Suara.com - Baca 10 detik
- Ustadz Felix Siauw melontarkan kritik keras kepada pejabat negara yang dinilainya sering melakukan blunder komunikasi.
- Felix menyoroti dua pernyataan fatal: menyebut gerakan 17+8 tuntutan rakyat sebagai “sebagian kecil”
- Menutup kritiknya, Felix menyebut pejabat banyak gaya justru menunjukkan banyak tekanan
Sebuah kritik pedas dari Ustadz Felix Siauw kini viral dan menggema di media sosial, merangkum frustrasi jutaan rakyat Indonesia. Kali ini Felix Siauw "menyemprot" habis-habisan kualitas komunikasi para pejabat negara yang menurutnya terus-menerus melakukan blunder.
Puncaknya, ia melontarkan sebuah usulan yang sangat menohok namun diamini banyak orang yakni "Siapapun yang diminta untuk mengurusi urusan rakyat, mending belajar ngomong dulu," ujar Felix.
1. Akar Masalah: Omongan yang "Sangat Menyebalkan"
Felix Siauw memulai kritiknya dengan sebuah pertanyaan retoris yang getir yakni "Susah ya jadi warga negara Indonesia?"
Alasannya, kata dia, karena publik tidak bisa menilai kinerja teknis pejabat, namun sangat bisa merasakan betapa "menyebalkannya" ucapan mereka.
"Karena kita gak tahu hebat ekonomi (atau tidak)... Apa yang sudah keluar dari mulut sangat menyebalkan," ujar Felix.
Menurutnya, inilah blunder fundamental para pejabat yakni mereka gagal berkomunikasi dengan empati, dan justru seringkali meremehkan dan merendahkan kecerdasan rakyat.
2. Blunder Meremehkan Gerakan 18+7 Sebagai "Sebagian Kecil"
Felix menyoroti pernyataan seorang pejabat yang menyebut gerakan "17+8 Tuntutan Rakyat" sebagai gerakan "sebagian kecil" atau "sedikit rakyat Indonesia".
Bagi Felix, ini adalah logika yang sangat berbahaya.
"(Artinya) semua yang kita buat, ialah tidak penting karena dilakukan oleh sebagian kecil." katanya.
Ia mempertanyakan, apakah pemerintah baru akan mendengar jika gerakan ini sudah menjadi sangat besar? "
Lalu Felix mempertanyakan jika gerakan dilakukan lebih besar yakni "berarti sudah telat?" sindir Felix.
Ini adalah tuduhan bahwa pemerintah hanya mau mendengar jika sudah terdesak, bukan karena benar-benar peduli.