Paradoks Kebahagiaan Rakyat: Ketika Tawa Menutupi Pemiskinan yang Diciptakan Negara

Rabu, 07 Januari 2026 | 12:20 WIB
Paradoks Kebahagiaan Rakyat: Ketika Tawa Menutupi Pemiskinan yang Diciptakan Negara
Ilustrasi pemukiman padat penduduk di kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Survei GFS Harvard menunjukkan Indonesia bahagia meski belum sejahtera, memicu reaksi haru Presiden Prabowo.
  • Sosiolog UGM menilai kebahagiaan adaptif bisa menghambat kesadaran kritis terhadap ketidakadilan struktural oleh oligarki.
  • Kebahagiaan tersebut berpotensi melegitimasi status quo dan menutupi masalah pemiskinan struktural sistematis di masyarakat.

"Hanya saja jangan sampai membiarkan para elit oligarki itu semakin menjarah kita, sehingga masyarakat juga harus menuntut haknya. Tidak boleh masyarakat ini menyangkal hak-hak dasar sebagai warga, mereka harus berani nuntut," katanya menambahkan.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI