Dilarang Sekolah, Bocah Perempuan Afghanistan Dipaksa Jadi Penenun Karpet

Denada S Putri

Kamis, 17 April 2025 | 19:10 WIB
Dilarang Sekolah, Bocah Perempuan Afghanistan Dipaksa Jadi Penenun Karpet
Ilustrasi penenun karpet. [Ist]
Ilustrasi kelompok Taliban. [Ist]
Ilustrasi kelompok Taliban. [Ist]

Taliban: Dari Madrasah ke Istana Kekuasaan Afghanistan

Taliban telah berulang kali mengatakan bahwa anak perempuan akan diizinkan kembali ke sekolah, tetapi sejauh ini, belum ada langkah konkret yang diambil untuk mewujudkannya.

Taliban, yang secara harfiah berarti "para pelajar" dalam bahasa Pashto, adalah sebuah gerakan politik-agama Islam Sunni garis keras yang muncul di Afghanistan pada awal tahun 1990-an setelah penarikan pasukan Soviet dan runtuhnya pemerintahan komunis yang didukung Soviet.

Kelompok ini dengan cepat menjadi kekuatan dominan di Afghanistan dan memerintah negara tersebut dari tahun 1996 hingga 2001.

Setelah invasi pimpinan AS pada tahun 2001, Taliban melakukan pemberontakan selama dua dekade sebelum kembali merebut kekuasaan pada tahun 2021.

Asal Usul dan Pembentukan

Taliban muncul dari kekacauan dan perang saudara yang melanda Afghanistan setelah jatuhnya rezim komunis.

Banyak anggota awal Taliban adalah mantan pejuang Mujahidin yang didukung oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya untuk melawan Uni Soviet pada tahun 1980-an.

Namun, setelah Soviet menarik diri, berbagai faksi Mujahidin saling bertikai memperebutkan kekuasaan.

Taliban, yang sebagian besar terdiri dari siswa sekolah agama (madrasah) yang dididik di Pakistan, menjanjikan untuk memulihkan ketertiban, keamanan, dan menegakkan hukum Islam yang ketat.

Mereka dengan cepat mendapatkan dukungan dari populasi yang lelah dengan perang dan korupsi. Mullah Mohammed Omar, seorang ulama yang karismatik, menjadi pemimpin spiritual dan politik pertama Taliban.

Ideologi dan Tujuan

Ideologi Taliban didasarkan pada interpretasi hukum Islam (Syariah) yang sangat konservatif dan puritan. Tujuan utama mereka adalah mendirikan sebuah emirat Islam di Afghanistan yang diperintah sesuai dengan keyakinan mereka. Beberapa ciri utama ideologi Taliban meliputi:

  1. Penegakan Hukum Syariah yang Ketat: Taliban memberlakukan interpretasi hukum Islam yang keras dalam semua aspek kehidupan, termasuk hukum pidana, keluarga, sosial, dan ekonomi.
  2. Penolakan Pengaruh Barat: Taliban sangat menentang pengaruh budaya, politik, dan ekonomi Barat, dan berusaha untuk memurnikan masyarakat Afghanistan dari unsur-unsur tersebut.
  3. Nasionalisme Pashtun: Meskipun mengklaim sebagai gerakan Islam transnasional, Taliban memiliki basis dukungan yang kuat di kalangan etnis Pashtun di Afghanistan dan Pakistan.
  4. Pemerintahan Terpusat: Taliban percaya pada sistem pemerintahan Islam yang terpusat di bawah seorang pemimpin tertinggi (Amir al-Mu'minin).

Masa Kekuasaan Pertama (1996-2001)

Selama masa kekuasaan pertama mereka, Taliban berhasil membawa stabilitas relatif ke sebagian besar wilayah Afghanistan setelah bertahun-tahun perang saudara.

Namun, pemerintahan mereka juga ditandai dengan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas, termasuk:

Diskriminasi dan Penindasan terhadap Perempuan: Perempuan dilarang bekerja, bersekolah, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik.

Mereka diwajibkan mengenakan burqa di depan umum dan tunduk pada aturan berpakaian yang ketat.

  1. Hukuman yang Brutal: Taliban menerapkan hukuman fisik yang keras berdasarkan interpretasi Syariah mereka, termasuk hukuman cambuk, rajam, dan amputasi.
  2. Pembatasan Kebebasan Sipil: Kebebasan berekspresi, pers, dan berkumpul sangat dibatasi. Musik, televisi, dan banyak bentuk hiburan lainnya dilarang.
  3. Penghancuran Warisan Budaya: Pada tahun 2001, Taliban menghancurkan Patung Buddha Bamiyan yang berusia berabad-abad, tindakan yang dikecam secara internasional.
  4. Perlindungan terhadap Osama bin Laden dan Al-Qaeda: Taliban memberikan tempat berlindung kepada Osama bin Laden dan organisasi teroris Al-Qaeda, yang bertanggung jawab atas serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Pemberontakan dan Kebangkitan Kembali (2001-2021)

Setelah serangan 11 September, Amerika Serikat dan sekutunya melancarkan invasi ke Afghanistan untuk menggulingkan Taliban dan menghancurkan Al-Qaeda.

Taliban dengan cepat kehilangan kekuasaan, tetapi mereka kemudian melancarkan pemberontakan berdarah melawan pasukan koalisi dan pemerintah Afghanistan yang didukung Barat.

Selama dua dekade pemberontakan, Taliban berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah pedesaan yang signifikan dan melakukan serangan-serangan mematikan di seluruh negeri. Faktor-faktor yang berkontribusi pada ketahanan

Taliban meliputi

  • Dukungan dari Elemen Konservatif: Mereka mempertahankan dukungan dari sebagian populasi Afghanistan yang konservatif dan menentang kehadiran asing.
  • Tempat Aman di Pakistan: Wilayah perbatasan Pakistan memberikan tempat perlindungan yang aman bagi para pemimpin dan pejuang Taliban.
  • Kelemahan Pemerintah Afghanistan: Pemerintah Afghanistan yang didukung Barat seringkali dilanda korupsi, inefisiensi, dan kurangnya legitimasi di mata sebagian masyarakat.
  • Penarikan Pasukan AS: Keputusan Amerika Serikat untuk menarik pasukannya dari Afghanistan secara bertahap melemahkan pemerintah Afghanistan dan memberikan momentum kepada Taliban.

Kembali Berkuasa (2021)

Pada 2021 lalu, seiring dengan penarikan pasukan AS yang hampir selesai, Taliban melancarkan ofensif kilat yang berhasil merebut sebagian besar wilayah Afghanistan dalam waktu singkat.

Pada tanggal 15 Agustus 2021, Taliban memasuki Kabul dan mengambil alih kekuasaan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu.

Pemerintahan Taliban Saat Ini

Setelah kembali berkuasa, Taliban membentuk pemerintahan sementara dan berjanji untuk memerintah secara lebih inklusif dan menghormati hak asasi manusia, terutama hak-hak perempuan.

Namun, kenyataannya menunjukkan pembatasan yang signifikan terhadap kebebasan dan hak-hak perempuan, termasuk larangan pendidikan tinggi bagi perempuan, pembatasan pekerjaan, dan aturan berpakaian yang ketat.

Pemerintahan Taliban juga menghadapi tantangan ekonomi yang besar, isolasi internasional, dan ancaman dari kelompok militan lain, seperti ISIS-Khorasan.

Meskipun mengklaim mengendalikan seluruh wilayah Afghanistan, Taliban masih menghadapi perlawanan sporadis.

Kontributor : Maliana

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gus Ipul Tegaskan Murid Sekolah Rakyat Tak Boleh Kerja Sampingan: Kebutuhan Ditanggung Negara

Gus Ipul Tegaskan Murid Sekolah Rakyat Tak Boleh Kerja Sampingan: Kebutuhan Ditanggung Negara

News | Kamis, 17 April 2025 | 16:01 WIB

Pemerintah Lebih Pilih Guru ASN dan PPPK untuk Sekolah Rakyat, Ini Kata Mensos

Pemerintah Lebih Pilih Guru ASN dan PPPK untuk Sekolah Rakyat, Ini Kata Mensos

News | Kamis, 17 April 2025 | 12:41 WIB

Review Novel 'Jane Eyre': Ketika Perempuan Bicara soal Harga Diri

Review Novel 'Jane Eyre': Ketika Perempuan Bicara soal Harga Diri

Your Say | Kamis, 17 April 2025 | 11:23 WIB

Terkini

Pengesahan Revisi UU Polri Dikritik, Dinilai Terlalu Terburu-Buru dan Tidak Transparan

Pengesahan Revisi UU Polri Dikritik, Dinilai Terlalu Terburu-Buru dan Tidak Transparan

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:01 WIB

Hari Ini, Empat Prajurit TNI Jalani Sidang Putusan Kasus Penyiraman Andrie Yunus

Hari Ini, Empat Prajurit TNI Jalani Sidang Putusan Kasus Penyiraman Andrie Yunus

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:28 WIB

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 22:10 WIB

Kejar Quick Wins! Prabowo Boyong Menkes ke Lampung Besok demi Resmikan RSUD Baru

Kejar Quick Wins! Prabowo Boyong Menkes ke Lampung Besok demi Resmikan RSUD Baru

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:50 WIB

Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan

Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:31 WIB

Polisi Sita Dokumen dari Lantai 12 WIKA Tower, Buntut Kasus Korupsi Pabrik Gula

Polisi Sita Dokumen dari Lantai 12 WIKA Tower, Buntut Kasus Korupsi Pabrik Gula

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:27 WIB

DKI-Depok Kompak, Jalan Berlubang di Bawah Flyover UI Akhirnya Rata Aspal

DKI-Depok Kompak, Jalan Berlubang di Bawah Flyover UI Akhirnya Rata Aspal

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:20 WIB

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:17 WIB

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:14 WIB

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:02 WIB