Studi: Disinformasi Cuaca Ekstrem di Medsos Hambat Penyelamatan Nyawa Korban Terdampak

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 25 Juli 2025 | 13:30 WIB
Studi: Disinformasi Cuaca Ekstrem di Medsos Hambat Penyelamatan Nyawa Korban Terdampak
Ilustrasi media sosial (Pexels.com/Picjumbo.com)

Suara.com - Sebuah studi terbaru memperingatkan bahwa teori konspirasi yang menyebar saat bencana iklim bisa menghambat penyelamatan korban.

Saat badai atau kebakaran hutan melanda, justru misinformasi yang lebih dulu viral di media sosial, mengalahkan peringatan resmi yang bisa menyelamatkan nyawa.

Menurut laporan Centre for Countering Digital Hate (CCDH), unggahan yang menyesatkan tersebar luas di platform seperti Meta, X, dan YouTube saat bencana alam seperti kebakaran hutan di Los Angeles serta Badai Helene dan Milton terjadi.

“Penyebaran konspirasi iklim yang cepat di internet bukanlah suatu kebetulan,” tegas CCDH.

Seorang nelayan mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]
Seorang nelayan mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]

Mereka menemukan bahwa hampir seluruh unggahan menyesatkan tidak diberi label cek fakta atau peringatan oleh platform terkait.

CCDH menganalisis 300 unggahan viral yang berisi klaim palsu tentang penyebab cuaca ekstrem, bantuan darurat, dan respon bencana.

Di antara klaim tersebut: badai disebut sebagai "senjata rekayasa geografis" dan kebakaran dikaitkan dengan "laser pemerintah".

CEO CCDH, Imran Ahmed,menuduh platform-platform tersebut sengaja membiarkan kebohongan menyebar karena menguntungkan secara finansial.

“Sementara keluarga berduka dan petugas tanggap darurat menyisir puing-puing setelah bencana iklim di Texas dan California, perusahaan media sosial tanpa malu-malu mengeksploitasi bencana ini untuk keuntungan,” katanya.

baca juga

Yang lebih mengkhawatirkan, ujar peneliti, sebagian besar unggahan menyesatkan justru datang dari pengguna yang terverifikasi dan punya jangkauan luas. Beberapa bahkan melampaui jangkauan informasi resmi dari lembaga seperti FEMA atau media terpercaya seperti LA Times.

“Disinformasi iklim merenggut nyawa. Dan seiring cuaca ekstrem semakin sering, kebohongan ini akan makin berbahaya,” kata Sam Bright dari organisasi DeSmog.

Penelitian ini menekankan perlunya tanggung jawab lebih besar dari perusahaan teknologi untuk tidak memberi ruang pada konten berbahaya yang bisa mengorbankan keselamatan publik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketika Karnaval Jadi Derita! Sound Horeg dan Dampak Nyata untuk Kesehatan

Ketika Karnaval Jadi Derita! Sound Horeg dan Dampak Nyata untuk Kesehatan

Your Say | Jum'at, 25 Juli 2025 | 09:52 WIB

Mahkamah Internasional Sebut Krisis Iklim Bisa Jadi Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Mengapa?

Mahkamah Internasional Sebut Krisis Iklim Bisa Jadi Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Mengapa?

News | Kamis, 24 Juli 2025 | 12:24 WIB

Warga Kota Sumbang Emisi Karbon Tertinggi, IESR: Transportasi dan Gaya Hidup Jadi Pemicu

Warga Kota Sumbang Emisi Karbon Tertinggi, IESR: Transportasi dan Gaya Hidup Jadi Pemicu

News | Kamis, 24 Juli 2025 | 11:00 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×