- Delapan pekerja tambang emas ilegal di Sarolangun, Jambi, tewas tertimbun longsor Selasa (20/1/2025) akibat hujan deras.
- Total terdapat 12 korban dalam insiden di Dusun Mengkadai; delapan meninggal dan empat lainnya selamat terluka.
- Tim gabungan berhasil mengevakuasi delapan jenazah yang telah diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga korban.
Suara.com - Kilau emas yang menjanjikan kekayaan berakhir menjadi tragedi memilukan di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Sebanyak delapan orang pekerja penambangan emas tanpa izin (PETI) ditemukan tewas setelah terkubur hidup-hidup oleh longsoran tanah yang runtuh secara tiba-tiba pada Selasa (20/1/2025).
Sebuah operasi evakuasi besar yang melibatkan tim gabungan dari Kepolisian Daerah Jambi, TNI, dan unsur terkait lainnya berhasil mengangkat jasad para korban dari lubang galian yang menjadi kuburan massal mereka. Suasana duka menyelimuti proses evakuasi yang berlangsung dramatis.
Kepala Bidang Humas Polda Jambi, Komisaris Besar Polisi Erlan Munaji, mengonfirmasi bahwa seluruh korban meninggal dunia telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.
"Saat ini delapan orang korban meninggal dunia telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan," ujar Erlan Munaji di Jambi, Rabu (21/1/2025).
Insiden maut ini terjadi di sebuah lokasi tambang ilegal yang terletak di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun.
Peristiwa nahas tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, saat para penambang sedang sibuk beraktivitas di dalam lubang galian.
Penyebab utama longsor diduga kuat akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari.
Hujan deras membuat struktur tanah di area tambang menjadi labil dan jenuh air, hingga akhirnya runtuh dan menimbun para pekerja yang berada tepat di bawahnya tanpa sempat menyelamatkan diri.
Lokasi tambang yang berada di atas lahan milik warga setempat itu menjadi saksi bisu perjuangan para penambang yang mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi.
Baca Juga: Polisi Berhasil Tangkap Sindikat Penambangan Ilegal di Taman Nasional Gunung Merapi
Total, bencana ini memakan 12 orang korban. Selain delapan orang yang meninggal dunia, empat penambang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan berhasil diselamatkan.
Dari delapan korban jiwa, enam di antaranya telah teridentifikasi, yaitu Kandar (40), Tabri (46), Sila (22), Oto (40), Iril (50), dan Shirun (35). Sementara itu, dua jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut oleh tim DVI Polri.
Operasi kemanusiaan ini bukanlah pekerjaan mudah. Sebanyak 123 personel gabungan dikerahkan untuk menyisir lokasi, mengevakuasi korban, dan memastikan tidak ada lagi korban lain yang masih terperangkap di dalam timbunan tanah.
Hingga kini, aparat keamanan masih berjaga di lokasi untuk melakukan pembersihan sekaligus memulai proses penyelidikan terkait aktivitas ilegal yang memakan korban jiwa tersebut.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses pencarian dan pemantauan masih terus berlanjut untuk memastikan situasi benar-benar aman dan tidak ada korban tambahan.
"Kita masih menunggu perkembangan lebih lanjut, apakah ada korban lainnya dalam kejadian tersebut,” kata Erlan Munaji sebagaimana dilansir Antara.