Menyelamatkan Pisang dari Ancaman Krisis Iklim: Apa yang Bisa Dilakukan?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 14 Mei 2025 | 16:03 WIB
Menyelamatkan Pisang dari Ancaman Krisis Iklim: Apa yang Bisa Dilakukan?
Ilustrasi produk hortikultura pisang. Pemprov Lampung saat ini sedang mengembangkan kampung hortikultura. [ANTARA]

Suara.com - Pisang, salah satu buah yang paling banyak dikonsumsi di dunia, kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Laporan terbaru dari lembaga amal pembangunan internasional Christian Aid mengungkapkan bahwa daerah penghasil pisang utama di Amerika Latin dan Karibia, yang saat ini menyuplai sekitar 80 persen ekspor pisang global, berisiko hilang pada tahun 2080.

Peningkatan suhu dan cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang mengancam ketahanan sektor ini.

Pisang memiliki peran penting bagi lebih dari 400 juta orang di dunia, yang bergantung pada tanaman ini untuk memenuhi sekitar 15 hingga 27 persen kebutuhan kalori harian mereka.

Pisang bahkan menjadi tanaman pangan terpenting keempat setelah gandum, beras, dan jagung. Namun, para petani pisang kini berjuang menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah cuaca yang semakin tidak menentu.

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Petani Pisang

 Perempuan Menanggung Beban Terbesar dari Krisis Iklim di Asia. (Dok. Istimewa)
Perempuan Menanggung Beban Terbesar dari Krisis Iklim di Asia. (Dok. Istimewa)

Dikutip dari Euronews, Aurelia Pop Xo, seorang petani pisang berusia 53 tahun di Guatemala, menceritakan bagaimana krisis iklim telah merusak perkebunannya.

“Perkebunan saya mati. Tidak ada pemasukan karena saya tidak bisa menjual apa pun,” ujarnya.

Bagi petani seperti Aurelia, perubahan suhu ekstrem menjadi ancaman utama. Pisang membutuhkan suhu antara 15 hingga 35°C untuk tumbuh dengan baik, dan sangat sensitif terhadap kekurangan air.

Suhu yang semakin panas dan tidak menentu menjadi salah satu faktor yang merusak pohon pisang. Dalam beberapa tahun terakhir, suhu panas yang ekstrem telah melanda daerah perkebunan pisang, menyebabkan tanaman merunduk dan mati.

baca juga

Perubahan iklim juga meningkatkan frekuensi badai yang merusak daun pisang, menyulitkan tanaman untuk berfotosintesis. Selain itu, infeksi jamur, seperti Fusarium Tropical Race 4, yang menyerang akar tanaman, semakin menyebar akibat suhu yang semakin tinggi.

Penyakit ini dapat menghancurkan seluruh perkebunan pisang.

“Penyakit ini sudah ditemukan di negara-negara pemasok utama supermarket Eropa, seperti Kolombia dan Peru,” ujar Holly Woodward-Davey, koordinator proyek di Banana Link.

Bagi petani, ancaman ini bisa mengakibatkan kehilangan seluruh hasil panen, dan dalam jangka panjang, kehancuran sektor pertanian pisang.

Pisang Cavendish di Ambang Kehancuran

Varietas pisang yang paling dikenal di dunia, pisang Cavendish, kini menghadapi risiko yang lebih besar. Pisang Cavendish, yang didominasi oleh satu varietas genetik, sangat rentan terhadap penyakit. Penyakit Panama TR4, yang menyerang akar tanaman, telah menyebar ke banyak negara penghasil pisang utama, termasuk Kolombia dan Peru.

Meskipun awalnya Cavendish dianggap lebih tahan terhadap penyakit Panama dibandingkan dengan varietas sebelumnya, wabah terbaru menunjukkan bahwa ia tidak kebal terhadap penyakit tersebut.

Para ahli memperingatkan bahwa keragaman genetik yang rendah pada tanaman Cavendish membuatnya semakin rentan terhadap penyakit dan perubahan iklim.

"Krisis iklim memperburuk penyebaran penyakit ini, dan kita sangat perlu bergerak melampaui Cavendish untuk menemukan varietas pisang yang lebih tahan terhadap kondisi iklim yang ekstrem," kata Sally Musungu, seorang peneliti lingkungan di Schlumberger Foundation.

Untuk mengatasi krisis ini, Christian Aid menyerukan tindakan segera dari negara-negara kaya yang menjadi kontributor utama emisi karbon global. Perubahan iklim yang disebabkan oleh gas rumah kaca telah memperburuk kondisi pertanian pisang, dan tindakan untuk mengurangi emisi sangat penting untuk melindungi sektor ini.

Direktur kebijakan dan kampanye di Christian Aid, Osai Ojigho, menekankan bahwa negara-negara kaya harus mempercepat transisi dari bahan bakar fosil ke energi bersih, serta memastikan pendanaan iklim yang memadai untuk negara-negara berkembang yang terancam perubahan iklim.

Selain itu, petani pisang juga membutuhkan dukungan dalam bentuk pendanaan iklim untuk beradaptasi dengan perubahan yang sudah terjadi.

"Kami mendesak negara-negara untuk memberikan bantuan yang lebih besar kepada petani pisang dan komunitas pertanian, agar mereka dapat bertahan di tengah perubahan iklim yang terus meningkat," kata Pierides, manajer sumber berkelanjutan senior Yayasan Fairtrade untuk pisang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

RI Bakal Punya Beton Hijau Tahan Ekstrem untuk Infrastruktur Pesisir

RI Bakal Punya Beton Hijau Tahan Ekstrem untuk Infrastruktur Pesisir

Bisnis | Jum'at, 09 Mei 2025 | 10:30 WIB

Antara PLTU dan Janji Hijau: Dilema Transisi Energi di Tengah Krisis Iklim

Antara PLTU dan Janji Hijau: Dilema Transisi Energi di Tengah Krisis Iklim

Your Say | Senin, 05 Mei 2025 | 13:22 WIB

Proyek Infrastruktur Gas Raksasa RI Bisa Jadi 'Senjata Makan Tuan'

Proyek Infrastruktur Gas Raksasa RI Bisa Jadi 'Senjata Makan Tuan'

Bisnis | Rabu, 30 April 2025 | 16:06 WIB

Terkini

Anggota TNI Terlibat Peredaran Narkoba, Ditangkap Bawa 47 Kg Sabu di Riau

Anggota TNI Terlibat Peredaran Narkoba, Ditangkap Bawa 47 Kg Sabu di Riau

Riau | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:24 WIB

Sebut Rezim 'Gagal Total', Koalisi SADAR Beberkan 5 Rapor Merah Prabowo di Tugu Proklamasi

Sebut Rezim 'Gagal Total', Koalisi SADAR Beberkan 5 Rapor Merah Prabowo di Tugu Proklamasi

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:24 WIB

Emil Audero Bikin Debut Eks Kapten Real Madrid Berantakan: Dani Carvajal Cs Mati Kutu

Emil Audero Bikin Debut Eks Kapten Real Madrid Berantakan: Dani Carvajal Cs Mati Kutu

Bola | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:24 WIB

Kisah Leo Raja Hutan yang Arogan

Kisah Leo Raja Hutan yang Arogan

Your Say | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:23 WIB

Haruskah Menunggu Semuanya Krisis Dulu untuk Menyadari Ada yang Salah?

Haruskah Menunggu Semuanya Krisis Dulu untuk Menyadari Ada yang Salah?

Your Say | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Pekerja Tewas di Tambang Emas Ilegal Madina

Pekerja Tewas di Tambang Emas Ilegal Madina

Sumut | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:19 WIB

Darah Depok Tak Cukup! Bomber Dinamo Bucuresti Dicoret John Herdman dari Daftar Naturalisasi

Darah Depok Tak Cukup! Bomber Dinamo Bucuresti Dicoret John Herdman dari Daftar Naturalisasi

Bola | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:15 WIB

Saham Bisa Jadi Jaminan Kredit, Bagaimana Bank Mengelola Risikonya?

Saham Bisa Jadi Jaminan Kredit, Bagaimana Bank Mengelola Risikonya?

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:11 WIB

Mahasiswa ULM Ungkap Kondisi Terkini Karhutla di Kalimantan, Jarak Pandang Hanya 2 Meter

Mahasiswa ULM Ungkap Kondisi Terkini Karhutla di Kalimantan, Jarak Pandang Hanya 2 Meter

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:10 WIB

Bruntusan atau Makin Berminyak? Ini Ciri-Ciri Moisturizer Tidak Cocok di Kulitmu

Bruntusan atau Makin Berminyak? Ini Ciri-Ciri Moisturizer Tidak Cocok di Kulitmu

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:10 WIB

×