Penuh Drama! Sejarah Terpilihnya Megawati Jadi Ketum PDI Pertama Kali

Wakos Reza Gautama

Minggu, 01 September 2024 | 09:40 WIB
Penuh Drama! Sejarah Terpilihnya Megawati Jadi Ketum PDI Pertama Kali
Ilustrasi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Sejarah terpilihnya Megawati jadi Ketum PDI pertama kali. [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Sudah 30 tahun lebih Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sosok Mega yang kharismatik membuatnya tak tergantikan di partai berlambang banteng ini.

Megawati pertama kali duduk di kursi Ketum PDIP di tahun 1993 saat Musyawarah Nasional (Munas) yang digelar 22-23 Desember di Hotel Garden, Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu PDIP masih bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Bukan perkara mudah bagi Megawati untuk menjadi orang nomor 1 di PDI sebab pemerintah saat itu tidak menyukai sosoknya yang merupakan anak Proklamator Bung Karno.

Megawati pertama kali bergabung menjadi kader PDI di tahun 1987 setelah dibujuk sang suami, Taufiq Kiemas. Sebenarnya keluarga besar Bung Karno telah bersepakat tidak mau terlibat dalam politik praktis karena trauma masa lalu khususnya pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Namun rezim Suharto yang otoriter menggerakkan kembali hati keluarga besar Presiden ke-1 RI Sukarno untuk berjuang di ranah politik. Diawali Taufiq Kiemas yang masuk PDI tahun 1982, baru kemudian disusul Megawati pada 1987 dan Guruh Soekarnoputra.

Di tahun 1993, terjadi konflik internal di tubuh PDI. Konflik ini mengakibatkan Kongres IV PDI di Medan, Sumatera Utara, pada Juli 1993, menemui jalan buntu. 

Kuatnya intervensi pemerintah membuat PDI gagal memilih ketua umumnya. Di tengah konflik internal itu, muncullah nama Megawati Soekarnoputri sebagai calon ketua umum PDI selanjutnya.

KLB Ricuh 

Sebagai anak Proklamator Sukarno, kehadiran Megawati diharapkan bisa meredakan konflik internal partai. Pada 2-6 Desember 1993, digelar Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.

baca juga

Megawati menjadi calon kuat Ketum PDI. Munculnya nama Mega membuat pemerintah gerah. DIbuatlah upaya menjegal Megawati agar tidak bisa hadir di KLB. 

Menurut Panda Nababan dalam buku otobiografinya "Dalam Pusaran Kekuasaan", kaki tangan pemerintah di internal PDI berhasil menghalangi Megawati untuk menjadi utusan DPC PDI Jakarta Pusat di KLB. Padahal Mega saat itu adalah Ketua DPC-nya. 

Tak habis akal. Kubu Mega mlalu mengurus perpindahan Mega ke Jakarta Selatan agar bisa menjadi anggota DPC PDI Jakarta Selatan. Setelah itu DPC PDI Jakarta Selatan melakukan konferensi cabang khusus untuk menentukan wakil-wakilnya di KLB Surabaya. 

Lewat lobi politik, Mega ditunjuk sebagai salah satu wakil DPC PDI Jakarta Selatan di KLB bersama Ketua PDI Jakarta Selatan ex officio Ratih Ratna Poernami. Saat KLB berlangsung, Mega dilarang masuk ke arena kongres. 

Sempat terjadi perdebatan panas antara tim Mega dengan pengurus caretaker PDI. Bahkan kata Panda Nababan, dirinya dan Taufiq Kiemas hampir terlibat adu jotos dengan para pengurus caretaker. Akhirnya Mega diperkenankan ikut KLB. 

Panda mengatakan, sejak sidang hari pertama pada 2 Desember 1993, KLB sudah diwarnai ketegangan akibat adanya campur tangan pihak pemerintah yang berupaya menggagalkan Mega. Mega sendiri hampir kena lempar asbak di arena kongres.

"Suasana di kongres semakin panas. Kursi dan asbak sudah terbang dilempar peserta kongres. Megawati sudah diamankan di bawah meja. Lampu dimatikan. Kepanikan melanda," ujar Panda menggambarkan situasi KLB PDI saat itu. 

Chaos nya suasana kongres sampai ke telinga Puan Maharani, anak Megawati. Puan yang saat itu masih kuliah di Universitas Indonesia, sengaja datang ke Surabaya untuk mengecek kondisi orang tuanya.

"Baru tiba di teras posko, Puan sudah menangis meraung-raung yang langsung dirangkul Taufiq Kiemas dan mendudukkan Puan di pangkuannya," kisah Panda Nababan. 

Presiden Suharto menerbitkan larangan mendukung pencalonan Megawati sebagai Ketua Umum PDI. Pemerintah meminta PDI mendukung Budi Harjono sebagai Ketua Umum.

Larangan ini tidak digubris kader PDI. Mereka mendukung penuh Mega sebagai Ketua Umum. Dalam pemandangan umum, 256 cabang dari 305 cabang PDI di seluruh Indonesia mendukung Mega.

Melihat kuatnya dukungan arus bawah terhadap Mega, membuat Pemerintah khawatir. Suharto menganggap Megawati bisa menjadi ancaman terhadap kekuasaannya.

Atas intervensi pemerintah, kongres luar biasa berakhir dead lock. KLB gagal mengukuhkan Megawati sebagai Ketua Umum PDI. Biar begitu, secara de facto, Megawati adalah Ketua Umum PDI.

Megawati Terpilih Jadi Ketum

Sebagai lanjutan dari KLB Surabaya, digelar Musyarawah Nasional PDI di Jakarta pada 22-23 Desember1993. Pemerintah lewat militer kembali berupaya menggagalkan langkah Megawati dipilih menjadi Ketum PDI.

Namun Direktur A Badan Intelijen Strategis (Bais) Brigjen Agum Gumelar yang ditugaskan menggagalkan Munas PDI tidak menjalankan perintah atasannya. 

Agum membiarkan Munas PDI berjalan lancar tanpa intervensi siapapun dari pihak pemerintah. Ini terlihat ketika ada rekan Agum dari Departemen Dalam Negeri dan Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) mau mengacaukan Munas.

“Eit, no, no, no biarkan mereka berpesta demokrasi,” kata Agum kepada dua rekannya itu.

Alhasil munas berjalan mulus dan Megawati diangkat menjadi Ketua Umum PDI yang sah. Agum punya alasan mengapa waktu itu ia tidak menganggu Munas PDI.

“Saya hanya berusaha menegakkan demokrasi yang digembar-gemborkan waktu itu. Tapi sesungguhnya kita terpasung,” ujar Agum dikutip dari buku Agum Gumelar Jenderal Bersenjata Nurani.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Diragukan Lawan Ridwan Kamil, Mampukah Pramono Anung Menangkan Hati Warga Jakarta?

Diragukan Lawan Ridwan Kamil, Mampukah Pramono Anung Menangkan Hati Warga Jakarta?

News | Sabtu, 31 Agustus 2024 | 21:38 WIB

Sejarah Kaskus, Trending Topic Usai Netizen Ungkap Isi Akun Diduga Milik Gibran

Sejarah Kaskus, Trending Topic Usai Netizen Ungkap Isi Akun Diduga Milik Gibran

Entertainment | Sabtu, 31 Agustus 2024 | 20:38 WIB

Apa Agama Ronal Surapradja, Presenter yang Diutus PDIP Bertarung di Pilgub Jabar?

Apa Agama Ronal Surapradja, Presenter yang Diutus PDIP Bertarung di Pilgub Jabar?

News | Sabtu, 31 Agustus 2024 | 17:11 WIB

Profil Ronal Surapradja: Dari Panggung Hiburan ke Panggung Politik Begini Perjalanan Kariernya

Profil Ronal Surapradja: Dari Panggung Hiburan ke Panggung Politik Begini Perjalanan Kariernya

News | Sabtu, 31 Agustus 2024 | 16:19 WIB

Ditunjuk Megawati Jadi Gubernur DKI Jakarta, Respons Istri Pramono Anung: Ngapain?

Ditunjuk Megawati Jadi Gubernur DKI Jakarta, Respons Istri Pramono Anung: Ngapain?

News | Jum'at, 30 Agustus 2024 | 20:55 WIB

Terkini

Soroti Tata Kelola Negara, Emak-Emak di Yogyakarta: Remuk!

Soroti Tata Kelola Negara, Emak-Emak di Yogyakarta: Remuk!

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:10 WIB

Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!

Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:55 WIB

Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog

Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:55 WIB

Bingung Cari Kerja? Job Fair Virtual Bekasi Tawarkan 1.313 Lowongan dari 45 Perusahaan

Bingung Cari Kerja? Job Fair Virtual Bekasi Tawarkan 1.313 Lowongan dari 45 Perusahaan

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:54 WIB

Polresta Bogor Minta Maaf soal Intimidasi Jurnalis, Anggota Polisi Dijatuhi Sanksi

Polresta Bogor Minta Maaf soal Intimidasi Jurnalis, Anggota Polisi Dijatuhi Sanksi

Bekaci | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:37 WIB

Sulap Pohon Tua Berbuah dalam 2 Tahun, Klon Kopi Racikan Petani Lampung Resmi Diadopsi Pemerintah

Sulap Pohon Tua Berbuah dalam 2 Tahun, Klon Kopi Racikan Petani Lampung Resmi Diadopsi Pemerintah

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:32 WIB

Shio Monyet Tanah Tahun Berapa? Ini Karakteristik, Peruntungan, dan Kecocokannya

Shio Monyet Tanah Tahun Berapa? Ini Karakteristik, Peruntungan, dan Kecocokannya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:24 WIB

Sandera Bus Sendiri, Lepas Bus Lawan: Malam Horor Persebaya Diadili Bonek di GBT

Sandera Bus Sendiri, Lepas Bus Lawan: Malam Horor Persebaya Diadili Bonek di GBT

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:23 WIB

Wisatawan Cerdas Wajib Tahu: 4 Alasan Hotel Jaringan Global Lebih Menguntungkan

Wisatawan Cerdas Wajib Tahu: 4 Alasan Hotel Jaringan Global Lebih Menguntungkan

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:15 WIB

Warisan Resep Dapur Ibu

Warisan Resep Dapur Ibu

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:15 WIB

×