- LSI Denny JA merilis survei Oktober 2025 menunjukkan 66,1% masyarakat menolak Pilkada dipilih oleh DPRD.
- Penolakan wacana Pilkada DPRD bersifat masif dan meluas melintasi wilayah, gender, serta strata ekonomi.
- Generasi muda, khususnya Gen Z (84%), adalah kelompok usia paling dominan menolak mekanisme Pilkada via DPRD.
Suara.com - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei opini publik terbaru terkait wacana perubahan mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia secara tegas menolak jika kepala daerah dipilih oleh DPRD dan tetap menginginkan pemilihan secara langsung.
Peneliti Senior LSI Denny JA, Ardian Sopa, mengungkapkan bahwa sebanyak 66,1 persen responden menyatakan kurang setuju, tidak setuju, atau tidak setuju sama sekali dengan wacana tersebut.
Sementara itu, hanya 28,6 persen responden yang menyatakan setuju atau sangat setuju.
"Dari data ini kita bisa lihat bahwa di atas 65 persen menolak Pilkada DPRD, angka ini bukan angka yang kecil, tetapi merupakan angka yang masif juga sistemik," kata Ardian saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Rabu (7/1/2025).
Ia menjelaskan bahwa dalam survei opini publik, angka penolakan yang melewati ambang batas 60 persen menunjukkan adanya dampak yang besar dan luas.
Penolakan ini pun bersifat menyeluruh, lintas gender, serta lintas wilayah.
"Kemudian baik yang di desa maupun yang di kota pun menolak. Isu ini tidak hanya milik masyarakat di perkotaan, tapi masyarakat desa juga," jelasnya.
Selain faktor geografis, survei ini memotret penolakan dari berbagai strata ekonomi.
Baca Juga: Sejak Kapan Gaji Minimum Jadi Benefit? Potret Buram Dunia Kerja Kita
Penolakan muncul baik dari kalangan "wong cilik" atau masyarakat berpenghasilan rendah, maupun masyarakat berpenghasilan tinggi.
Menariknya, kelompok masyarakat dengan pendapatan lebih tinggi justru menjadi pihak yang paling keras menolak wacana Pilkada lewat DPRD tersebut.
Dari sisi demografi usia, generasi muda menjadi kelompok yang paling vokal menolak.
![Ilustrasi pilkada langsung. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/30/78675-ilustrasi-pilkada-langsung-ist.jpg)
Data LSI Denny JA mencatat Gen Z berada di urutan pertama dengan 84 persen penolakan, disusul Milenial (71,4 persen), Generasi X (60 persen), dan Baby Boomer (63 persen).
"Secara sistemik tidak hanya di sebuah generasi saja penolakan ini berlangsung, tapi di semua generasi yang ada, mayoritas menolak Pilkada DPRD," katanya.
Untuk diketahui, survei ini dilakukan pada periode 10-19 Oktober 2025.