "Jika ada yang ingin membuat patung besar seperti Stalin, kita harus takut. Memento Park adalah peringatan dari sejarah."

Museum Nasional Hungaria Budapest juga memiliki pameran permanen karya seni dari periode komunisme, termasuk sisa-sisa patung Stalin yang dirobohkan selama Revolusi Hungaria. 

Wakil Direktur Jenderal Gábor Tomka memberi tahu saya melalui email bahwa karya seni komunis ini hanya dipajang di museum dalam "konteks sejarah yang sesuai".

"Saya pribadi merasa baik untuk melestarikan beberapa karya seni," kata Tomka tentang Memento Park. 

"Tentu saja, mereka harus direnggut dari konteks propagandis aslinya. Namun mereka adalah saksi dari masa lalu,” tambahnya.

Selama perjalanan saya ke Memento Park, mau tidak mau saya melihat ada persamaan dengan perdebatan baru-baru ini mengenai perlakuan masyarakat terhadap patung di tempat lain, termasuk di Inggris Raya, negara asal saya. 

Saya tinggal di Bristol ketika patung Edward Colston (seorang pedagang budak yang menyumbangkan sejumlah besar uang ke kota itu pada abad ke-18), diruntuhkan pada tahun 2020, memicu perdebatan di seluruh negeri tentang tujuan dan perlakuan kita terhadap monumen bersejarah.

Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara Baltik (yang sebelumnya merupakan bagian dari Uni Soviet) telah merobohkan patung-patung era Soviet setelah invasi Rusia ke Ukraina, dan memperdebatkan apa yang harus dilakukan dengan monumen-monumen ini. 

Finlandia juga baru-baru ini mengikuti dan menghapus monumen terakhir pemberian Soviet pada Agustus; sementara di seluruh AS, patung pemimpin Konfederasi telah diruntuhkan atau diganti namanya.

Sebagai museum pendidikan, mungkin Memento Park akan menginspirasi negara lain yang saat ini tengah berurusan dengan pro dan kontra tentang patung-patung tokoh sejarah kontroversial. 

"Anda bisa mengumpulkan semua patung dari era perbudakan di Inggris Raya," saran Holp kepada saya. 

"Tempatkan mereka di sebuah taman di London dan beri nama taman itu, misalnya, 'taman patung yang tidak diinginkan'. Atau apa saja yang Anda mau, asal jangan hilangkan patung-patung ini untuk selamanya."