Paranoia Kekuasaan dalam Sastra: Ketika Narasi Kiri Menjadi Teror dan Tabu di Era Orde Baru

Dwi Bowo Raharjo

Selasa, 30 September 2025 | 10:00 WIB
Paranoia Kekuasaan dalam Sastra: Ketika Narasi Kiri Menjadi Teror dan Tabu di Era Orde Baru
Buku berjudul “Di Bawah Lentera Merah” tulisan aktivis Soe Hok Gie. (tangkap layar/Ist)
baca 10 detik
  • Kondisi sosial-ekonomi masyarakat di era kolonial, seperti yang digambarkan Gie dalam bukunya, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ideologi kiri.
  • PKI pernah menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia, dengan jutaan pendukung dari kaum buruh dan tani.
  • Hendi Jo menjelaskan bahwa kelompok-kelompok kiri, sebagai respons, sering kali membuat media tandingan atau bahkan media bawah tanah.

Suara.com - September selalu menjadi bulan yang kerap berkaitan ingatan sejarah kelam. Di balik narasi tunggal yang selama puluhan tahun mendominasi ruang publik tentang Gerakan 30 September 1965 (G30S), tersimpan sejumlah sudut pandang lain yang dibungkam, salah satunya melalui pelarangan peredaran sastra.

Sejumlah buku dilarang beredar di Indonesia karena dianggap kontroversial atau berpotensi mengganggu ketertiban. Pada massa orde baru, pemerintah memiliki kontrol ketat terhadap informasi dan publikasi.

Berikut deretan buku yang sempat dilarang beredar di Indonesia di antaranya: Di Bawah Lentera Merah, Tetralogi Buru, Demokrasi Kita, Benturan NU PKI 1948-1965, Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978, dan Indonesia di Bawah Sepatu Lars.

SEPERTI pada sebuah karya berjudul Di Bawah Lentera Merah tulisan aktivis Soe Hok Gie, yang hadir menjadi bukti bagaimana sejarah bisa dianggap bagaikan hal yang tabu, sekaligus mengancam kekuasaan.

Sebelumnya, pada periode 1920-an hingga 1960-an, Indonesia merupakan sebuah panggung besar pertarungan ideologi.

Bagi masyarakat, setelah tahun kemerdekaan adalah era penuh harapan, namun saat yang sama, ketegangan muncul hingga memuncak pada tragedi 1965.

Kondisi sosial-ekonomi masyarakat di era kolonial, seperti yang digambarkan Gie dalam bukunya, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ideologi kiri.

Janji adanya kesetaraan dan keberpihakan pada kaum tertindas menjadi “gula-gula” yang menarik simpati rakyat.

Itulah konteks historis yang menjelaskan mengapa Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia, dengan jutaan pendukung dari kaum buruh dan tani.

baca juga

“Kemudian menjadikan situasi yang ditangkap oleh rakyat yang pada saat itu memiliki harapan untuk menjadi lebih baik, terutama dari sisi sosial ekonomi, karena pemikiran-pemikiran kiri kan sangat mengagumkan keberpihakan kepada kelas tertindas dan sangat memberikan peluang kepada para proletarian untuk ada masuk dalam kekuasaan,” jelas pengamat sejarah, Hendi Jo kepada Suara.com dikutip Selasa (30/9/2025).

Dalam tulisan Gie itu, kekuatan PKI pada masa awal juga tidak hanya datang dari janji ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya berakulturasi dengan perlawanan lokal.

Menurut Hendi Jo, terjadi sebuah “sinergisme kebetulan” antara komunisme dengan gerakan Saminisme, sebuah gaya hidup spiritual dan moralitas lokal.

Keduanya bertemu pada satu titik tujuan yang sama yaitu keluar dari keterjajahan.

“Menurut saya aliansi antara Komunisme dengan Saminisme itu sebetulnya adalah sebuah aliansi yang berjalan secara ‘kebetulan’,” ucap Hendi Jo.

Ia menambahkan bahwa meski agendanya sama, Saminisme pada dasarnya lebih bersifat spiritual dibandingkan komunisme.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Download Film G30S/PKI Asli Tanpa Revisi Dimana? Ini Link dan Maknanya di Era Sekarang

Download Film G30S/PKI Asli Tanpa Revisi Dimana? Ini Link dan Maknanya di Era Sekarang

Entertainment | Senin, 29 September 2025 | 15:52 WIB

Misteri 'Kremlin' Jakarta Pusat: Kisah Rumah Penyiksaan Sadis Era Orba yang Ditakuti Aktivis

Misteri 'Kremlin' Jakarta Pusat: Kisah Rumah Penyiksaan Sadis Era Orba yang Ditakuti Aktivis

News | Minggu, 28 September 2025 | 12:24 WIB

AGRA Desak Penghentian Proyek Transmigrasi ala Orde Baru: Haruskah Membuka Hutan dan Belukar Lagi?

AGRA Desak Penghentian Proyek Transmigrasi ala Orde Baru: Haruskah Membuka Hutan dan Belukar Lagi?

News | Selasa, 23 September 2025 | 11:33 WIB

Ketika DN Aidit dan Petinggi PKI Khusyuk Berdoa...

Ketika DN Aidit dan Petinggi PKI Khusyuk Berdoa...

News | Senin, 22 September 2025 | 17:13 WIB

Terkini

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:57 WIB

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:45 WIB

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:57 WIB

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

News | Rabu, 30 September 2026 | 23:12 WIB

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 22:41 WIB

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Sumsel | Rabu, 30 September 2026 | 22:34 WIB

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 22:20 WIB

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

News | Rabu, 30 September 2026 | 22:15 WIB

×