Studi: Krisis Air Global Meningkat, Cadangan Air Tanah Dunia Terus Menyusut

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 28 Juli 2025 | 10:13 WIB
Studi: Krisis Air Global Meningkat, Cadangan Air Tanah Dunia Terus Menyusut
Potret ilustrasi kekeringan di Bantul. (Pixabay/GregReese)

Suara.com - Penelitian terbaru dari satelit GRACE milik Amerika Serikat dan Jerman menunjukkan bahwa daratan bumi sedang mengalami kekeringan berskala benua, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fenomena yang disebut sebagai continental mega-drying ini telah menyebabkan penyusutan air tanah secara besar-besaran, gagal panen, hingga berkontribusi pada naiknya permukaan laut.

Peneliti utama dari Arizona State University, Jay Famiglietti, mengatakan bahwa 75 persen populasi dunia kini tinggal di negara yang kehilangan air tawar.

“Kontinen kita mengering, ketersediaan air menyusut, dan kenaikan muka laut kian cepat,” ujarnya, menekankan bahwa kondisi ini adalah momen genting yang membutuhkan aksi dari seluruh pihak.

Ilustrasi Kekeringan, musim kemarau, El Nino 2023 (Freepik)
Ilustrasi Kekeringan, musim kemarau, El Nino 2023 (Freepik)

Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 68 persen dari air yang hilang berasal dari air tanah. Sumber ini selama ini dianggap sebagai “tabungan kuno” bumi, yang seharusnya digunakan hanya dalam situasi darurat.

Namun, menurut peneliti Hrishikesh Chandanpurkar, air tanah justru digunakan secara rutin setiap hari. “Alih-alih digunakan saat krisis, kita malah mengurasnya terus-menerus,” katanya.

Empat kawasan kini masuk ke dalam zona mega drying, termasuk Amerika Utara bagian barat daya dan Meksiko yang mencakup kota-kota besar seperti Los Angeles, hingga wilayah pertanian utama. Alaska dan Kanada utara pun terkena dampak akibat pencairan gletser dan permafrost.

Sementara itu, wilayah Rusia utara dan kawasan MENA-Eurasia, dari Maroko hingga India dan Tiongkok utara, juga menunjukkan tren kehilangan air yang ekstrem. Beberapa kota besar seperti Paris dan Beijing termasuk di dalamnya. Ironisnya, satu-satunya wilayah yang justru menjadi lebih basah adalah kawasan tropis, suatu tren yang tidak diprediksi oleh model iklim global IPCC.

Namun, studi ini tak hanya menyampaikan peringatan, tapi juga menawarkan solusi. Famiglietti menegaskan bahwa krisis ini bisa diperlambat dengan pengelolaan air tanah yang lebih bijak, kerja sama lintas negara, serta kebijakan berbasis data.

Selain memperlambat kenaikan muka laut, kebijakan air yang berkelanjutan juga akan membantu menjaga ketahanan pangan dan stabilitas sosial.

Beberapa langkah awal yang direkomendasikan antara lain adalah mengurangi eksploitasi air tanah selama musim hujan dan menggunakan teknologi infiltrasi untuk menyimpan cadangan air.

Pelibatan komunitas lokal juga menjadi kunci dalam pengawasan dan perlindungan sumber air.

Krisis air ini tidak hanya akan berdampak pada negara-negara kering. Kelangkaan air bisa memicu krisis pangan global, inflasi, migrasi, hingga konflik sosial. Memahami skala masalah dan menyebarluaskan informasi berbasis sains menjadi bagian penting dari solusi.

“Ini bukan hanya urusan negara-negara kering. Ini tentang masa depan air untuk generasi mendatang,” tutup Famiglietti.

Penelitian ini akan menjadi fondasi bagi laporan terbaru Bank Dunia tentang krisis air global dan strategi mitigasinya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Konsep PES hingga Clean Label, Solusi Ketahanan Iklim dan Ekonomi Sabu Raijua

Dari Konsep PES hingga Clean Label, Solusi Ketahanan Iklim dan Ekonomi Sabu Raijua

Lifestyle | Sabtu, 26 Juli 2025 | 10:55 WIB

Syifa Hadju Ungkap Cara Simpel Jaga Lingkungan: Mulai dari Kebiasaan Kecil!

Syifa Hadju Ungkap Cara Simpel Jaga Lingkungan: Mulai dari Kebiasaan Kecil!

Lifestyle | Jum'at, 25 Juli 2025 | 14:36 WIB

Studi: Disinformasi Cuaca Ekstrem di Medsos Hambat Penyelamatan Nyawa Korban Terdampak

Studi: Disinformasi Cuaca Ekstrem di Medsos Hambat Penyelamatan Nyawa Korban Terdampak

News | Jum'at, 25 Juli 2025 | 13:30 WIB

Terkini

101 Terduga Perusuh May Day Dipulangkan, Polda Metro Jaya Kini Buru Aktor Intelektual dan Pendana

101 Terduga Perusuh May Day Dipulangkan, Polda Metro Jaya Kini Buru Aktor Intelektual dan Pendana

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:29 WIB

Kedok Pekerja Migran, Imigrasi Gagalkan Keberangkatan 42 Calon Haji Ilegal di Bandara Soetta

Kedok Pekerja Migran, Imigrasi Gagalkan Keberangkatan 42 Calon Haji Ilegal di Bandara Soetta

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17 WIB

Irma Suryani Ingatkan DPR Tak Ulangi Kesalahan UU Cipta Kerja dalam Pembahasan RUU Ketenagakerjaan

Irma Suryani Ingatkan DPR Tak Ulangi Kesalahan UU Cipta Kerja dalam Pembahasan RUU Ketenagakerjaan

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:35 WIB

Iran Kirim Proposal Negosiasi Baru, Trump Malah Siapkan Pasukan Darat di Selat Hormuz

Iran Kirim Proposal Negosiasi Baru, Trump Malah Siapkan Pasukan Darat di Selat Hormuz

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 09:57 WIB

Biaya Perang Iran Tembus Rp1600 T, Warga AS Bayar Mahal: Rp8 Juta per Bulan per Rumah

Biaya Perang Iran Tembus Rp1600 T, Warga AS Bayar Mahal: Rp8 Juta per Bulan per Rumah

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 09:52 WIB

Pentagon Dituding Bohong! Biaya Perang AS vs Iran Tembus Rp1.600 Triliun

Pentagon Dituding Bohong! Biaya Perang AS vs Iran Tembus Rp1.600 Triliun

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 09:45 WIB

Balas Ancaman Trump, Panglima Militer Tegaskan Jari Tentara Iran Sudah di Pelatuk

Balas Ancaman Trump, Panglima Militer Tegaskan Jari Tentara Iran Sudah di Pelatuk

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 09:32 WIB

Geger! Hacker 15 Tahun Bobol Basis Data Nasional, Pemerintah Prancis Kelimpungan

Geger! Hacker 15 Tahun Bobol Basis Data Nasional, Pemerintah Prancis Kelimpungan

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 09:25 WIB

Sempat Bikin Geger, Kini Amien Rais Hapus Video Fitnah yang Singgung Prabowo dan Seskab Teddy

Sempat Bikin Geger, Kini Amien Rais Hapus Video Fitnah yang Singgung Prabowo dan Seskab Teddy

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 09:24 WIB

Modus Dua Sejoli Jadi Atlet NBA, Tipu Banyak Korban hingga Raup Rp56 Miliar

Modus Dua Sejoli Jadi Atlet NBA, Tipu Banyak Korban hingga Raup Rp56 Miliar

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 09:18 WIB