Paradoks Kabinet Prabowo: Presiden Minta Efisiensi, Kementerian Ramai-ramai Minta Tambah Anggaran

Chandra Iswinarno, Novian Ardiansyah

Jum'at, 11 Juli 2025 | 15:45 WIB
Paradoks Kabinet Prabowo: Presiden Minta Efisiensi, Kementerian Ramai-ramai Minta Tambah Anggaran
Presiden Prabowo Subianto. Pada awal tahun 2025, Presiden Prabowo memberlakukan efisiensi kepada semua kementerian dan lembaga. Belakangan, kebijakan efisiensi tersebut kembali dipertanyakan. (ist)

Suara.com - Direktur Eksekutif Center for Indonesian Governance and Development Policy (CIGDEP), Cusdiawan, menilai langkah kementerian dan lembaga yang meminta penambahan anggaran perlu dipertanyakan secara kritis.

Menurutnya, permintaan tersebut harus diuji, terutama mengenai sejauh mana hal itu sejalan dengan kebijakan efisiensi yang selama ini digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Hal yang dikhawatirkan adalah publik akan membaca hal tersebut sebagai inkonsistensi atau paradoks dari pemerintahan Pak Prabowo," kata Cusdiawan kepada Suara.com, Jumat (11/7/2025).

Menurut pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Pamulang ini, publik tentu akan mempertanyakan keselarasan wacana efisiensi antara Prabowo dengan jajaran di Kabinet Merah Putih.

"Publik pun akan bertanya, sejauh mana wacana efisiensi yang ada dalam kepala Pak Prabowo selaku kepala pemerintahan selaras dengan yang ada di kepala para jajarannya."

"Jangan sampai menimbulkan persepsi publik bahwa wacana efisiensi presiden yang berimplikasi pada pemotongan anggaran, justru menimbulkan ketidakpuasan bagi para jajarannya," tutur Cusdiawan.

Cusdiawan berpandangan, fenomena ini bisa menciptakan kesan negatif bagi pemerintahan Prabowo, terutama di tengah sorotan publik mengenai salah satu kelemahan kepemimpinan saat ini, yakni soal pola komunikasi dan koordinasi.

Dari sisi kebijakan publik, ia menyoroti perlunya transparansi di balik permintaan tambahan anggaran tersebut.

Publik, kata dia, perlu mempertanyakan sejauh mana permintaan kenaikan anggaran itu telah melalui perencanaan teknokratis yang matang dan sejalan dengan rencana pembangunan pemerintah, termasuk program-program prioritas Prabowo.

baca juga

"Permintaan kenaikan anggaran ini lahir dari kepentingan-kepentingan sempit, seperti ego-sektoral masing-masing kementrian atau lembaga. Mengingat sudah 'naluriah' juga di tengah sumber daya yang terbatas, masing-masing kementrian atau lembaga akan berupaya memaksimalkan sumber daya yang terbatas tersebut terutama menyoal alokasinya," tutur Cusdiawan.

Ia mengemukakan permintaan untuk penambahan anggaran, di tengah efisiensi hingga terdampak pada masayrakat, harus disertai dengan rasionalisasi dan transparansi.

"Sebab itulah memerlukan rasionalisasi yang jelas, selain transparansi, termasuk dalam proses pembahasan permintaan kenaikan anggaran tersebut. Terlebih lagi, ada sejumlah studi yang menyebut bahwa pola kartel umum terjadi dalam politik-pemerintahan di Indonesia," katanya.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah kementerian dan lembaga menggelar rapat dengan sejumlah komisi DPR di Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

Dalam rapat tersebut, kementerian dan lembaga mengajukan penambahan anggaran untuk berbagai macam kebutuhan. 

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memberikan keterangan kepada awak media usai menggelar rapat bersama Komisi I DPR terkait pengajuan penambahan anggaran pertahanan. [Suara.com/Bagaskara]
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memberikan keterangan kepada awak media usai menggelar rapat bersama Komisi I DPR terkait pengajuan penambahan anggaran pertahanan hingga Rp184 triliun. [Suara.com/Bagaskara]

Padahal sebelumnya, Presiden Prabowo mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2025 (Inpres 1/2025) pada 22 Januari 2025.

Dalam poin kedua huruf a dijelaskan, perlu adanya pemangkasan anggaran yang dilakukan oleh sejumlah kementerian/lembaga sebesar Rp 256,1 triliun.

Sementara itu, pada poin ketiga angka 2 dijelaskan bahwa pemotongan anggaran belanja meliputi belanja operasional dan non operasional yang sekurang-kurangnya terdiri dari belanja operasional perkantoran, belanja pemeliharaan, perjalanan dinas, bantuan pemerintah, pembangunan infrastruktur, serta pengadaan peralatan dan mesin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Darurat Pertahanan? Menhan Minta Tambahan Anggaran Rp184 Triliun, Ini Kata Pengamat!

Indonesia Darurat Pertahanan? Menhan Minta Tambahan Anggaran Rp184 Triliun, Ini Kata Pengamat!

News | Jum'at, 11 Juli 2025 | 13:05 WIB

Rp335 Triliun untuk MBG, BGN Ungkap Rincian Anggaran Jumbo di DPR

Rp335 Triliun untuk MBG, BGN Ungkap Rincian Anggaran Jumbo di DPR

News | Kamis, 10 Juli 2025 | 21:06 WIB

Belum Ada Dana Pencegahan dan Penindakan Korupsi, KPK Minta Tambahan Anggaran Rp1,34 T Buat 2026

Belum Ada Dana Pencegahan dan Penindakan Korupsi, KPK Minta Tambahan Anggaran Rp1,34 T Buat 2026

News | Kamis, 10 Juli 2025 | 14:17 WIB

Terkini

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:40 WIB

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:28 WIB

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:15 WIB

×